Malam belum sepenuhnya turun ketika Surudi menepikan Hino di bahu jalan yang retak, mesin masih menyala pelan seperti orang tua yang menahan napas. Ia turun, menjejak tanah becek sisa hujan tiga hari lalu, dan berjalan ke sisi truk untuk memeriksa jerigen yang tinggal dua, disandarkan miring di antara ban serep dan kotak perkakas. Ia mengangkat satu, mengguncangnya pelan di telinga. Suara solar yang tersisa terdengar tanggung — bukan penuh, bukan juga benar-benar kosong. Seperti harapan yang masih ada tapi tak bisa diandalkan.
Topan berdiri di sampingnya, memegangi peta yang sudah lecek di ujung-ujungnya, dilipat dan dibuka berkali-kali sepanjang hari sampai lipatannya sobek tipis. Cahaya senter di gigi ia jepit, menyorot garis-garis yang sudah ditandai spidol merah oleh tangan Surudi sendiri beberapa hari sebelumnya — jalur-jalur yang dulu jadi rencana cadangan.
"Yang lewat Simpang Tigo, ditutup," kata Topan, jarinya menelusuri garis merah paling atas. "Katanya jembatannya ambruk kena banjir kemarin. Yang lewat belakang pabrik karet juga, ada orang jaga di situ sejak subuh."
"Orang Codet?"
"Kata sopir tadi di pom, iya. Tiga motor, satu pikap. Nongkrong di mulut jalan, nyetop siapa aja yang bawa muatan besar."
Surudi tidak menjawab dulu. Ia menurunkan jerigen, meletakkannya kembali di tempatnya, lalu berdiri menatap kegelapan di depan kap mesin, ke arah bukit-bukit yang mulai kehilangan bentuknya, ditelan malam. Dua puluh lima tahun ia hafal rute ini seperti hafal garis di telapak tangannya sendiri, dan dua puluh lima tahun itu belum pernah membuatnya berdiri di titik seperti sekarang — di mana peta yang ia kenal luar kepala tinggal satu garis yang belum dicoret.
"Yang lewat jalan lama, dekat pabrik semen?" tanyanya, walau ia sudah menduga jawabannya.
Topan menggeleng pelan. "Longsor belum dibersihin, Pak. Radio bilang alat berat baru dikirim, entah kapan selesai."
"Yang motong lewat perbatasan kabupaten?"
"Ditutup juga. Katanya ada razia timbangan dadakan. Herman yang kasih tahu Codet, kayaknya. Semua yang dulu kita rencanain, dia yang tahu."
Nama itu keluar datar dari mulut Topan, tanpa amarah lagi, seperti luka yang sudah mengering dan tinggal bekas. Surudi mengangguk kecil. Ia sudah berhenti marah pada Herman beberapa hari yang lalu — marah butuh tenaga, dan tenaga itu sekarang harus ia simpan untuk hal lain.
Ia meraih peta dari tangan Topan, membentangkannya di kap mesin yang masih hangat, menahannya dengan telapak tangan supaya tak tertiup angin. Senter disorotkan Topan dari atas bahunya. Garis merah memenuhi hampir seluruh lembar itu sekarang — jalan pintas yang biasa ia pakai untuk menghindar dari mata Codet, jalur tikus yang cuma sopir lama yang tahu, semuanya sudah dicoret satu per satu sejak tiga hari terakhir seperti seseorang sedang menutup pintu-pintu di sebuah rumah, ruangan demi ruangan, sampai yang tersisa cuma satu.
Jarinya berhenti di satu garis yang belum tersentuh spidol. Garis itu berkelok-kelok, bukan lurus seperti jalan lain, digambar dengan banyak lekukan kecil yang saling tumpuk sampai hampir tak terbaca kalau bukan tangan yang sudah hafal jalan itu sendiri yang menggambarnya.
Tikungan Seribu.
Ia tidak berkata apa-apa dulu. Angin membawa bau tanah basah dan solar yang menguap dari knalpot, dan entah kenapa, di titik itu, kabut yang biasanya baru turun larut malam sudah mulai merayap dari lembah jauh di depan, tipis-tipis, seperti sesuatu yang sudah menunggu sejak lama.
"Pak?" Topan memanggil pelan, melihat Surudi diam terlalu lama.
"Tinggal itu," kata Surudi akhirnya, suaranya rendah, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Semua jalan yang kita punya, abis. Yang ketutup, ketutup. Yang ilang, ilang." Ia melipat kembali peta itu, tapi kali ini pelan-pelan, seperti melipat sesuatu yang sudah selesai dipakai. "Tinggal satu jalan doang. Lewat Tikungan Seribu."
Topan menoleh ke arah bukit yang mulai berkabut itu, dan Surudi melihat rahang anak muda itu mengeras. Bukan takut yang tampak di wajahnya — Topan sudah lewat fase itu sejak Ujang gugur, sejak Sarki dibawa pergi di simpang yang basah oleh hujan dan darah — tapi sesuatu yang lebih berat, semacam kesadaran bahwa jalan yang tersisa ini bukan jalan biasa.
"Solar kita berapa lagi, Pak?"
Surudi tidak perlu melihat jarum untuk menjawabnya. Ia sudah menghitungnya sepanjang sore, mengecek tiap tanjakan yang mereka lewati, tiap kali menahan gas supaya jarum itu turun sepelan mungkin. "Cukup buat separuh jalan," katanya. "Mungkin kurang."
"Berarti—"
"Berarti kita masuk dengan apa yang ada," potong Surudi, dan untuk pertama kalinya sejak sore itu, ada sesuatu yang tenang di suaranya, bukan pasrah, tapi semacam keputusan yang sudah dibuat jauh sebelum kata-kata itu keluar. Ia sudah tahu, sejak Codet menutup satu per satu jalur solarnya, sejak gudang dibakar, sejak Sarki hilang di simpang itu, bahwa cepat atau lambat ia akan berdiri persis di titik ini — tanpa pilihan lain selain jalan yang paling ia kenal dan paling ia takuti sekaligus.
Ia menepuk kap mesin Hino itu dua kali, pelan, seperti menenangkan kuda tua sebelum tanjakan berat. Lalu ia menatap Topan, dan untuk sesaat wajah anak muda itu mengingatkannya pada dirinya sendiri dua puluh lima tahun lalu — masih penuh tanya, tapi sudah berhenti bertanya kapan semuanya akan lebih mudah.
"Naik," kata Surudi. "Kita udah nggak punya jalan buat mikir lama-lama lagi."
Topan melipat peta yang sudah tak berguna itu dan menyelipkannya di balik jok, bukan dibuang — seakan-akan tahu bahwa sesuatu yang sudah selesai dipakai tetap layak disimpan sebagai bukti bahwa mereka pernah mencoba semua jalan lain sebelum sampai ke jalan terakhir ini.
Mesin Hino menderu, agak berat di awal seperti biasa, lalu stabil. Lampu depan menyorot jalan yang mulai menyempit dan berkelok, dan jauh di ujungnya, kabut tipis yang tadi merayap dari lembah kini mulai naik ke badan jalan, menyambut mereka seperti sesuatu yang sudah lama menunggu giliran.
Surudi memegang setir dengan dua tangan, menatap lurus ke depan, ke arah bukit yang perlahan menelan cahaya lampunya sendiri. Ia tidak tahu apa yang menunggu di ujung Tikungan Seribu malam ini. Yang ia tahu hanya satu — tak ada jalan pulang lagi selain menembusnya.