Gudang itu berdiri di ujung jalan tanah yang berdebu, jauh dari lintas utama, dengan atap seng yang sudah karatan di sana-sini. Surudi memundurkan Hino perlahan ke mulut pintu, mendengarkan rem angin mendesis untuk kesekian ribu kali dalam hidupnya. Suara itu, yang dulu terdengar biasa saja, pagi ini terdengar seperti napas panjang seseorang yang baru saja lolos dari maut.
Dua orang keluar dari dalam gudang. Yang paling tua, berbadan gempal dengan kaus oblong basah keringat, melangkah ke jendela kabin dan mendongak. Ia tidak banyak bicara. Matanya menyapu terpal, menghitung, menaksir. "Kamu yang bawa dari lintas?" tanyanya, suaranya rendah.
"Saya," kata Surudi. Ia turun. Sendinya berderit. Topan sudah lebih dulu melompat dari sisi lain, membuka ikatan terpal dengan tangan yang masih gemetar entah karena lelah atau karena belum percaya mereka sampai.
Bongkar dimulai. Kuli-kuli gudang mengangkat karung dan peti satu per satu, memanggulnya masuk. Surudi berdiri di dekat bak, mengawasi tiap barang turun. Ia tidak menawarkan bantuan; tubuhnya tak sanggup lagi. Ia hanya menghitung dalam hati, seperti yang biasa ia lakukan sepanjang dua puluh lima tahun — bukan menghitung barang, tapi menghitung berapa banyak yang sudah ia bayar untuk sampai ke titik ini.
Bau solar menempel di segala hal. Di tangannya, di kausnya, di dinding gudang, di karung-karung yang berpindah. Bau itu tak pernah lepas darinya, dan pagi ini pun tidak.
"Semua utuh," kata si pembeli akhirnya, setelah peti terakhir turun. Ia mengangguk pada Surudi, setengah heran. "Saya kira di jalan bakal berkurang. Orang-orang bilang lintas lagi panas."
Surudi tidak menjawab soal panasnya lintas. Ia hanya berkata, "Barangnya utuh. Itu yang penting."
Lelaki itu masuk ke ruang kecil di pojok gudang. Surudi mengikutinya, Topan menunggu di luar, bersandar di roda depan Hino yang masih hangat. Di dalam ruangan berdebu itu, di atas meja yang catnya sudah mengelupas, si pembeli menghitung uang. Lembar demi lembar, ditumpuk, diikat karet. Surudi memperhatikan jari-jari itu bergerak, dan untuk pertama kalinya sejak berhari-hari, ia mengizinkan dirinya bernapas lega.
Ketika tumpukan itu didorong ke arahnya, Surudi tidak langsung mengambilnya. Ia menatapnya sejenak, seperti orang yang takut angka itu akan berubah kalau ia menyentuhnya. Lalu ia hitung ulang, pelan-pelan, dengan jempol yang kaku.
Cukup. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, kata itu terasa nyata. Cukup untuk menutup lima angsuran leasing yang menggantung di lehernya seperti tali. Cukup untuk membuat surat peringatan itu berhenti datang. Cukup untuk membuat Hino tetap miliknya, dan bukan milik orang berdasi di kantor yang tak pernah menyetir sehari pun.
"Terima kasih," kata Surudi, dan suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
Ia keluar dari gudang membawa bungkusan itu di dalam tas pinggangnya, ditekan rapat ke perut seolah takut jalan akan merenggutnya lagi. Topan menegakkan badan begitu melihatnya.
"Beres, Pak?" tanya kenek itu. Ada harap-harap cemas di wajahnya yang belum sepenuhnya lepas dari sisa ketakutan semalam.
"Beres," kata Surudi.
Topan tersenyum, senyum lebar yang tiba-tiba membuatnya tampak lebih muda dari usianya. Tapi Surudi tidak ikut tersenyum. Ia menepuk bahu kenek itu, lalu berjalan ke depan Hino, meletakkan telapak tangannya di kap yang menghangat oleh mesin. Ia berdiri diam di sana, seolah menyandarkan sesuatu yang tak kelihatan.
