Surudi bangun sebelum azan subuh, seperti biasa, tapi kali ini ia tidak buru-buru menyambar plastik berisi kopi hitam dari dapur. Ia duduk saja di tepi dipan, memandang punggung tangannya yang berurat dan kasar, lalu ke jendela yang masih gelap. Ada rasa nyeri tumpul di pinggang yang tidak pernah benar-benar hilang sejak Tikungan Seribu, dan matanya, kalau ia jujur pada diri sendiri, sudah butuh waktu lebih lama untuk fokus pada spion setiap kali ia menoleh.
Tuminah sudah bangun lebih dulu, menyalakan kompor, dan ketika Surudi keluar dari kamar, istrinya hanya menatapnya sebentar sebelum berkata, "Kamu sudah putuskan?"
Surudi tidak menjawab langsung. Ia mengambil gelas, menuang air, meminumnya perlahan. "Satu lagi," katanya akhirnya. "Satu rute, terakhir. Bukan yang jauh. Bukan yang berat."
"Ke mana?"
"Cuma nganter barang punya Pak Hasan ke Kalianda. Dua jam jalan, dua jam pulang. Bukan rute maut." Ia tersenyum kecil, getir. "Aku cuma... mau lewat jalan-jalan lama sekali lagi. Sebelum aku kasih kemudi ini ke orang lain."
Tuminah tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, lalu membungkus nasi dan ikan asin dalam daun pisang seperti yang selalu ia lakukan sejak dua puluh lima tahun lalu, seolah ritual itu sendiri adalah caranya merestui.
Di pelataran, Hino tua itu berdiri dengan cat yang mengelupas di sana-sini, bak yang penyok bekas pertarungan di Tikungan Seribu belum genap sebulan lalu. Surudi mengelilinginya, memeriksa ban, memeriksa selang, memeriksa apa yang tiga puluh tahun lalu diajarkan gurunya sendiri — seorang sopir tua yang sudah lama mati, yang namanya nyaris tak pernah ia sebut lagi karena tak ada yang bertanya.
Topan datang dengan motor pinjaman, helm masih di tangan, wajahnya sudah tidak lagi seperti anak yang dulu naik ke kabin dengan mata takut-takut. Ia sudah menemukan kabar keluarganya — seorang paman di Menggala yang menyimpan surat-surat lama — dan sejak itu caranya berjalan pun berubah, lebih tegak, seperti orang yang tahu ke mana ia pulang kalau semua ini berakhir.
"Bapak beneran mau nyetir sendiri?" tanya Topan, sedikit heran karena biasanya sekarang giliran dialah yang pegang kemudi di tanjakan-tanjakan berat.
"Berangkat, iya," kata Surudi. "Pulang, kamu yang bawa."
Topan mengernyit, tapi tidak membantah. Ia naik ke kabin, duduk di kursi kenek, dan untuk sesaat semua terasa seperti tahun pertama mereka — kabin sempit, bau solar dan keringat, radio yang setengah rusak menyiarkan dangdut patah-patah.
Jalan ke Kalianda tidak seberapa. Tapi bagi Surudi, tiap kilometer terasa seperti membuka lipatan waktu. Ia melewati warung tempat dulu Sarki pertama kali memperingatkannya soal Codet, sekarang berganti pemilik, catnya baru, tak ada lagi bekas ketegangan di halamannya. Ia melewati pompa bensin kecil yang dulu menolak melayani truknya, sekarang antre normal seperti pompa mana pun, karena nama Codet sudah jadi cerita yang diceritakan pelan-pelan di warung kopi, bukan ancaman yang menggantung di udara.
"Bapak kenapa diam terus?" tanya Topan, setelah lima belas menit tak ada yang bicara.
Surudi menggerakkan tangan di setir, merasakan getar mesin lewat telapaknya, getar yang sudah ia hafal seperti detak jantung sendiri. "Aku lagi pamitan," katanya pelan. "Sama jalan ini."
"Bapak nggak berhenti nyetir total, kan? Cuma nggak ambil rute jauh lagi."
"Itu yang aku bilang ke diri sendiri," kata Surudi, tersenyum tipis. "Tapi aku tahu diri. Umur segini, mata segini, kalau sekali lagi ada rute yang manggil ongkos gede, aku bakal tergoda lagi. Makanya aku mau selesaikan ini sekarang, mumpung aku masih bisa milih sendiri, bukan dipilihkan sama tubuh yang tiba-tiba nggak nurut di tengah jalan."
Ia berhenti sejenak di tikungan sebelum turunan menuju Kalianda, tikungan kecil yang tidak seberapa dibanding Sitinjau atau Tikungan Seribu, tapi tikungan pertama yang ia lewati sendiri dua puluh lima tahun silam, waktu masih jadi kenek magang seperti Topan sekarang. Ia menepi sebentar, mematikan mesin, turun, berdiri memandang lembah di bawah yang berkabut tipis oleh udara pagi.
"Dulu aku takut banget lewat sini," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Topan yang ikut turun dan berdiri di sampingnya. "Guru aku bilang, jalan nggak pernah minta kita menang. Jalan cuma minta kita jujur — sama kemampuan sendiri, sama batas sendiri. Yang sombong, jalan yang hajar. Yang jujur, jalan yang antar pulang."
Topan diam, mendengarkan seperti dulu ia mendengarkan pelajaran tentang rem angin dan tanda bahaya.
"Aku menang lawan Codet bukan karena aku kuat," lanjut Surudi. "Aku menang karena aku kenal jalan ini lebih baik dari dia. Itu aja modalku. Bukan otot, bukan berani mati. Cuma... hafal." Ia menoleh pada Topan. "Sekarang giliran kamu yang hafal. Dan kamu bakal lebih hafal dari aku, karena kamu masih punya waktu buat belajar yang aku udah nggak punya."
Ketika mereka kembali ke kabin setelah bongkar muatan di gudang kecil Kalianda, Surudi berjalan memutar ke sisi kenek, membuka pintunya sendiri, lalu berdiri menunggu.
Topan menatapnya, tak yakin. "Bapak serius?"
"Kunci di kontak," kata Surudi. "Aku udah cukup lama pegang setir ini. Sekarang aku mau duduk di sini, liatin kamu bawa pulang."
Topan naik ke kursi sopir dengan tangan yang sedikit gemetar, menyalakan mesin, menyesuaikan spion seperti yang diajarkan bertahun-tahun lalu. Surudi duduk di kursi kenek, meletakkan kedua tangan di atas paha, dan untuk pertama kali sejak dua puluh lima tahun, ia membiarkan jalan di depan bergerak tanpa harus jadi orang yang mengendalikannya.
Ia tidak merasa kalah. Ia merasa, untuk pertama kalinya sejak Tikungan Seribu, bahwa harga dirinya tidak pernah tergantung pada siapa yang pegang setir — tapi pada kejujurannya sendiri terhadap jalan, dan pada keberaniannya sekarang untuk berhenti tepat sebelum jalan itu yang memaksanya berhenti.