Kabut mulai menipis di punggung terakhir Tikungan Seribu ketika Surudi melepas kopling sekali lagi dan membiarkan Hino itu meluncur sendiri. Mesin sudah lama bisu—solar habis di jantung tikungan, persis seperti yang diinginkan Codet—dan yang tersisa hanya bunyi ban menggilas aspal basah serta desis rem angin yang ia jaga seperti orang menakar tetes air di padang kering.
"Jangan diinjak dalam-dalam," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Topan. "Angin di tabung tinggal sedikit. Mesin mati, kompresor tak isi lagi. Sekali habis, kita cuma punya gravitasi dan jalan."
Topan mengangguk. Wajahnya pucat, tangannya masih gemetar sisa dari tanjakan tadi, saat ia—kenek yang belum genap setahun—dipaksa memegang kemudi menembus Sitinjau dengan suara Surudi jadi satu-satunya lampu. Sekarang gantian Surudi yang memegang, dan Topan hanya bisa menonton turunan yang menghilang ke dalam sisa kabut.
Surudi membaca tikungan bukan dengan mata—matanya sudah lama tak bisa dipercaya di kabut—melainkan dengan hafalan dua puluh lima tahun. Ia tahu di mana aspal menurun curam dan di mana ada gundukan kecil yang bisa dipakai memakan laju tanpa menyentuh rem. Di tiap tanjakan pendek yang menyela turunan, ia biarkan truk merangkak melambat sendiri, menabung angin, lalu melepasnya lagi ke turunan berikut. Begitu terus.
"Kenapa nggak direm saja terus, Pak?" bisik Topan, matanya menempel ke jarum tekanan yang menggantung rendah.
"Karena rem itu bukan sumur, Nak. Ada dasarnya." Surudi menunjuk dagunya ke depan, ke tikungan yang tak kelihatan. "Yang tak ada dasarnya cuma jalan ini. Aku pinjam tenaganya, bukan aku lawan."
Codet menutup semua selang solar di sepanjang lintas, mengira jalan itu yang akan membunuh Surudi. Ia lupa satu hal: jalan ini lebih dulu jadi milik Surudi sebelum jadi milik siapa pun.
Di kaca spion, kabut menutup kembali tempat ia meninggalkan Bang Codet. Surudi tak menoleh lagi. Ia sudah melihat cukup—raja jalan itu terkurung di tikungan yang tak ia hafal, terjebak oleh keyakinannya sendiri bahwa uang bisa membeli tiap titik solar tapi tak bisa membeli ingatan seorang sopir tua akan setiap lekuk aspal. Surudi tidak menabraknya. Ia tidak turun membawa linggis. Ia hanya melewatinya, dan membiarkan jalan yang menghakimi. Itu lebih berat dari pukulan mana pun, dan Surudi tahu itu.
Bangku di belakang kosong. Seharusnya Sarki ada di sana, mengomel soal kopi yang tak pernah cukup manis. Tapi Sarki sudah memancing pengejar ke simpang lain, sengaja, supaya truk ini bisa lewat. Surudi tak tahu apakah kawan tuanya masih bernapas. Ia menelan sesuatu yang pahit dan menaruhnya di tempat yang sama dengan bayangan Ujang—sopir muda yang pulang lebih cepat lewat turunan yang bukan kecelakaan. Dua nama. Muatan di belakangnya ini dihitung bukan dengan rupiah.
Menjelang subuh, kabut benar-benar lepas dan Hino keluar ke dataran. Aspal melandai. Surudi menahan truk perlahan sampai berhenti di bahu jalan, dekat sebuah warung yang lampunya baru dinyalakan. Ban berdecit halus. Angin di tabung habis persis saat roda diam. Ia duduk sebentar, tangannya masih di kemudi, dan baru sadar bahwa ia sudah menahan napas entah sejak kilometer yang mana.
Di depan warung, tiga-empat sopir berdiri memegang gelas. Mereka menoleh ke Hino tua itu, lalu ke pelat nomornya, lalu ke Surudi yang turun dengan kaki kaku. Salah satu dari mereka—Surudi tak kenal—meletakkan gelasnya.
"Bapak yang dari Tikungan Seribu?"
Surudi tak menjawab. Tapi jawabannya sudah ada di lumpur yang mengering di sekujur bak, di lampu depan yang retak, di bau rem yang gosong.
"Kabarnya sudah sampai sini sejak tengah malam," kata sopir itu, suaranya setengah tak percaya. "Codet terjebak di kabut. Orang-orangnya kabur. Gimbal katanya lari duluan, buang truk di parit." Ia menelan ludah. "Betul, Pak?"
Surudi memandang mereka satu per satu. Wajah-wajah yang selama berbulan-bulan menunduk tiap kali orang Codet lewat, yang menolak menjual solar padanya karena takut. Sekarang ada yang lain di mata mereka. Bukan kagum—Surudi tak mau kagum. Sesuatu yang lebih sederhana: seolah jalan baru saja diingatkan cara bernapas.
Pemilik warung keluar membawa jerigen. "Solar, Pak. Bukan oplosan. Ambil dulu, bayar nanti."
Kemarin orang ini pasti menutup pintunya. Surudi tahu ini bukan tentang dirinya. Selang yang dulu dikunci Codet baru saja terbuka, dan orang-orang buru-buru pura-pura tak pernah menguncinya. Ia menerima jerigen itu tanpa banyak kata. Muatannya masih harus sampai. Ia belum menang apa-apa selama roda belum berhenti di gudang pembeli dan surat leasing belum jadi kertas mati.
Topan turun menyusul, memandang para sopir yang mulai mengerumuni, lalu memandang Surudi dengan pertanyaan yang tak jadi ia ucapkan. Surudi menepuk dinding bak Hino, memeriksa tali muatan satu per satu, seperti yang selalu ia lakukan sejak dulu, seakan tak ada yang berubah semalam.
"Isi tangki," katanya pada Topan. "Kita masih jauh, dan tenggat tak menunggu kabar bagus."
Ia melihat matahari mulai naik di ujung lintas, memerah di balik debu. Codet tumbang, tapi Ujang tetap di dalam tanah dan Sarki entah di mana. Kemenangan—kalau ini boleh disebut menang—terasa seperti muatan yang terlalu berat, yang ia bawa turun gunung nyaris sendirian, dengan punggung yang sudah tak semuda dulu. Tapi kepalanya ia jaga tetap tegak, dan roda Hino, setelah dituang solar yang jujur, kembali berputar ke arah datar.