Kabut belum juga surut ketika bunyi itu datang dari belakang—derum mesin yang dipaksa lewat gigi rendah, lalu jerit ban kehilangan cengkeraman di aspal basah.
Surudi menginjak rem pelan-pelan, membiarkan tronton yang sudah nyaris berhenti sendiri karena kehabisan tenaga itu benar-benar diam di bahu jalan. Ia menoleh lewat spion yang berkabut oleh napasnya sendiri. Yang tampak cuma cahaya lampu sorot yang berayun liar, menembus kabut seperti obor yang dibawa lari orang kalap.
Lalu terdengar bunyi besi menghantam tanah—panjang, berat, disusul jerit logam yang membuat bulu kuduk berdiri lebih dari sekadar oleh dingin malam.
"Itu dia," bisik Topan, sudah separuh berdiri di pijakan pintu, tangan mencengkeram besi pegangan.
Surudi tidak menjawab. Ia menarik rem tangan, turun pelan-pelan, sepatu botnya menjejak kerikil lepas yang berderak di bawah kabut. Ia tahu persis di mana ia berdiri. Tikungan ini, oleh sopir-sopir lama, dulu disebut kaki longsor—bahu jalan yang pernah runtuh diterjang hujan bertahun silam, ditambal seadanya dengan kerikil dan tanah urug, kelihatan padat kalau dilihat sekilas, tapi keropos di bawahnya seperti kue yang digigit tikus. Surudi menghafal titik itu sejak masih jadi kenek. Ia selalu menjauh dari bahu jalan di sini, biar pun harus mepet ke tengah sedikit.
Bang Codet, yang mengejar dari belakang dengan kecepatan orang yang tak mau kehilangan muka di depan anak buahnya sendiri, tidak menghafalnya. Codet menguasai jalan ini lewat pos dan selang solar dan orang suruhan yang menagih upeti—bukan lewat roda yang bertahun-tahun menjejak setiap incinya.
Truk Codet berhenti dengan cara yang paling buruk untuk sebuah truk: bagian depan ambles, ban depan menggantung di atas rongga yang tadinya kelihatan seperti tanah biasa, sementara ban belakang berputar sia-sia di udara, melempar kerikil dan asap knalpot ke arah kabut. Lampu sorotnya kini menunjuk lurus ke jurang, seolah truk itu sendiri sedang menerangi jalan pulangnya ke bawah.
Pintu kabin terbuka paksa. Gimbal melompat turun lebih dulu, bergegas ke sisi truk yang miring, berteriak sesuatu yang tak jelas ke arah dalam kabin. Dua orang lain menyusul, menarik-narik pintu yang macet karena rangka sudah bengkok.
Dan dari arah kabut di belakang, satu per satu, muncul lampu-lampu lain. Bukan lampu kejaran. Lampu truk yang berhenti, lalu menyalakan sorot penuh—sopir-sopir yang sejak Sitinjau diam-diam mengikuti dari jarak aman, yang mendengar kabar lewat radio panggil dari mulut ke mulut bahwa Surudi menembus Tikungan Seribu tanpa setor sepeser pun. Mereka turun satu-satu, berdiri di pinggir kabut, membiarkan cahaya kendaraan mereka jadi satu-satunya panggung yang menerangi apa yang sedang terjadi.
Surudi berjalan mendekat, Topan di sampingnya, sampai jarak yang cukup untuk melihat wajah Codet di balik kaca yang retak—wajah bercodet itu pucat, rahangnya keras menahan takut yang tak boleh kelihatan di depan anak buahnya sendiri. Tangannya masih mencengkeram setir, seolah kalau ia melepasnya truk itu akan benar-benar jatuh.
"Tarik dia keluar," kata Surudi, datar, ke arah Gimbal yang justru berhenti bergerak begitu melihat Surudi berdiri di sana.
Salah satu sopir yang baru turun dari truknya sendiri—wajahnya belum pernah dikenal Surudi, tapi tangannya sudah menggenggam batang besi dongkrak—melangkah maju. "Biar aja, Pak Surudi. Biar dia rasain. Ujang mati gara-gara dia. Sarki juga."
Beberapa yang lain bergumam setuju, gumaman yang perlahan mengeras jadi sesuatu yang bisa berubah jadi kerumunan. Gimbal mundur setapak, tangannya turun ke pinggang, tapi ragu—terlalu banyak lampu, terlalu banyak mata.
Surudi mengangkat tangan, bukan ke arah Codet, tapi ke arah orang-orangnya sendiri. "Turunkan itu."
"Pak—"
"Aku bilang turunkan." Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat besi dongkrak itu berhenti di udara. "Kita bukan Codet. Kalau kita balas darah dengan darah, kita cuma ganti raja jalan, bukan bikin jalan ini bersih."
Ia menoleh ke arah truk yang miring, ke arah wajah yang dulu—kata Codet sendiri semalam, di tengah kabut yang sama—pernah jadi sopir yang kalah oleh sistem, sebelum akhirnya memilih jadi sistem itu sendiri. Surudi tidak merasa kasihan. Tapi ia juga tidak merasa perlu jadi tangan yang menjatuhkan. Ban belakang truk itu masih berputar, melempar kerikil, dan setiap putaran membuat tanah di bawah ban depan runtuh sedikit demi sedikit, seolah jalan sendiri sedang menimbang berapa lama lagi ia sanggup menahan beban orang yang selama ini menguasainya tanpa pernah benar-benar mengenalnya.
"Biar jalan yang mutusin," kata Surudi, lebih pelan, hampir untuk dirinya sendiri. "Bukan kita."
Gimbal, dengan wajah yang sudah kehilangan semua wibawa algojo, akhirnya menyerah pada rasa takutnya sendiri dan menarik Codet keluar lewat jendela yang pecah, tepat sebelum tanah di bawah ban depan benar-benar ambrol dan truk itu meluncur pelan ke dalam jurang berkabut, berdebam jauh di bawah, menyisakan bau solar tumpah yang menguar ke udara dingin—solar yang selama ini jadi senjatanya, kini justru menandai kekalahannya sendiri.
Tak seorang pun bertepuk tangan. Tak seorang pun mendekat untuk memukul. Mereka hanya berdiri, sopir demi sopir, menyaksikan dalam diam laki-laki yang selama ini mereka takuti kini terduduk di kerikil, basah oleh keringat dan solar, tak lagi punya truk, tak lagi punya wajah yang bisa ia pertahankan.
Surudi tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik, berjalan kembali ke arah tronton tuanya sendiri, Topan mengikuti tanpa bicara.
"Nggak dihabisin, Pak?" tanya Topan akhirnya, suaranya lebih penasaran daripada menuntut.
"Kalau aku habisin dia sekarang," jawab Surudi, memanjat ke kabin, "besok ada Gimbal baru yang duduk di kursi itu. Yang beda cuma nama. Biar dia hidup, biar semua orang lihat dia jatuh dengan matanya sendiri terbuka. Itu yang bakal diingat, bukan darah."
Ia menyalakan mesin yang sempat mati, mendengarnya batuk sebelum akhirnya menyala juga, entah dari sisa solar keberapa yang masih tersisa di dasar tangki. Di ufuk timur, kabut mulai menipis tanpa terasa, seperti sesuatu yang lama-lama kehilangan alasan untuk terus menutupi jalan.