Pagi itu tangan kanannya tidak mau membuka.
Surudi terbangun di ranjang kontrakan Bandar Lampung dengan jari-jari yang mengepal sendiri, kaku seperti kawat yang lama dibiarkan di luar hujan. Ia menatapnya cukup lama sebelum memaksa membuka satu per satu, dan tiap ruas mengeluarkan bunyi kecil yang membuatnya meringis. Dua puluh lima tahun memegang setir, dan baru pagi ini tangan itu seolah menagih semua yang pernah ia perah darinya. Ia duduk di tepi ranjang. Kamar masih gelap. Dari luar terdengar ayam tetangga, suara yang dulu berarti berangkat, kini cuma berarti pagi.
Ia berdiri, dan lututnya menjawab dengan cara yang sama. Ada denyut tumpul di pinggang yang menjalar ke paha kiri, sisa dari berjam-jam duduk menembus Tikungan Seribu waktu itu, sisa dari seluruh hidup yang dihabiskan dalam posisi yang sama. Surudi memegang kusen pintu, menunggu tubuhnya memutuskan apakah hari ini ia diizinkan berjalan tegak.
"Sudah bangun?" Tuminah muncul dari dapur, membawa kopi yang uapnya tipis. Ia meletakkannya di meja tanpa banyak bicara, tapi matanya menangkap tangan Surudi yang masih ia genggam-genggamkan. Perempuan itu tidak bertanya. Ia hanya duduk di kursi seberang dan menunggu.
"Tanganku," kata Surudi akhirnya, karena ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan. Dulu ia menyembunyikan segalanya dari Tuminah—surat leasing, ancaman Codet, malam-malam di mana ia hampir mati di jembatan. Ia sudah lelah menyembunyikan. "Kaku bangun, tak bisa buka. Kayak bukan tanganku."
Tuminah mengangguk pelan, seolah kabar itu sudah lama ia tunggu dan cuma menanti diucapkan. "Sudah kubilang, waktu kau pulang dari Tikungan Seribu, jalanmu miring."
"Aku capek saja waktu itu."
"Itu tiga minggu lalu, Pak." Suaranya tidak menuduh. Cuma menaruh fakta di atas meja seperti ia menaruh kopi tadi. "Orang capek, tiga hari sembuh. Kau tidak."
Surudi meraih cangkir dengan tangan kiri. Ia sadar melakukannya—memilih tangan yang menurut. Kopi masih terlalu panas, tapi ia menyesapnya juga, membiarkan panasnya jadi hal lain yang bisa ia rasakan selain tubuhnya sendiri.
Di dinding tergantung kalender bengkel, dan di bawahnya, terselip surat leasing yang terakhir—yang stempelnya "LUNAS". Ia sudah membacanya berkali-kali sampai hafal letak tiap huruf, dan tiap kali ada rasa yang ganjil: seharusnya ia merasa menang, tapi yang datang hanya sepi. Hino masih miliknya. Tak ada lagi yang menariknya. Tak ada lagi Codet menunggu di tiap tikungan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, jalan di depannya kosong dari ancaman—dan justru itu yang membuatnya bingung harus berbuat apa.
"Herman menelepon kemarin," kata Surudi. "Eh, bukan Herman. Orang yang gantikan tempatnya. Ada muatan ke Jambi, ongkos biasa, jalan sekarang aman katanya. Dia minta aku."
Tuminah tidak menjawab langsung. Ia menyeka meja yang sudah bersih. "Kau mau ambil?"
"Dulu aku tak akan mikir dua kali."
"Dulu."
Kata itu menggantung. Surudi memandang keluar jendela, ke arah Hino yang terparkir di pekarangan sempit, moncongnya menghadap jalan seperti selalu, seakan menunggu diberi arah. Truk itu sudah ditambal di sana-sini, catnya kusam, tapi mesinnya—setelah Topan membetulkannya minggu lalu—masih berdenyut seperti jantung tua yang keras kepala. Truk itu lebih siap berangkat daripada dirinya sendiri, dan itulah yang menohok Surudi. Selama ini ia mengira ia dan Hino menua bersama-sama. Ternyata besi bisa ditambal, diganti onderdilnya. Tubuh tidak.
"Ujang mati di jalan itu," kata Surudi, pelan. "Sarki hampir. Dua puluh lima tahun aku selamat karena tanganku cepat, mataku awas. Sekarang tanganku sendiri tak mau buka pagi-pagi." Ia menoleh ke istrinya. "Kalau microsleep itu datang lagi, dan tak ada Topan di sebelahku—"
"Jangan diteruskan." Untuk pertama kali suara Tuminah bergetar, tapi ia menahannya, menegakkannya kembali seperti orang menegakkan tiang yang mau roboh. Perempuan yang dulu mengantar keberangkatannya dengan firasat buruk dan uang receh buat solar cadangan itu kini duduk tegak. "Aku sudah cukup lama menunggu di rumah, menerka-nerka kau pulang atau tidak. Aku tak akan menyuruhmu berhenti. Itu jalanmu, bukan jalanku. Tapi kalau kau tanya aku takut atau tidak—aku takut, Pak. Tiap kali."
Surudi meletakkan cangkirnya. Ada sesuatu yang longgar di dadanya, seperti simpul tali yang selama ini menahannya perlahan dilepas. Bukan Tuminah yang menyuruhnya berhenti. Bukan pula tubuhnya, meski tubuh itu berteriak paling keras. Yang membuatnya menimbang justru kalimat perempuan itu: *itu jalanmu, bukan jalanku.* Selama ini ia mengira berhenti berarti kalah—menyerah pada usia, pada Codet, pada leasing. Tapi Codet sudah tumbang. Leasing sudah lunas. Anak bungsunya sudah masuk sekolah dengan tenang. Tak ada lagi yang mengharuskannya di jalan. Ia tetap di sana hanya karena ia tak tahu jadi apa kalau bukan sopir.
"Anak kita," kata Surudi. "Dia bilang apa soal aku?"
Tuminah tersenyum tipis. "Dia bangga ayahnya sopir. Tapi kemarin dia tanya, kenapa Bapak jalannya diseret. Aku bilang capek." Ia diam sebentar. "Anak sekarang tak bisa dibohongi lama-lama."
Surudi mengangguk. Ia berdiri lagi, kali ini lebih pelan, membiarkan lututnya menyesuaikan diri. Ia berjalan ke jendela dan menatap Hino lama-lama, cara seorang menatap kawan yang sudah terlalu banyak menempuh jalan bersamanya untuk sekadar ditinggalkan tanpa pamit. Ia belum memutuskan apa-apa. Tapi untuk pertama kalinya, kata *berhenti* tidak lagi terasa seperti kekalahan di mulutnya. Terasa seperti tikungan lain yang belum pernah ia lewati—dan ia, yang menghafal ribuan tikungan sepanjang lintas Sumatra, sadar bahwa yang satu ini tak ada di peta mana pun.
"Muatan ke Jambi itu," katanya, tanpa berbalik. "Aku belum jawab."
"Tak usah dijawab hari ini," kata Tuminah. Ia bangkit, menghampiri, dan meletakkan tangannya di punggung suaminya—punggung yang mulai membungkuk itu. "Kopimu keburu dingin."
Surudi tidak beranjak dari jendela. Di luar, ayam berkokok lagi, dan untuk kali pertama dalam hidupnya, ia mendengarnya tanpa merasa harus segera pergi.