Solar itu masih menempel di kuku Surudi ketika ia memarkir Hino di halaman klinik kecil di pinggir Menggala. Ia mematikan mesin dan sejenak membiarkan tangannya di kemudi, mendengar tik-tik logam yang mendingin. Tiga hari sudah sejak ia turun dari Tikungan Seribu, dan tubuhnya masih belum percaya bahwa jalan itu sudah selesai.
Di dalam, Sarki terbaring di ranjang besi yang catnya terkelupas. Perban melingkari dadanya dan satu lengannya digantung. Wajahnya tirus, tapi matanya masih matanya yang dulu — mata sopir yang terbiasa mengukur jarak dalam kabut.
"Kau bau solar," kata Sarki, suaranya serak. "Sudah mandi belum kau, Rud?"
"Belum sempat." Surudi menarik bangku kayu, duduknya berderit. "Kau sendiri bau obat merah. Impas kita."
Sarki tertawa pendek, lalu meringis karena tawanya menarik luka. Surudi ingin menahan lengannya, tapi ia tahu Sarki paling benci dikasihani. Ia biarkan saja kawan tuanya itu bergulat dengan sakitnya sendiri, seperti mereka dulu membiarkan satu sama lain bergulat dengan tanjakan.
"Aku dengar," Sarki berkata setelah napasnya rata, "pos di Kayuagung sudah kosong. Orang-orang Codet kabur semalam. Yang jaga selang solar di simpang Jambi juga sudah tak ada."
Surudi mengangguk. Ia sudah mendengarnya dari Topan, yang mendengarnya dari sopir yang mendengarnya dari sopir lain — begitulah kabar berjalan di lintas ini, dari kabin ke kabin, lebih cepat dari truk mana pun. Sejak Bang Codet tumbang di kabut, jaringnya terurai simpul demi simpul. Gimbal tak kelihatan lagi batang hidungnya. Pengecer yang dulu menolak melayaninya kini menelepon menawarkan diri, suaranya manis dibuat-buat, seolah tak pernah menutup selang di depan mukanya.
"Mereka pikir kau raja baru sekarang," kata Sarki, setengah menggoda.
"Aku bukan raja apa-apa." Surudi mengeluarkan bungkus rokok, menimbangnya, lalu memasukkannya lagi ke saku karena ingat ini klinik. "Aku cuma sopir tua yang kebetulan hafal satu turunan."
Di luar, terdengar deru beberapa truk lewat. Dulu suara itu berarti setoran, upeti, mata yang mencatat siapa yang belum bayar. Kini cuma suara truk. Truk yang lewat karena mau lewat. Surudi mendengarkannya sebentar dan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya — bukan kemenangan, lebih mirip lega yang tak berani penuh.
"Kau kelihatan tidak senang," kata Sarki.
"Aku senang." Surudi menatap jendela, ke arah lintas yang berdebu di kejauhan. "Cuma aku sudah dua puluh lima tahun di jalan ini, Sarki. Aku pernah lihat jalan tanpa Codet. Sebelum Codet ada nama lain. Sebelum nama itu ada nama lain lagi. Selalu ada yang berpikir jalan ini bisa dipunyai."
Sarki diam. Ia tahu apa yang dimaksud Surudi karena ia sama tuanya, sama lelahnya.
"Sekarang selang dibuka, harga solar turun, sopir muda bersorak," lanjut Surudi. "Tapi tahun depan, atau tahun depannya lagi, akan ada anak muda yang lihat betapa gampangnya menakut-nakuti orang yang cuma mau cari makan. Dan ia akan mengumpulkan orang. Dan mulai lagi." Ia menghela napas. "Jalan tak pernah benar-benar bersih. Cuma sedang kosong sebentar."
"Kau bicara begitu di depan sopir muda, kau dikira mematahkan semangat," kata Sarki.
"Makanya aku bilangnya ke kau." Surudi menyeringai tipis. "Kau kan sudah pesimis dari sananya."
Sarki tertawa lagi, kali ini lebih hati-hati. Untuk sesaat mereka cuma dua orang tua yang menertawakan hal yang sebenarnya tidak lucu, cara orang-orang jalanan menertawakan hampir semua hal supaya tidak menangis.
Pintu terbuka. Topan masuk membawa dua bungkus nasi dan sebotol air. Ia meletakkannya di meja kecil, canggung seperti biasa di ruangan sakit.
"Om Sarki sudah bisa makan sendiri?" tanyanya.
"Belum bisa nyetir, tapi bisa makan," jawab Sarki. "Yang penting itu."
Topan tersenyum, lalu menoleh pada Surudi. "Om, tadi di warung depan ada yang tanya-tanya. Sopir dari Padang. Mereka mau bikin arisan solar, katanya. Patungan beli tangki bareng biar tak bergantung pengecer. Mereka minta Om ikut mikir."
Surudi menatap keneknya. Gudang solar bersama yang dulu mereka impikan sudah dibakar Codet dan menewaskan harapan sekaligus. Kini ada yang berani memimpikannya lagi. Ia tak tahu apakah itu bagus atau cuma lingkaran yang berputar. Mungkin dua-duanya.
"Bilang aku ikut mikir," kata Surudi akhirnya. "Tapi bilang juga: bikin yang kecil dulu. Yang gampang dibela kalau ada yang mau bakar. Jangan bikin yang besar dan cantik. Yang besar dan cantik itu yang paling gampang jadi sasaran."
Topan mengangguk, mencatat kata-kata itu di kepalanya seperti ia dulu mencatat cara membaca rem angin.
Surudi bangkit. Lututnya berbunyi. Ia menepuk bahu Sarki yang sehat, pelan.
"Cepat pulih. Aku butuh orang yang bisa disuruh pesimis."
"Pulanglah dulu ke Bandar Lampung," kata Sarki. "Tuminah pasti sudah hafal betul suara mesinmu. Jangan bikin dia menunggu lagi."
Kata-kata itu menyentuh sesuatu. Surudi mengangguk tanpa menjawab, karena kalau ia menjawab suaranya mungkin retak, dan ia belum mau retak di depan Sarki.
Di halaman, matahari sore menimpa kap Hino yang kusam. Truk itu tua, batuk, penuh tambalan seadanya — sama seperti tuannya. Tapi ia masih di sini. Masih miliknya. Surudi berdiri sejenak memandanginya, lalu memandang lintas yang membentang ke selatan, jalan yang sama yang telah merenggut Ujang dan hampir merenggut Sarki, jalan yang tak akan pernah berterima kasih pada siapa pun yang menaklukkannya.
Ia tak menang atas jalan itu. Tak ada yang pernah menang. Ia cuma diberi izin lewat satu kali lagi.
Surudi naik ke kabin, memutar kunci. Mesin menyalak, tersendat, lalu hidup. Ia dengarkan iramanya — tak sempurna, tapi jalan. Cukup untuk membawanya pulang.
Ia masukkan gigi, dan Hino tua itu bergulir keluar dari halaman klinik, menuju jalan yang untuk sementara tak bertuan.