Pagi datang basah dan kelabu, dan setelah semalam menumpang tidur di emper warung dengan truk diparkir di tempat ramai agar tak ada yang berani menyentuhnya, Surudi membawa muatannya mendekati ruas yang paling ia hormati dan paling ia takuti: turunan panjang berkelok yang oleh sopir disebut dengan berbagai nama, tapi yang Surudi sendiri menyebutnya tikungan seribu, karena rasanya tikungannya memang tak ada habisnya, satu demi satu menurun tajam menuruni punggung bukit.
Ia berhenti di puncak turunan sebelum mulai, mematikan mesin sebentar, dan turun. Ini ritualnya. Ia menendang ban, meraba tromol rem dengan punggung tangan untuk merasakan suhunya, dan memandang jalan yang menurun di depan, menghilang ke dalam kelok yang diselimuti sisa kabut. Topan turun mengikutinya, menggigil di udara dingin.
"Kenapa berhenti, Pak?"
"Berdoa," jawab Surudi, dan ia tak bercanda. Lalu ia menjelaskan, karena anak ini harus tahu. "Turunan ini panjang. Kalau aku andalkan rem terus dari atas sampai bawah, rem akan panas. Panas bikin minyak rem mendidih, dan rem yang mendidih jadi seperti menginjak busa — ada, tapi tak menggigit. Itu yang orang bilang rem blong. Bukan remnya hilang, tapi panasnya yang membunuh." Ia menunjuk ke bawah. "Aturannya: turun gunung pakai gigi yang sama dengan kalau kamu naik. Biar mesin yang menahan, bukan rem. Rem cuma buat sentuhan kecil di tikungan, lalu lepas, biar dingin lagi."
Mereka naik kembali. Surudi memindahkan ke gigi rendah, sangat rendah, dan truk mulai menurun pelan, mesin menggerung keras menahan beban — engine brake, tenaga mesin yang dibalik menjadi penahan. Topan merasa truk seperti ditarik mundur oleh mesinnya sendiri, dan ia mengerti separuh.
Kelok pertama, kedua, ketiga. Surudi menyentuh rem hanya sekejap di tiap tikungan, lalu melepasnya. Beban alat berat di belakang mendorong dari belakang di setiap turunan, dan Surudi merasakannya, dorongan masa yang ingin terus melaju, yang ditahan hanya oleh mesin yang menggerung dan sentuhan rem sesaat. Ia berkeringat meski dingin, fokusnya total, dan untuk waktu yang lama tak ada suara di kabin selain raungan mesin dan napas Topan.
Lalu, di kelok yang entah keberapa, Surudi merasakannya. Ia menyentuh rem dan pedal itu turun sedikit lebih dalam dari seharusnya sebelum menggigit. Hanya sedikit. Tapi tangannya tahu, kakinya tahu, dua puluh lima tahun tahu: kampas belakang yang tipis, yang ia kompromikan di pul, mulai menagih. Panas dari turunan ini memakannya lebih cepat dari kampas baru.
"Pan," katanya, suaranya datar dan rendah, dan justru kedataran itu yang membuat Topan langsung tegang. "Dengarkan aku dan jangan banyak tanya. Pegang pegangan di atas pintu. Jangan teriak. Jangan sentuh apa pun."
"Kenapa, Pak—"
"Rem belakang mulai habis. Aku masih punya depan, masih punya mesin. Tapi turunan masih panjang. Aku harus jaga supaya tak ada satu pun yang panas berlebih. Diam."
