Kabut turun lebih cepat daripada yang pernah dilihat Surudi sepanjang dua puluh lima tahun ia memegang kemudi. Bukan kabut tipis yang biasa menggantung di pagi buta, melainkan dinding putih pekat yang menelan lampu sorot Hino sejauh sepuluh meter, lalu memuntahkannya kembali sebagai pendar buram yang tak berguna. Ia menurunkan kecepatan sampai jarum di bawah dua puluh, tangan kirinya mencengkeram setir sementara tangan kanannya siap di tuas persneling, merasakan tiap getar mesin lewat telapaknya sendiri karena mata sudah tak bisa diandalkan penuh di jarak ini.
"Tikungan kanan, dalam, abis itu turunan pendek," katanya, suaranya rata, seperti membaca mantra yang sudah dihafal luar kepala sejak muda. "Jangan rem di tikungan. Rem sebelum."
Topan mengangguk dari kursi kenek, tubuhnya condong ke depan menatap kaca yang terus-menerus diusap wiper, sia-sia melawan kabut yang menempel di kaca dari luar dan dari embun napas mereka sendiri di dalam. Ia sudah tidak banyak bertanya seperti dulu. Malam-malam belakangan telah mengambil banyak hal dari kenek muda itu — Sarki, jalan-jalan aman, ilusi bahwa perlawanan bisa menang tanpa kehilangan siapa pun — dan yang tersisa cuma kewaspadaan yang matang sebelum waktunya.
Surudi melirik sekilas ke panel instrumen. Jarum solar sudah masuk ke area merah, bergetar tiap kali roda menghantam lubang, seolah ikut menahan napas bersama mereka. Ia tahu persis berapa jerigen yang masih tersisa di bawah terpal, hasil hitungan yang ia ulang tiga kali sebelum masuk mulut Tikungan Seribu. Cukup, kalau tidak ada halangan. Kalau ada halangan, entah.
Di spion tengah, dua titik lampu masih setia menempel sejak jembatan terakhir, kadang hilang ditelan tikungan, lalu muncul lagi lebih dekat dari yang seharusnya.
"Masih ngikut," kata Topan, suaranya nyaris berbisik, seakan volume bisa membuat mereka lebih kelihatan dalam kabut yang sudah menelan segalanya.
"Biar," jawab Surudi. "Yang penting kita hafal jalan ini, dia enggak."
Ia tak seyakin itu sebenarnya. Bang Codet sudah menguasai rute ini bertahun-tahun, tapi menguasai rute lewat setoran dan ancaman berbeda dengan menghafal tiap lekuk aspal sampai ke tulang. Surudi pernah melintasi Tikungan Seribu ratusan kali sebelum jalur ini punya nama lain di mulut orang-orang kartel, sebelum ada yang menagih uang jalan di warung-warung tepi. Ia hafal di mana aspal bergelombang karena akar pohon tua di bawahnya, di mana bahu jalan mengecil tanpa tanda, di mana tikungan tampak lurus dari kejauhan lampu padahal sebenarnya melengkung tajam ke kiri.
Tikungan berikutnya datang tiba-tiba, seperti biasa di jalur ini — kabut tak memberi ancang-ancang. Surudi membanting setir dengan perhitungan yang sudah mendarah daging, merasakan bagian belakang tronton sedikit melebar, ban luar mencicit pelan di aspal basah, lalu kembali lurus. Topan memegang pegangan atas pintu tanpa sadar, buku-buku jarinya memutih.
"Itu yang saya bilang," kata Surudi, "jalan enggak pernah bohong. Yang bohong itu orang yang bilang jalan ini punya dia."
Di belakang, lampu pengejar sempat hilang lebih lama dari biasanya. Surudi membiarkan harapan kecil menyala sebentar di dadanya — barangkali mereka tertinggal, barangkali medan ini terlalu asing bagi sopir-sopir suruhan Codet yang biasa jaga pos, bukan menaklukkan jalan. Tapi harapan itu padam begitu lampu itu muncul lagi, kali ini disusul lampu kedua, lebih kecil, bergerak lebih liar, seperti motor yang dipacu nekat menembus kabut demi mengejar.
"Dua," kata Topan.
"Aku lihat."
Jantung Surudi berdegup lebih cepat, tapi ia tak membiarkan kakinya ikut gemetar di pedal gas. Ia menambah sedikit kecepatan di ruas yang ia tahu lurus barang tiga puluh meter, mencuri jarak sebelum tikungan berikutnya memaksanya melambat lagi. Solar terbuang lebih cepat tiap kali ia memacu, ia tahu itu, tapi berhenti berarti membiarkan jarak menyusut, dan menyusutnya jarak di jalur seperti ini sama saja membiarkan Gimbal atau siapa pun yang dikirim malam ini menempel di bemper belakang.
Sebuah tikungan tajam ke kiri muncul dari balik kabut lebih cepat dari perkiraan — Surudi merasakannya sebelum melihatnya, dari kemiringan halus jalan di bawah roda. Ia menurunkan gigi, menahan rem angin sejenak, memutar setir dengan gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali hingga terasa seperti bagian dari tubuhnya sendiri. Muatan di bak berguncang, tali pengikat berderit, dan untuk sepersekian detik ia merasakan roda belakang kanan nyaris kehilangan cengkeraman di bahu jalan yang longsor tipis.
"Surudi—" Topan memekik pelan.
"Sudah," potongnya, suara tetap datar meski tangannya sempat kaku. Truk kembali stabil, dan tikungan itu lenyap ditelan kabut di belakang mereka seperti tak pernah terjadi.
Ia melirik jarum solar sekali lagi. Merah, lebih dalam dari sebelumnya, jarum yang bergetar mendekati batas yang tak lagi punya angka, hanya garis kosong. Ia menghitung dalam kepala, jarak dari sini ke titik jerigen tersembunyi terakhir yang belum sempat mereka ambil, membandingkannya dengan berapa lama lagi mesin ini sanggup menahan diri.
Di belakang, dua lampu itu masih ada, kadang berkedip aneh seakan diayun-ayunkan sengaja, seperti isyarat dari seseorang yang tahu benar bahwa mereka tak perlu terburu-buru — bahwa jalan inilah yang pada akhirnya akan menghentikan Surudi, bukan kejaran mereka.
Surudi tidak menoleh ke spion lagi. Ia menatap ke depan, ke dinding putih yang terus bergerak mundur seiring kap mesin menembusnya, menghafal tiap lekuk yang mestinya sudah ia hafal, memastikan sekali lagi bahwa yang tersisa untuknya hanyalah jalan ini — seribu tikungan, kabut yang tak mau menipis, dan solar yang menghitung mundur ke arah kosong.