Mesin Hino tersendat tiga kali sebelum benar-benar mati, dan suara itu—dess, dess, dess, lalu diam—terasa lebih keras daripada klakson mana pun yang pernah didengar Surudi sepanjang dua puluh lima tahun jadi sopir.
Jarum solar sudah lama menempel di bawah E, gemetar seperti orang kedinginan, tapi Surudi masih memaksa berharap ada sisa uap di dasar tangki yang bisa dihisap pompa barang sepuluh, dua puluh kilometer lagi. Harapan itu habis di tikungan ketujuh belas, persis di leher jalan tempat aspal menyempit dan tebing di kiri turun tegak ke jurang yang tak kelihatan dasarnya karena kabut. Setir jadi berat sebelah. Power steering ikut mati bersama mesin. Surudi banting badan, menahan roda dengan seluruh tenaga lengannya, dan tronton itu merangkak lima meter terakhir dengan sisa laju sendiri sebelum benar-benar berhenti di tengah tikungan, miring, seperti binatang besar yang kehabisan napas.
"Pak?" Suara Topan pecah di sebelahnya, nyaris berbisik, seolah suara keras bisa membuat kabut di luar sana mendengar.
Surudi tidak menjawab dulu. Ia menarik rem tangan pelan-pelan, mendengar deritnya, lalu duduk diam dengan kedua tangan masih di setir yang tak lagi berguna. Di depan kaca, kabut Tikungan Seribu bergulung seperti asap dari perut bumi, memutihkan segalanya kecuali dua lingkaran cahaya lampu sendiri yang memantul balik, seakan jalan itu sendiri menolak ditembus.
Ia sudah menghitung. Sudah menghitung berkali-kali sejak Sitinjau, sejak jerigen rahasia terakhir tumpah di tangan Gimbal tiga hari lalu, sejak Herman merampas apa yang tersisa dari cadangan. Ia tahu tangki akan kering. Yang tak pernah ia hitung dengan benar adalah di mana persis titik itu jatuh—dan sekarang, duduk di tengah kabut dengan mesin mati dan muatan Pak Hasan di bak belakang, ia sadar Codet sudah menghitungnya lebih dulu, lebih teliti, sejak entah kapan. Bukan kebetulan tikungan ketujuh belas. Ini bukan solar habis. Ini pintu perangkap yang dibiarkan Codet terbuka sejak jauh-jauh hari, dan Surudi baru saja berjalan masuk dengan kaki sendiri.
Ia baru sadar itu ketika sepasang lampu lain menyala di depan, jauh di balik kabut, menyalak dua kali seperti isyarat, lalu berjalan pelan mendekat.
"Matikan lampu," kata Surudi.
Topan menurut tanpa bertanya. Kegelapan yang tersisa hanya diterangi lampu lawan yang kian dekat, dan di baliknya, siluet orang-orang turun dari kabin—tiga, empat, Surudi tak sempat menghitung lebih jauh karena satu bayangan berjalan lebih pelan dari yang lain, lebih yakin langkahnya, seperti orang yang tahu betul ia tak sedang terburu-buru menuju mangsa yang bisa lari.
Bang Codet berhenti sepuluh meter dari kap Hino, membiarkan kabut menelan separuh badannya, hanya codet di pipi kirinya yang menangkap sisa cahaya. Ia tidak berteriak. Ia bahkan tidak perlu.
"Aku bilang juga apa, Rudi." Suaranya datar, hampir sayang, seperti bapak menegur anak yang keras kepala. "Solar itu punyaku, dari Padang sampai Kayuagung. Kau kira bisa jalan tanpa aku cuma karena hafal jalan?"
Surudi membuka pintu kabin, turun perlahan, sepatunya menjejak aspal basah yang licin oleh embun. Lututnya berdenyut seperti biasa, tapi ia tidak menunjukkannya. Di belakangnya ia dengar Topan ikut turun, dan ia ingin menyuruh anak itu tetap di kabin, tapi tahu percuma—Topan sudah bukan kenek yang dulu mengekor karena takut sendirian.
"Aku cuma minta jalan, Cod," kata Surudi. "Bukan jalanmu. Jalan yang seharusnya milik semua orang."
"Jalan ini punya siapa yang berani jaga," balas Codet. Ia melangkah satu-dua tapak lebih dekat, tangannya terulur, bukan mengancam, malah seperti menawari. "Sudah, Rudi. Truk sudah berhenti sendiri di depan mataku. Tinggal kau bilang ya, aku isi tangkimu penuh malam ini juga, kau jalan sampai Kayuagung tanpa gangguan, dan mulai besok kau jadi punya jalur tetap—jalur amanku. Angsuranmu lunas dalam tiga bulan. Anakmu sekolah tenang. Tinggal kau bilang ya."
Kata-kata itu punya berat sendiri, lebih berat dari muatan di bak belakang. Surudi merasakannya menekan dadanya seperti tangan yang mencengkeram—bayangan Tuminah menghitung recehan di meja dapur, anak bungsu yang diam-diam mengukur seragam SMA yang belum tentu terbeli, surat leasing yang hurufnya sudah ia hafal luar kepala. Semua itu bisa selesai malam ini, dengan satu kata pendek yang bahkan tak perlu diucapkan keras-keras.
Tapi ada juga Ujang, yang tubuhnya dulu ditemukan di dasar turunan dengan wajah tenang seperti orang tidur. Ada Sarki, yang memancing pengejar ke arah lain dengan tubuh sendiri supaya truk ini bisa lewat, dan sampai sekarang entah masih bernapas atau tidak. Ada dua puluh lima tahun jalan yang Surudi lewati bukan dengan menyerah pada siapa pun yang mengaku raja.
Ia menoleh ke tangki, ke jarum yang mati di bawah E, lalu ke jalan di belakang truknya sendiri—ke turunan panjang yang baru saja mereka daki setengah jam lalu, yang dalam kabut tebal ini tak kelihatan ujungnya kecuali oleh orang yang sudah menghafalnya ratusan kali, siang dan malam, hujan dan kemarau, sejak sebelum Topan lahir.
Codet mengira ia sudah menang karena tangki kering. Codet tidak tahu bahwa jalan menurun tak butuh solar sama sekali—hanya butuh orang yang berani percaya pada gravitasi dan hafalannya sendiri, di kabut yang bahkan tak sanggup ditembus lampu terbaik sekalipun.
Surudi tidak menjawab tawaran itu.
Ia berbalik pelan, berjalan kembali ke kabin, dan berbisik pada Topan tanpa menoleh, suaranya rata tapi matanya menyala seperti dulu, sebelum tubuhnya menua.
"Naik. Kita bukan jalan yang habis. Solarnya yang habis."
Di belakangnya, ia dengar Codet memanggil namanya sekali lagi, nadanya berubah, tak lagi sabar. Tapi Surudi sudah menaiki injakan roda, tangannya menggapai pegangan pintu, dan pikirannya sudah jauh melesat ke turunan di belakang mereka—menghitung tikungan demi tikungan seperti orang menghitung napas terakhir sebelum menyelam.