Kabut belum turun ketika Surudi menghentikan Hino di mulut Tikungan Seribu, tapi ia bisa menciumnya—lembap, dingin, bercampur bau tanah basah dan getah karet dari hutan di kedua sisi jalan. Ia mematikan mesin sebentar, membiarkan senyap menelan derum yang selama ini jadi detak jantung keduanya. Topan duduk kaku di kursi kenek, kedua tangan terlipat di pangkuan, matanya menatap papan nama tua berkarat yang tertulis separuh terhapus: TIKUNGAN SERIBU — HATI-HATI TURUNAN TAJAM.
"Kita istirahat sepuluh menit," kata Surudi, suaranya serak. "Sebelum masuk, aku mau kau paham betul jalan ini."
Topan mengangguk, tapi matanya masih di papan nama itu, seolah huruf-huruf using itu menyimpan jawaban atas apa yang menunggu di baliknya.
Surudi turun dari kabin, sendi lututnya berbunyi seperti pintu tak terminyaki. Ia berjalan ke depan truk, menyandarkan punggung ke bemper, merasakan dingin logam menembus baju kerja yang sudah basah oleh keringat sejak siang. Dari sini, jalan menikung tajam ke kiri lalu lenyap ditelan pepohonan, dan di kejauhan, samar-samar, kabut sudah mulai merayap turun dari lereng seperti asap yang tak tahu arah angin.
Topan menyusul, berdiri di sampingnya, jaraknya sopan seperti biasa, seperti seorang murid yang belum yakin boleh berdiri sejajar dengan gurunya.
"Pak Surudi," katanya pelan, "kalau nanti solar benar-benar habis di tengah sana... kita mau apa?"
Surudi tidak langsung menjawab. Ia menatap jarum di dasbor yang sudah lama ia hafal luar kepala—bukan lagi angka, tapi rasa di ujung jari saat menekan gas, rasa di telinga saat mesin mulai batuk minta ampun. Ia tahu jawabannya, tapi ia ingin menyusunnya dulu, seperti menyusun muatan di bak supaya tak oleng di tikungan.
"Waktu aku baru megang setir tronton, umurku dua puluh empat," katanya akhirnya. "Guru aku, namanya Pak Salim, orang Padang, sudah almarhum sekarang. Dia bilang satu hal yang aku pegang sampai sekarang. Katanya, jalan itu nggak pernah baik sama siapa-siapa. Jalan itu cuma ngasih tahu, siapa yang beneran kenal dia, dan siapa yang cuma numpang lewat."
Ia berhenti, menatap kabut yang makin merapat.
"Codet itu bukan raja jalan, Topan. Dia cuma orang yang mengaku-aku jadi tuan atas sesuatu yang nggak pernah bisa dimiliki. Solar bisa dia kuasai, pos bisa dia bayar, timbangan bisa dia beli. Tapi jalan ini—" ia menepuk aspal dengan ujung sepatu bot, pelan, seperti menepuk punggung kawan lama, "—jalan ini nggak bisa disuap. Dia cuma mau ketemu orang yang hafal setiap lekuknya, bukan yang punya duit paling banyak."
Topan diam, mencerna. Angin malam membawa suara serangga dari hutan, jauh, seperti orkestra yang tak pernah berhenti sejak dunia dimulai.
"Aku dulu mikir, jadi sopir itu cuma soal ngangkut barang dari titik A ke titik B," lanjut Surudi. "Tapi dua puluh lima tahun aku di jalan, aku baru ngerti belakangan—yang aku angkut sebenarnya bukan cuma muatan di bak. Yang aku bawa itu nama aku sendiri. Harga diri aku. Kalau aku nyerah sama Codet, bukan cuma solar yang aku beli dari dia. Aku beli juga rasa aman yang murahan, yang bikin aku nggak bisa lagi negur diri sendiri di depan cermin."
"Tapi Pak Sarki—" Topan berhenti, seperti takut menyakiti dengan menyebut nama itu.
"Sarki mati karena dia milih jadi umpan, biar aku bisa lewat," potong Surudi, suaranya tak bergetar, meski dadanya terasa seperti ditindih batu. "Dia nggak mati karena kalah. Dia mati karena dia tahu, kalau semua orang yang bagus di jalan ini nunduk, nggak akan ada jalan yang tersisa buat dilewatin dengan kepala tegak. Dia kasih waktu. Aku nggak boleh sia-siain itu dengan nyerah sekarang, di depan kabut doang."
Topan menunduk. Bahunya sedikit turun, entah karena lelah atau karena beban yang baru saja ditambahkan ke pundaknya.
"Aku takut, Pak," katanya jujur, suara yang jarang keluar dari mulutnya sejak Bab-bab awal ia naik ke kabin ini sebagai kenek yang banyak tanya. "Bukan cuma soal solar. Aku takut nggak bisa jaga muatan ini. Takut Bapak kenapa-kenapa. Takut aku nggak becus jadi—" ia ragu memilih kata, "—jadi sopir yang beneran, kalau nanti Bapak nggak kuat lagi pegang setir."
Surudi menoleh, menatap wajah muda itu di bawah cahaya lampu depan Hino yang masih menyala, mengenali dirinya sendiri dua puluh lima tahun silam—penuh tanya, penuh takut yang disembunyikan di balik dagu yang dikeraskan.
"Takut itu boleh," katanya. "Yang nggak boleh itu, biar takut yang megang setir. Kau boleh gemetar di dalam, asal tanganmu tetap steady di roda. Itu bedanya orang yang cuma bawa truk, sama orang yang jadi sopir."
Ia menepuk pundak Topan, sekali, singkat, tapi cukup berat untuk terasa sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar dorongan semangat—sebuah pengakuan yang selama ini belum pernah diucapkan lantang.
"Nanti, kalau kita masuk ke sana," Surudi menunjuk kabut yang sudah menutupi separuh badan jalan, "kau pegang senter, kau baca marka, kau teriak kalau ada yang aneh. Aku yang pegang setir dan rasa jalan. Kita jalan bareng, bukan aku doang yang mikul semuanya."
Topan mengangguk, kali ini lebih mantap, meski matanya masih berkaca menahan sesuatu yang tak sempat ia ucapkan.
Mereka berdiri sebentar lagi di sana, dua bayangan di depan lampu truk yang menyorot ke arah kabut yang terus merayap turun, seolah malam sendiri sedang menyiapkan panggung. Di kejauhan, entah berapa kilometer di belakang, Surudi tahu ada lampu lain yang sedang mendekat, sabar, seperti pemburu yang yakin mangsanya tak lagi punya jalan keluar.
Surudi menarik napas dalam, mencium sekali lagi bau solar bercampur tanah basah yang sudah jadi bagian dari hidupnya sejak muda. Ia naik kembali ke kabin, menghidupkan mesin yang menyalak pelan, seperti binatang tua yang dibangunkan dari tidur sebentar untuk pertarungan terakhirnya.
"Ayo," katanya pada Topan yang sudah duduk di sampingnya, senter di pangkuan, wajah tegang tapi punggung tegak. "Kita bawa muatan ini pulang lewat jalan yang cuma kita berdua yang beneran hafal."
Roda mulai bergerak, perlahan, memasuki mulut kabut yang menelan cahaya lampu depan satu meter demi satu meter, sampai Hino tua itu benar-benar lenyap ke dalam Tikungan Seribu.