Pagi itu bau solar masih menempel di tangan Surudi ketika Topan datang dengan langkah yang tak biasa. Anak muda itu tak lagi menunduk seperti dulu, tak lagi memainkan ujung baju di depan orang tua. Ia berdiri di samping Hino yang terparkir di halaman bengkel Menggala, memegang selembar kertas lipat yang sudah lecek di sudut-sudutnya, dan matanya menyimpan sesuatu yang belum pernah Surudi lihat di sana.
"Pak," katanya. Suaranya tertahan. "Aku ketemu."
Surudi meletakkan kunci roda ke atas terpal. Ia tahu tanpa harus bertanya. Selama berbulan-bulan kenek itu duduk di sebelahnya, menyimpan nama-nama yang tak pernah ia ucapkan, mencari di setiap warung dan pos jaga jejak keluarga yang hilang setelah menyeberang Codet. Sekarang Codet sudah tumbang, jaringnya terurai, dan mulut-mulut yang dulu terkunci mulai berani bicara.
"Di Kayuagung," lanjut Topan. Ia membuka kertas itu dengan hati-hati, seolah takut angin merenggutnya. "Ada tukang tambal ban tua. Dia kenal adikku. Katanya mereka dibawa jauh, tapi masih hidup. Masih hidup, Pak." Ia mengulang dua kali, seakan dengan mengulang ia meyakinkan dirinya sendiri.
Surudi menghela napas panjang. Ada sesuatu yang mengendur di dadanya, tapi juga sesuatu yang mengencang. Ia mengenali bentuk kabar itu — kabar yang membuka pintu sekaligus menutup satu babak.
"Kau mau ke sana," kata Surudi. Bukan pertanyaan.
"Aku harus, Pak."
Surudi mengangguk pelan. Ia mengelap tangannya ke celana yang sudah keras oleh oli. Di kejauhan, klakson tronton lain menggeram, dunia jalan yang tak pernah benar-benar diam. "Berapa umurmu sekarang?"
"Dua puluh tiga."
"Umur segitu aku sudah pegang kemudi sendiri." Surudi memandang Hino tuanya, catnya yang mengelupas, kaca spion yang retak dan direkat lakban di sudut. "Bukan truk sebagus ini. Colt diesel butut, remnya blong kalau turunan panjang. Tapi dia ngajarin aku lebih banyak dari sekolah mana pun."
Topan diam. Ia tahu ada sesuatu yang datang.
"Kau sudah bisa nyopir," kata Surudi. "Malam di Sitinjau itu buktinya. Waktu aku ambruk, kau yang bawa Hino naik tanjakan, dituntun suaraku doang. Yang kayak gitu nggak semua sopir bisa." Ia berhenti, memilih kata seperti memilih gigi di tanjakan. "Tapi bisa nyopir sama jadi sopir itu dua hal beda, Topan."
"Bedanya apa, Pak?"
Surudi bersandar ke bak. Ia menunjuk jalan lintas di balik pagar bengkel, garis aspal yang berkilat oleh sisa embun. "Yang bisa nyopir cuma tahu narik gas sama injak rem. Yang jadi sopir tahu kapan harus berhenti." Ia menatap kenek itu lurus-lurus. "Aku hampir mati beberapa kali bukan gara-gara nggak bisa bawa truk. Gara-gara aku terlalu keras kepala buat ngaku badanku capek. Kau lihat sendiri mataku waktu itu."
Topan menunduk sebentar. Ia ingat detik ketika kepala Surudi terkulai di kemudi, ketika ia menyambar setir dari tangan orang tua itu.
"Jalan itu nggak ke mana-mana, dia sabar nungguin," lanjut Surudi. "Tapi dia juga nggak kenal ampun sama yang sombong. Kau hafal tikungan sampai luar kepala pun, kalau kau nekat waktu badan minta istirahat, dia bakal makan kau. Aku sudah lihat terlalu banyak yang dimakan." Suaranya melembut di ujung. Ada nama yang tak ia sebut — Ujang, Sarki — tapi keduanya tahu nama-nama itu menggantung di udara.
Ia mengambil kunci roda tadi dan menyodorkannya ke Topan. Bukan pemberian yang besar, cuma sebatang besi berat yang licin oleh keringat bertahun-tahun. Tapi Topan menerimanya seperti menerima sesuatu yang tak ternilai.
"Kalau kau mau cari keluargamu sampai ketemu, kau butuh penghasilan sendiri. Nggak bisa selamanya jadi kenek." Surudi mulai menjelaskan, dan nadanya berubah — bukan lagi nada orang tua yang menasihati, melainkan nada sopir yang menurunkan ilmu. "Pertama, jangan pernah percaya penuh sama jarum solarmu. Selalu itung dari kilometer, dari jarak pom ke pom. Jarum bisa bohong, jarak nggak."
Topan mengangguk cepat, menyerap tiap kata.
"Kedua, kenali bunyi mesinmu kayak kau kenal napas istrimu nanti. Batuk sedikit aja, kau harus tahu itu solar kotor atau ada yang lebih parah. Hino ini sempat mau mati di Tikungan Seribu bukan karena aku nggak sayang dia — karena aku telat dengerin dia ngeluh."
"Ketiga?"
Surudi tersenyum tipis, tipis sekali. "Ketiga, jangan pernah anggap remeh jalan yang kelihatannya gampang. Yang bunuh sopir bukan tikungan tajam yang bikin kau waspada. Yang bunuh itu jalan lurus panjang yang bikin kau ngantuk." Ia menepuk bahu Topan, keras, cara orang jalanan menyampaikan sayang. "Sisanya kau pelajari sendiri di kemudi. Nggak ada yang bisa ngajarin jalan selain jalan itu sendiri."
Topan menggenggam kunci roda itu erat. Matanya basah, tapi ia tak membiarkan air itu jatuh. "Aku nggak akan lupa, Pak."
"Lupa nggak apa-apa," kata Surudi. "Asal jangan sombong. Sopir sombong itu yang paling cepat pulang duluan." Ia memandang anak muda di depannya, dan untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri dua puluh lima tahun yang lalu — kurus, keras kepala, lapar akan jalan. Bedanya, Topan punya sesuatu yang dulu tak ia punya: seseorang yang menuntunnya sebelum jalan sempat menghukumnya.
"Pergi ke Kayuagung," kata Surudi akhirnya. "Cari adikmu. Dan kalau kau sudah pegang kemudi sendiri nanti, angkut siapa pun yang butuh diangkut, jangan pilih-pilih upah. Jalan ini keras karena orang-orangnya pelit. Jangan jadi salah satunya."
Topan mengangkat kunci roda itu, seakan berjanji dengannya. Surudi berbalik ke arah Hino, meletakkan telapak tangannya di bak yang panas oleh matahari pagi. Di belakangnya ia mendengar langkah anak muda itu menjauh — langkah yang mantap, langkah orang yang tahu ke mana ia akan pergi. Debu terangkat sedikit di halaman, lalu jatuh lagi. Jalan lintas di balik pagar tetap membentang, sabar seperti biasa, menunggu tangan-tangan baru yang cukup berani dan cukup rendah hati untuk melewatinya.