Karena di tengah semua kelegaan itu, ada yang tidak ikut pulang.
Ujang. Sopir muda dengan mulut besar dan hati keras kepala, yang menolak setor sejak awal, yang mengumpulkan sopir-sopir bandel di rumah makan dan bicara soal jalan yang bersih seolah hal seperti itu mungkin. Ujang yang mati di turunan, di dalam "kecelakaan" yang tak seorang pun berani sebut namanya. Uang di perut Surudi ini tak akan pernah sampai ke tangannya. Tak ada bongkar terakhir untuk Ujang. Hanya gundukan tanah di tepi lintas.
Dan Sarki. Kawan tua yang dulu menyuruhnya tunduk demi selamat, yang gentar lebih dulu dari siapa pun, tapi yang akhirnya kembali ke kemudi dan memancing pengejar ke arah lain di simpang itu supaya Surudi bisa lewat. Kabar terakhir yang ia terima, Sarki masih terbaring, tubuhnya remuk di beberapa tempat, tapi napasnya ada. Surudi menutup matanya sebentar. Ia berjanji dalam hati akan menengoknya. Sebagian uang ini, pikirnya, akan ia bawa ke klinik tempat Sarki dirawat. Utang seperti itu tak bisa dibayar dengan lembaran, tapi ia akan mencoba.
"Pak," suara Topan pelan di belakangnya. "Bapak nggak apa-apa?"
Surudi mengusap wajahnya dengan telapak yang berbau solar. "Nggak apa-apa," katanya. Ia menoleh, dan matanya yang lelah bertemu mata kenek itu. "Cuma… kadang menang itu nggak seperti yang kamu bayangin, Pan. Kamu kira bakal sorak-sorai. Nggak. Sepi malah."
Topan tidak menjawab. Barangkali ia belum cukup tua untuk mengerti. Tapi ia mengangguk, dan berdiri di samping Surudi tanpa berkata apa-apa, dan itu sudah cukup.
Matahari mulai naik di atas atap seng. Debu berkilau di dalam sinarnya. Surudi mengeluarkan telepon dari saku, jarinya melayang sebentar di atas nomor Tuminah. Ia ingin mengabari. Ingin mendengar suara istrinya, ingin bilang bahwa surat itu tak akan datang lagi, bahwa anak bungsu mereka bisa masuk SMA tanpa ayahnya harus menundukkan kepala pada Codet. Tapi ia menahan diri. Kabar seperti itu tak pantas diucapkan lewat telepon sambil berdiri di gudang berdebu. Ia ingin mengucapkannya sendiri, di depan Tuminah, di rumah kontrakan mereka, sambil menaruh uang itu di atas meja dengan tangannya sendiri.
Ia memasukkan telepon kembali ke saku.
"Ayo," katanya pada Topan, memanjat naik ke kabin. Sendinya berteriak lagi, tapi ia tak peduli. "Kita bersihin dulu baknya. Terus cari makan. Kamu belum makan bener dari kemarin."
Topan naik dari sisi lain, menutup pintu. Kabin itu, yang berhari-hari jadi ruang sempit penuh ketakutan, kini terasa sedikit lebih lapang. Surudi menyalakan mesin. Hino batuk sekali, dua kali, lalu hidup, bergetar setia seperti biasa. Tua, sakit, tapi masih miliknya.
Ia menatap kaca depan yang berdebu, ke arah jalan tanah yang membentang keluar dari gudang. Di ujung sana, lintas masih menunggu — keras, berdebu, tak kenal ampun seperti selalu. Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya sejak lama, Surudi memandangnya bukan sebagai ancaman. Ia menyeka pinggir matanya, entah karena debu, entah bukan, lalu memasukkan gigi dan melepas kopling perlahan.