Dan kemudian Topan menyaksikan sesuatu yang akan ia ingat seumur hidupnya, sesuatu yang membuat semua kesombongan mudanya runtuh menjadi kerendahan hati. Ia menyaksikan seorang lelaki tua dengan lutut ngilu dan mata rabun menari dengan kematian di turunan seribu tikungan. Surudi tak panik. Ia memindahkan ke gigi yang lebih rendah lagi, membiarkan mesin meraung di putaran tinggi sampai Topan takut mesin akan pecah, memerah tenaga mesin sebagai rem. Di tikungan ia menyentuh rem depan saja, sekejap, sehemat orang miskin menyentuh uang terakhirnya, lalu melepas agar dingin. Ia membaca setiap tikungan sebelum tiba, memilih garis yang paling melebar agar tak perlu mengerem keras, memanfaatkan tanjakan kecil di antara turunan untuk membiarkan beban memperlambat dirinya sendiri.
Truk itu menurun seperti binatang besar yang dijinakkan bukan dengan kekuatan tapi dengan pengertian. Sekali, di tikungan tajam ke kiri dengan jurang menganga di sisi kanan, beban mendorong terlalu kuat dan ekor truk sedikit melebar, dan Topan melihat jurang itu mengisi seluruh kaca sebelahnya, hijau dan dalam dan tak berdasar. Ia tak teriak hanya karena tenggorokannya terkunci. Surudi mengoreksi dengan kemudi, lembut, tak menyentak — menyentak akan membuat beban berpindah dan menggulingkan truk — meluruskan, dan menyentuh rem depan sekejap, dan ekor itu kembali ke jalur. Seluruhnya terjadi dalam dua detik. Surudi bahkan tak mengubah ekspresinya.
Turunan terakhir melandai, dan jalan mulai mendatar, dan mesin yang meraung mulai turun nadanya, dan Surudi akhirnya bisa menggunakan rem dengan normal, kampas depan yang masih sehat menahan dengan gigitan penuh sampai truk berhenti di pelataran tanah datar di kaki turunan, di samping warung dan beberapa truk lain yang juga berhenti mendinginkan rem mereka.
Surudi menarik rem tangan, mematikan mesin, dan untuk pertama kali sejak puncak tadi, ia menyandarkan kepala ke kursi dan menutup mata. Tangannya, ketika ia mengangkatnya dari kemudi, akhirnya gemetar — gemetar yang ia tahan sepanjang turunan, kini boleh keluar.
Topan membuka pintu, turun setengah jatuh, dan muntah di tepi pelataran, perutnya mengeluarkan ketakutan yang tak bisa lagi ia tahan. Ia muntah sampai kosong, lalu berjongkok di tanah, gemetar, menyeka mulut. Surudi turun, mendekat, dan menaruh sebotol air di sampingnya tanpa kata. Ia tak menertawakannya. Muntah setelah turunan seperti itu bukan aib; itu tubuh yang jujur.
Ketika Topan akhirnya bisa bicara, suaranya serak. "Pak," katanya, dan ia tak menatap Surudi, ia menatap tanah, karena ada hal yang lebih mudah diucapkan ke tanah. "Saya... saya kira nyetir truk itu cuma soal berani. Saya kira bapak cuma sopir tua yang lambat." Ia menelan ludah. "Tadi itu... saya enggak ngerti tadi itu bapak ngapain. Tapi saya tahu kalau bukan bapak yang nyetir, saya sudah mati di jurang itu."
Surudi duduk di sampingnya di atas batu, mengusap wajahnya yang basah keringat. Ia tak menyombong, tak menggurui. Ia hanya berkata pelan, memandang turunan yang baru saja mereka taklukkan. "Kampas belakang itu, Pan. Yang tak kuganti penuh di pul karena tak ada uang. Tadi dia hampir membunuh kita." Ia diam sebentar. "Setiap rupiah yang tak kamu keluarkan untuk truk, jalan akan menagihnya dengan nyawa. Ingat itu. Kompromi di bengkel selalu dibayar di tikungan." Ia bangkit, lututnya berbunyi. "Sekarang kita ke bengkel di bawah. Ganti kampas belakang, berapa pun. Karena turunan tadi belum apa-apa. Yang lebih panjang masih menunggu, dan rem yang kita punya sekarang tak cukup untuk membohonginya dua kali."