Kabut di Tikungan Seribu tidak turun, ia mengambang—bergerak pelan seperti sesuatu yang bernapas, menelan cahaya lampu sorot Hino sampai tinggal bulatan kuning pudar sejauh tiga meter di depan kap. Surudi membiarkan truk meluncur tanpa mesin, hanya suara ban menggilas aspal basah dan derit per yang menahan beban muatan. Di kaca spion ia melihat lampu satu unit lain—entah punya siapa—mengejar terlalu kencang untuk tikungan seperti ini.
Ia sudah menghafal tikungan ke tujuh belas sejak dua puluh tahun lalu, saat rambut masih hitam dan matanya belum perlu menyipit membaca marka jalan. Tikungan itu menekuk lebih tajam dari yang terlihat, disusul turunan pendek yang menipu—orang yang tak tahu akan mengerem di ujung tikungan, bukan sebelum. Surudi melepas rem sedikit lebih awal, membiarkan truk mengambil sudut lebih lebar, lalu menutup kembali di titik yang hanya bisa ditebak kalau sudah pernah celaka di situ dan selamat.
Lampu di belakangnya oleng.
Bunyi decit ban, lalu benturan pelan—bukan tabrakan keras, hanya unit yang keluar jalur, menabrak gundukan tanah di bahu jalan dan berhenti miring, setengah masuk parit dangkal. Surudi tahu tanpa menoleh siapa yang duduk di kabin itu. Ia sudah menghitung sejak tikungan kesembilan bahwa hanya satu orang yang cukup nekat mengejar sedekat itu dalam kabut setebal ini—orang yang merasa jalur ini miliknya, yang tak sudi kalah kejar-kejaran oleh sopir tua bertangki kosong.
Ia menginjak rem, truk berhenti sepuluh meter di depan, mesin dimatikannya sejak tadi masih diam total. Tak ada tenaga untuk lari lebih jauh pun. Surudi turun, sepatu botnya menapak lumpur tipis di aspal, dan berjalan ke arah lampu yang oleng itu.
Bang Codet sudah keluar dari kabinnya sendiri, berdiri menyandar pintu, satu tangan menekan dahi. Codet, bercodet luka lama membelah alis kanan sampai pipi, sosok yang selama ini hanya didengar Surudi lewat cerita sopir-sopir yang gemetar menyebut namanya. Malam ini wajah itu tak berbeda dari wajah sopir mana pun yang truknya baru saja keluar jalur—kaget, marah, dan di baliknya, sekilas, takut.
"Kau," kata Codet, suaranya serak oleh kabut yang menusuk paru-paru. "Aku tahu tangkimu kering di tikungan tiga belas. Herman bilang aku bisa duduk santai di sini nunggu kau nyerah."
"Herman banyak omong," jawab Surudi. Ia berdiri di jarak aman, cukup dekat untuk bicara, cukup jauh untuk tak bisa diraih kalau Codet nekat. "Tangki memang kering. Tapi jalan ini bukan cuma soal solar, Bang."
Codet tertawa pendek, lebih mirip batuk. "Dua puluh lima tahun kau jalan, aku tahu. Aku juga dua puluh lima lebih. Bedanya kau masih mikir jalan ini punya aturan yang bisa dihafal baik-baik terus menang. Aku sudah lewat fase itu, Rudi."
Nama itu—Rudi, bukan Surudi lengkap—keluar begitu wajar dari mulut Codet, seolah mereka pernah lebih dari sekadar musuh di jalur yang sama. Surudi mengamati matanya lekat-lekat lewat sisa cahaya lampu sorot yang masih menyala miring dari truk yang nyangkut itu.
"Kau juga sopir dulu," kata Surudi, bukan pertanyaan.
Codet diam sebentar. Kabut bergulung di antara mereka, membawa bau solar yang tumpah dari tangki unitnya yang retak kena benturan. "Empat belas tahun aku pegang kemudi. Trayek yang sama, jalur yang sama, sebelum kau kenal Tikungan Seribu ini bahkan. PO tempat aku kerja bangkrut, pemiliknya kabur bawa uang leasing yang harusnya buat bayar cicilan unit. Aku yang tanggung. Truk ditarik, nama aku masuk daftar hitam semua leasing dari Padang sampai Lampung. Tak ada yang mau kasih aku kerja lagi jadi sopir, Rudi. Sistem yang kau bela mati-matian itu, yang bikin kau lembur nyawa buat cicilan—sistem itu yang bikin aku jadi begini."
Suaranya tak naik. Justru datar, seperti orang yang sudah lama berhenti berharap didengar dan sekarang bicara hanya karena kebetulan ada yang berdiri di depannya, di tengah kabut, tanpa siapa pun lain yang bisa menyela.
"Jadi kau bikin sistemmu sendiri," kata Surudi. "Kau yang kuasai selang solar, kau yang bikin sopir lain nunduk. Sama saja, Bang. Cuma kau yang jadi rajanya sekarang."
"Aku jadi raja supaya tak ada yang bisa buang aku semudah itu lagi." Codet melangkah satu jengkal, tangannya masih di pelipis, entah luka entah pusing. "Kau pikir aku suka bakar truk sopir sendiri? Aku cuma tahu satu bahasa yang didengar jalanan ini—takut. Kalau tidak takut sama aku, mereka takut sama leasing, sama aparat, sama Herman-Herman yang selalu ada di setiap PO. Aku cuma pilih jadi yang ditakuti, bukan yang ditakut-takuti."
Surudi menatap wajah bercodet itu lama, mencari sesuatu untuk dibenci lebih murni, tapi yang ia temukan malah bayangan dirinya sendiri seandainya dua puluh lima tahun lalu ia kalah satu kali saja pada saat yang salah—seandainya leasing menariknya lebih cepat, seandainya Tuminah tak sekuat sekarang, seandainya tak ada Topan yang percaya padanya di kabin itu.
"Aku tak datang buat bicara lama-lama denganmu, Bang," kata Surudi akhirnya, suaranya lebih pelan dari yang ia kira sendiri. "Aku cuma mau lewat. Solar bukan cuma milikmu di jalan ini."
Codet menegakkan badan, luka lamanya berkilat sesaat kena sisa cahaya lampu. "Kau kira sudah menang cuma karena aku nyangkut di parit? Jalan ini belum selesai, Rudi. Kau masih di tengah kabut, sama sepertiku."
Di kejauhan, dari arah tikungan yang baru saja mereka lewati, terdengar deru mesin lain mendekat—entah Gimbal, entah anak buah Codet yang lain, memanggil-manggil nama bosnya lewat pekat kabut yang belum juga mau bergeser dari Tikungan Seribu.