Debu jalan masih menempel di kemeja Surudi ketika ia berdiri di depan kantor leasing, map plastik cokelat terjepit di ketiaknya. Kantor itu tak pernah berubah sejak pertama kali ia menandatangani kontrak Hino delapan tahun lalu—dinding catnya mengelupas di sudut, kipas angin di langit-langit berputar goyah, dan bau kertas lembap yang selalu membuatnya merasa kecil setiap kali masuk.
Kali ini ia tidak masuk sebagai orang yang menunduk.
"Bapak Surudi, ya? Yang nomor kontrak 0417?" Petugas di meja depan, perempuan muda berjilbab dengan name tag "Nia", membolak-balik map tanpa menatapnya lama—rutinitas yang sudah ribuan kali ia lakukan untuk ribuan sopir lain yang datang menunda, memohon, atau menghilang.
"Iya. Saya mau lunasi." Surudi meletakkan map plastiknya di meja, membukanya sendiri karena tangannya sudah tak sabar. Di dalamnya, uang yang ia hitung tiga kali semalam di kabin sebelum tidur, dibungkus karet gelang per sepuluh lembar, rapi seperti barang paling berharga yang pernah ia bawa—lebih berharga dari muatan apa pun yang pernah singgah di bak trontonnya.
Nia berhenti membolak-balik kertas. Ia mendongak. "Lunasi... semua tunggakan?"
"Lima bulan. Sekalian pokok yang masih jalan, kalau bisa saya tutup total." Suara Surudi datar, tapi ada getar kecil di baris terakhir yang tak bisa ia sembunyikan.
Petugas itu memanggil rekannya, seorang laki-laki berkacamata yang biasa menangani kasus penarikan unit. Nama itu—Pak Yusril—yang selama ini muncul di surat-surat peringatan, yang tanda tangannya selalu diikuti kalimat "penarikan akan dilaksanakan apabila". Surudi mengenal tulisan tangannya lebih baik daripada wajahnya.
"Bapak yang truknya sempat masuk daftar prioritas penarikan bulan lalu?" Yusril memandangnya dengan tatapan menilai, seperti memastikan orang di depannya bukan orang yang salah alamat.
"Iya, Pak. Saya yang itu."
Ada jeda. Surudi merasakan jeda itu memanjang, seperti jeda di tanjakan Sitinjau ketika mesin menahan napas sebelum menanjak atau menyerah. Ia sudah biasa dengan jeda semacam ini—jeda sebelum keputusan yang menentukan apakah ia pulang membawa truk atau pulang dengan tangan kosong.
Yusril menghitung uang itu di depannya, lembar demi lembar, mesin penghitung berdenging pelan. Surudi menatap tumpukan yang menipis di satu sisi meja dan menebal di sisi lain—hasil dari tiap kilometer yang ia tempuh sejak trip pertama untuk PO Bahari, hasil dari tanjakan yang nyaris merenggut nyawanya, hasil dari solar oplosan yang membuat mesin batuk, hasil dari Ujang yang tak pernah pulang, hasil dari Sarki yang masih terbaring di ranjang rumah sakit dengan kaki dibalut gips.
Uang ini bukan sekadar uang. Tapi ia tak mengucapkannya keras-keras. Cukup ia yang tahu.
"Pas," kata Yusril akhirnya, meletakkan kertas rekap di depan Surudi. "Lima tunggakan, plus pelunasan sisa pokok. Nol rupiah lagi kewajiban Bapak ke kami."
Kata-kata itu terdengar sederhana, hampir datar, seperti membaca angka cuaca. Tapi bagi Surudi, kalimat itu adalah tikungan terakhir dari jalan yang sudah ia tempuh bertahun-tahun sambil menahan napas.
"BPKB-nya?" tanyanya, suaranya nyaris berbisik, takut kalau bertanya terlalu keras jawabannya berubah.
"Kami proses tiga hari kerja. Nanti kami kirim ke alamat, atau Bapak bisa ambil langsung."
"Saya ambil langsung," kata Surudi cepat. "Truk itu... truk itu satu-satunya yang saya punya."
Yusril mengangguk, entah paham entah tidak seberapa besar arti kalimat itu. Ia menyodorkan kwitansi rangkap tiga, dan Surudi menandatanganinya dengan tangan yang biasa memegang setir sepanjang malam, sekarang gemetar memegang pena.
Ia keluar dari kantor itu dengan map yang kini kosong—bukan kosong karena kalah, tapi kosong karena selesai. Matahari sore memantul di kap depan Hino yang terparkir di pinggir jalan, catnya kusam, deknya penyok di beberapa titik bekas hadangan di Tikungan Seribu, tapi truk itu berdiri di sana, miliknya, sepenuhnya miliknya, tanpa bayang-bayang surat peringatan lagi.
Ia menepuk kap mesin itu seperti menepuk pundak kawan lama.
***
Malam itu, ketika Surudi memarkir Hino di depan kontrakan Bandar Lampung, Tuminah sudah berdiri di ambang pintu, seolah tahu dari suara mesin yang mendekat bahwa ini bukan malam biasa.
"Lunas," kata Surudi, hanya satu kata itu, sambil menyerahkan kwitansi yang sudah lecek karena berkali-kali ia lipat dan buka sepanjang perjalanan pulang, memastikan angka di sana tidak berubah jadi mimpi.
Tuminah membaca kertas itu di bawah lampu teras yang temaram, matanya menelusuri tiap baris seakan mencari jebakan yang biasa muncul di surat-surat semacam ini. Tapi tak ada jebakan. Hanya angka nol di kolom "sisa tunggakan".
Ia tidak berkata apa-apa dulu. Bahunya bergetar, lalu air mata jatuh, bukan tangis yang keras, tapi tangis yang lama tertahan, tangis yang menyimpan setiap malam ia berbohong pada penagih di telepon, setiap kali ia menjual perhiasan diam-diam, setiap kali ia menahan wajah tegar di depan anak-anak sementara dalam hatinya berkecamuk.
"Akhirnya," bisiknya, memeluk lengan Surudi yang masih bau solar dan debu jalan. "Akhirnya, Pak."
Dari dalam rumah, anak bungsu keluar, masih memakai seragam SMP terakhirnya yang beberapa minggu lagi akan diganti seragam baru. Ia menatap kedua orang tuanya bergantian, belum sepenuhnya paham kenapa ibunya menangis sambil tersenyum.
"Ayah, jadi... aku bisa daftar ulang? Nggak nunggak lagi?"
Surudi berjongkok sedikit, menyamakan tinggi dengan anaknya, tangan besarnya yang kasar menangkup pipi anak itu.
"Bisa. Sekolah terus. Jangan mikirin uang lagi, itu urusan Ayah."
Anak itu tersenyum lebar, senyum yang belum pernah Surudi lihat selega itu sejak surat penerimaan SMA datang berbulan-bulan lalu, dibayangi surat leasing yang datang di hari yang sama.
Surudi berdiri, memandang Hino yang terparkir di bawah temaram lampu jalan, penyok dan lecet, tapi utuh, tapi miliknya. Ada bagian dari dadanya yang lega. Tapi ada bagian lain, yang lebih dalam, yang mengingat Ujang yang tak pernah merasakan malam seperti ini, dan Sarki yang masih berjuang di ranjang rumah sakit demi memberi Surudi malam ini.
Lega dan pilu berbaur jadi satu rasa yang tak punya nama, dan Surudi membiarkannya begitu saja, berdiri di teras rumahnya sendiri, sambil istrinya masih menggenggam kwitansi seolah kertas itu bisa terbang kalau dilepas.