Mesin itu mati dengan cara yang paling hina bagi sebuah truk: bukan meledak, bukan menderu lalu diam, tapi tersedak pelan-pelan seperti orang kehabisan napas, lalu berhenti begitu saja di tengah tanjakan yang belum sempat ia lewati. Jarum bahan bakar sudah lama menempel di bawah garis merah, dan sekarang, di jantung Tikungan Seribu, dengan kabut tebal menutupi kap mesin sampai Surudi tak bisa melihat ujung tromolnya sendiri, Hino tua itu berhenti bernapas.
Topan memegang dasbor seolah truk akan jatuh. "Pak—"
"Diam dulu." Suara Surudi datar, tapi tangannya sudah bekerja sebelum otaknya sempat memerintah: menginjak kopling, memindah gigi ke posisi netral, menahan setir yang mendadak jadi berat karena power steering ikut mati bersama mesin. Truk melambat, nyaris berhenti di tanjakan kecil sebelum turunan, dan untuk beberapa detik yang terasa panjang sekali, hanya ada suara angin menampar kaca depan dan derit rem tangan yang ia tarik setengah, menahan mereka dari mundur ke belakang.
Di spion, lampu sorot mulai menembus kabut—dua pasang, lalu tiga—bergerak naik dari arah yang mereka datangi. Codet tidak buru-buru. Codet tahu jalan ini akan mengunci Surudi lebih rapat daripada tali mana pun, dan ia hanya perlu menunggu di titik yang sudah dipilihnya sendiri, tempat solar terakhir pasti habis. Surudi sudah menduga itu sejak jerigen terakhir ia tuang tiga kilometer lalu dan tahu isinya tak akan cukup.
"Kita jalan kaki, Pak?" Topan berbisik, matanya awas ke arah lampu yang mendekat. "Atau tunggu di sini—cerita saja, muatan diserahkan—"
"Kau pikir dia akan biarkan kita jalan kaki?"
Topan tidak menjawab. Ia tahu jawabannya sendiri.
Surudi menatap kabut di depan kap, mencoba menembusnya dengan ingatan, bukan mata—karena matanya, ia tahu betul, sudah tak bisa diandalkan lagi malam-malam begini. Tapi ingatan itu belum tumpul. Dua puluh lima tahun menyusuri jalur ini menaruh peta di kepalanya yang tak pernah dicetak di kertas mana pun: seratus meter di depan, jalan mendatar sedikit, lalu turun—turun panjang, nyaris satu setengah kilometer, berkelok tapi landai, sampai ke jembatan kecil sebelum tikungan terakhir. Ia pernah melintasinya ratusan kali dengan mesin hidup. Ia tahu di mana harus membanting setir, di mana bahu jalan melebar, di mana tebing curam menunggu kalau meleset sedikit saja.
Yang tak pernah ia coba adalah melewatinya tanpa mesin sama sekali.
"Lepas rem tangan kalau kubilang," katanya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Topan.
"Pak, mesinnya mati—kita mau ke mana kalau—"
"Turunan itu bisa jalan sendiri. Aku hafal tiap kelokannya. Yang mereka nggak hafal."
Ia menoleh sebentar, dan di wajah anak muda itu ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada dirinya sendiri bertahun lalu—takut, tapi belum menyerah. "Kau pegang senter, arahkan ke marka kalau kabut terlalu tebal. Jangan bicara kalau aku nggak tanya."
Lampu di belakang makin dekat, menembus kabut jadi bola cahaya kabur yang membesar perlahan. Surudi bisa mendengar suara mesin lain sekarang, dua atau tiga truk yang tidak terburu-buru, karena mereka pikir mangsanya sudah terkurung.
Ia melepas rem tangan.
Hino bergerak, pelan sekali, seperti binatang besar yang enggan bangun. Roda-roda mulai berputar tanpa suara mesin, hanya derit ban di atas aspal basah dan gesekan angin. Surudi memegang setir dengan kedua tangan, merasakan bobot truk yang penuh muatan mulai menuruni kemiringan jalan, gravitasi mengambil alih pekerjaan yang biasanya dilakukan mesin.
"Sekarang," gumamnya, membelokkan setir sedikit ke kiri tepat sebelum kabut menunjukkan apa-apa, karena ia tahu tikungan itu ada di sana meski matanya belum melihatnya. Roda menggigit aspal, truk miring sesaat, lalu lurus lagi.
Di belakang, lampu sorot berhenti bergerak maju secepat tadi—mungkin mereka bingung kenapa truk yang seharusnya mogok tiba-tiba melaju. Surudi tak menoleh. Ia tak punya waktu untuk itu. Setiap detik matanya harus di depan, membaca kabut yang menipu, membedakan mana bayangan tikungan dan mana bayangan pohon di tepi jalan.
"Kanan dikit, Pak, ada—" Topan mulai bicara, tapi Surudi sudah membanting setir lebih dulu, karena ia tahu tikungan itu sebelum sorot senter Topan sempat menangkapnya.
Truk melaju makin cepat sekarang, kecepatan yang tumbuh sendiri karena kemiringan jalan, dan tanpa mesin yang bisa direm dengan gigi rendah, Surudi harus bermain dengan rem angin—injak, lepas, injak lagi—menjaga agar laju itu tak berubah jadi luncuran maut yang tak terkendali. Ia merasakan pedal itu di bawah kakinya seperti detak jantung sendiri, tahu persis berapa lama ia boleh menahan sebelum kampas mulai memanas dan berapa lama ia harus melepas sebelum kehilangan kendali sepenuhnya.
Ini bukan lagi soal solar. Ini soal siapa yang lebih kenal jalan ini—dan untuk pertama kalinya sejak Codet menyebut namanya di meja mana pun, Surudi merasa timbangan itu berbalik, sedikit, ke arahnya.
Lampu di belakang mengecil di kaca spion, tertinggal oleh kabut yang menelan mereka satu per satu. Di depan, jalan masih menurun, masih berkelok, dan Surudi tidak tahu pasti apa yang menunggu di ujungnya—jembatan yang mungkin sudah dijaga, atau tikungan terakhir yang belum pernah ia lewati tanpa tenaga mesin sedikit pun. Tapi ia sudah memilih. Bukan berhenti menunggu belas kasihan Codet di tanjakan tadi, bukan menyerahkan kunci dan muatan seperti yang diperhitungkan orang itu.
Ia merebut jalan ini dengan cara satu-satunya yang masih ia punya: hafalan setiap lekuk aspal yang tak bisa dibeli siapa pun, dan keberanian untuk melepas rem tangan di tengah kabut, saat mesin sudah mati dan tak ada lagi yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri.
"Pegangan," katanya pada Topan, suaranya nyaris tenggelam oleh desing angin di kaca. "Kita belum sampai."