Pagi datang perlahan ke kontrakan di pinggir Bandar Lampung, seperti orang yang tak buru-buru pulang. Surudi duduk di bangku kayu depan rumah, menyeruput kopi yang sudah setengah dingin, memandangi Hino tuanya yang terparkir miring di halaman tanah. Bak truk itu kosong sekarang. Terpalnya dilipat rapi di bawah kolong. Mesin yang dulu batuk di setiap tanjakan kini diam, dingin, seperti tubuh tua yang akhirnya diizinkan tidur. Di bemper depan, karat baru menjalar di sela cat yang mengelupas. Surudi menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tak menghitung apa-apa. Tidak angsuran. Tidak tenggat. Tidak jarak ke pos berikutnya.
"Bapak dari tadi ngeliatin truk terus," kata Tuminah, meletakkan piring pisang goreng di sebelahnya. Rambutnya sudah lebih banyak putih daripada setahun lalu, tapi bahunya tegak, tidak lagi condong seperti orang yang selalu menunggu kabar buruk. "Kayak masih ada yang perlu dibenerin."
"Nggak ada." Surudi mengambil satu pisang. "Cuma... nengok aja. Kayak nengok kawan lama."
Tuminah duduk di sebelahnya. Mereka tak bicara. Dari dapur terdengar suara anak bungsu mereka menyanyi kecil sambil menyetrika seragam SMA-nya, seragam yang dua bulan lalu masih jadi bayangan yang menakutkan di kepala Surudi. Sekarang kain abu-abu itu tergantung di kawat jemuran, kering ditiup angin, biasa saja. Hal-hal besar, pikir Surudi, akhirnya jadi hal-hal kecil kalau kau berhasil melewatinya.
Menjelang siang, Topan datang naik motor bebek yang knalpotnya berisik. Anak muda itu turun sambil membawa bungkusan, kikuk seperti biasa, meski sekarang ada sesuatu yang lain di caranya berdiri—lebih tegak, lebih yakin, punggung yang sudah tahu rasanya memegang kemudi tronton menembus tanjakan sendirian.
"Pak Surudi," katanya, "saya bawa oleh-oleh dari Menggala. Emping. Kata orang di sana buat yang jago nyupir."
"Yang jago nyupir itu kamu sekarang," Surudi menyahut, tapi ia menerima bungkusan itu. "Gimana adikmu?"
Wajah Topan melunak. "Udah ketemu, Pak. Beneran ketemu. Tinggal di Jambi sama bibi. Sehat." Ia menunduk sebentar, seolah malu pada rasa lega yang terlalu besar. "Saya mau bawa dia ke sini kapan-kapan. Biar kenal sama Bapak sama Bu Tuminah."
Surudi mengangguk pelan. Ia tak berkata banyak. Ada hal-hal yang lebih baik dijawab dengan diam yang penuh daripada kata yang tumpah.
Sore itu, seperti sudah jadi kebiasaan baru, dua sopir muda datang. Mereka bekas anak buah rute yang sekarang bebas dari bayang-bayang, sopir-sopir yang dulu setor pada Codet dan kini bisa isi solar di pengecer mana saja tanpa menunduk. Mereka membawa termos kopi dan duduk melingkar di sekitar kolong Hino, dan Surudi—tanpa direncanakan—mulai bercerita. Bukan cerita kepahlawanan. Ia benci itu. Ia bercerita tentang jalan.
"Sitinjau itu bukan soal tenaga mesin," katanya, menggambar garis di tanah dengan ranting. "Truk kalian yang paling perkasa pun bisa mati di situ kalau kalian nggak dengerin dia. Rasain putarannya. Tanjakan panjang, kalian jangan serakah sama gigi. Kuncinya bukan cepat sampai atas, tapi sampai atas dengan mesin yang masih napas."
Topan mendengarkan seperti murid yang paling tekun, meski ia sudah tahu semua itu, sudah membuktikannya dengan tangannya sendiri di malam ketika tubuh Surudi ambruk dan kabut menutup segalanya. Salah satu sopir muda bertanya tentang Tikungan Seribu, dan sejenak lingkaran itu senyap. Surudi memandang jauh, ke arah yang bukan halaman, ke arah kabut yang cuma ada di kepalanya.
"Tikungan Seribu," katanya akhirnya, pelan, "ngajarin saya satu hal. Jalan itu nggak bisa dibeli. Nggak sama Codet, nggak sama siapa-siapa. Yang bisa kalian punya cuma pengetahuan tentang dia. Dan itu—" ia mengetuk pelipisnya dengan jari yang kapalan, "—nggak bisa diambil orang. Nggak bisa dibakar. Nggak bisa disetorin."
Ia tak menyebut nama Ujang. Tak menyebut Sarki yang kini berjalan dengan tongkat, pulih perlahan di rumah keponakannya, kadang mampir mengomel soal onderdil. Tak menyebut malam-malam ketika ia hampir menjual truk ini dan lari. Nama-nama itu ada di dalam dadanya, berat dan diam, seperti muatan yang tak pernah benar-benar dibongkar. Ia membiarkannya di sana. Itu ongkos yang harus dibayar untuk bisa duduk di bangku ini, di sore ini, dengan kepala tegak.
Ketika matahari mulai turun, sopir-sopir muda pamit. Topan yang terakhir. Ia berdiri di dekat pintu Hino, menyentuh kemudi yang catnya sudah pudar dipegang tangan Surudi selama dua puluh lima tahun.
"Pak," katanya ragu, "Bapak masih mau narik lagi?"
Surudi tersenyum tipis. Tubuhnya tahu jawabannya sebelum mulutnya. Lututnya yang ngilu tiap subuh, matanya yang kabur di kilometer-kilometer terakhir. Tapi ada satu rute pendek lagi yang ingin ia ambil, satu tikungan terakhir untuk pamit pada jalan yang membesarkannya, dan setelah itu ia akan menyerahkan kemudi. Bukan kalah. Memilih.
"Satu kali lagi," katanya. "Habis itu giliranmu yang jaga jalan. Jalan tetap keras, Pan. Nggak pernah bener-bener bersih. Selalu ada yang mau nguasain selang, nguasain tikungan. Tapi selama masih ada sopir yang hafal jalannya sendiri—" ia menepuk bahu anak muda itu, "—mereka nggak akan pernah bener-bener menang."
Topan mengangguk, matanya sedikit berkaca. Ia menyalakan motornya dan pergi, suara knalpotnya menjauh, ditelan senja.
Surudi tinggal sendiri di halaman bersama Hino tuanya. Dari dalam rumah, Tuminah memanggil untuk makan. Anak bungsunya tertawa entah karena apa. Surudi berdiri, menepuk debu dari celananya, dan menatap truk itu sekali lagi—besi tua yang membawanya melewati Sitinjau, melewati Tikungan Seribu, melewati kabut yang hampir menelannya. Ia meletakkan telapak tangannya di kap mesin yang dingin, seperti mengucap terima kasih pada seekor kuda yang lelah.
Lalu ia masuk. Jalan akan masih ada besok pagi, keras seperti biasa. Tapi malam ini ia pulang, lewat jalan yang sama, dengan kepala yang tak lagi ia tundukkan pada siapa pun.