Angin dari lembah membawa bau tanah basah bercampur solar ketika Surudi menepikan Hino di samping gudang transit yang sudah lama kosong, temboknya berlumut, atapnya berlubang di beberapa titik. Ia mematikan mesin, dan sunyi yang datang sesudahnya terasa lebih berat daripada deru yang barusan menghilang. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sembilan lewat. Masih ada jalan panjang sebelum kabut yang mereka takuti, dan solar yang tersisa di tangki tinggal separuh jerigen terakhir yang disembunyikannya sendiri berbulan-bulan lalu.
Ia turun, memeriksa jerigen di bawah terpal dengan tangan yang gemetar bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya sendiri sudah tak sanggup berpura-pura kuat. Topan berjaga di sisi lain truk, matanya awas ke jalan kosong, ke tempat yang biasanya diisi bayangan Sarki. Sejak simpang itu, kabin terasa seperti punya satu kursi yang selalu kosong.
Lampu sorot muncul dari tikungan, menyapu tembok gudang, lalu padam sebelum sempat menyilaukan. Sebuah pikap tua berhenti agak jauh, dan dari situ turun sesosok yang dikenali Surudi bahkan dari jarak yang tak bersahabat dengan matanya yang sudah menurun.
Herman.
Bukan Herman yang necis dengan map di ketiak seperti dulu di kantor PO Bahari. Yang berjalan mendekat sekarang berbaju kumal, rambutnya awut-awutan, dan di belakangnya dua orang bertubuh besar berjalan lebih dulu memandangi bak truk seperti sedang menaksir isi sebuah toko yang akan dijarah.
"Surudi." Suaranya masih mencoba tenang, walau napasnya memburu. "Aku nggak ke sini buat bikin ribut."
"Kalau begitu kau salah tempat," kata Surudi datar. "Orang yang nggak mau ribut nggak bawa dua tukang pukul."
Herman mengangkat tangan, seolah itu bisa meredakan sesuatu. "Ini buat kebaikan kita berdua. Bang Codet nanya-nanya soal aku. Katanya aku masih setor ke PO Bahari yang udah nggak ada urusan sama dia. Aku butuh sesuatu buat dibawa pulang, Rud. Nggak usah semuanya. Separuh muatan aja. Aku bilang ke Bang Codet, kau nggak jadi lewat, urusan selesai, kau tetap jalan aman sampai Lampung."
Surudi menatapnya lama. Ada masa ketika ia percaya penuh pada laki-laki ini, ketika Herman adalah satu-satunya orang yang menjanjikan ongkos yang bisa menyelamatkan sekolah anaknya. Sekarang yang berdiri di depannya cuma orang yang kepepet dari dua arah, mencoba menyelamatkan diri dengan mencuri dari orang yang lebih kepepet lagi.
"Kau bukan lagi orang PO Bahari," kata Surudi pelan. "Kau juga bukan orangnya Codet. Kau cuma orang yang lagi nyari siapa yang mau nampung."
Rahang Herman mengeras. "Terserah kau mau bilang apa. Aku nggak datang buat didengarin ceramah sopir tua." Ia memberi isyarat dengan dagu. Dua orang di belakangnya bergerak ke arah bak, salah satu sudah memegang tepi terpal, menariknya kasar.
"Jangan sentuh," suara Surudi naik satu tingkat, tapi kakinya tak bergerak secepat dulu, dan ia tahu itu. Ia melangkah menghadang, namun tubuhnya yang lelah dari ratusan kilometer membuat gerakannya setengah beat lebih lambat dari yang ia inginkan.
Yang lebih cepat justru Topan.
Ia sudah memanjat ke atas ban serep sebelum orang itu sempat menaikkan kaki ke bemper, mendorong bahu si penarik terpal hingga oleng jatuh ke tanah berdebu. "Ini bukan barangmu," suaranya pecah tapi keras, "dan ini bukan barangnya Codet."
Orang kedua mencoba menariknya turun dari atas bak. Topan melawan dengan cara yang tak elegan — menendang, mencengkeram apa saja yang bisa dicengkeram — sampai kotak paling depan, yang sejak Kayuagung selalu ia jaga tanpa banyak bicara, nyaris tergelincir ke bibir bak. Ia melompat menangkapnya dengan tubuhnya sendiri, membiarkan pundaknya membentur besi lebih dulu daripada membiarkan kotak itu jatuh ke tangan siapa pun yang bukan Surudi.
"Suruh mereka mundur, Herman," kata Surudi, suaranya berubah, bukan lagi menahan diri. "Atau aku ceritakan ke semua orang di jalan ini siapa yang dulu bocorin rencana gudang solar ke Codet demi nyelamatin kulitnya sendiri. Biar Bang Codet sendiri yang mikir, orang kayak kau ini masih pantas dipercaya apa nggak."
Herman terdiam. Ancaman itu tidak butuh kekerasan untuk menusuk—ia tahu betul, di antara dua majikan yang sudah sama-sama curiga padanya, satu bisikan lagi bisa membuatnya kehilangan tempat berlindung yang terakhir. Wajahnya, yang tadi keras, perlahan mengendur jadi sesuatu yang lebih mirip putus asa.
"Kau nggak ngerti," gumamnya, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Aku juga nggak punya jalan pulang."
"Itu bukan urusanku," kata Surudi. Tapi ia mengucapkannya tanpa kemenangan, karena ia tahu persis rasanya berdiri di persimpangan tanpa jalan aman.
Herman memberi isyarat pada dua orangnya untuk mundur. Ia menatap Topan sebentar, yang masih memeluk kotak itu dengan pundak berdarah tergores besi, lalu menatap Surudi lagi. "Kalian nggak akan lolos di depan sana," katanya, suara terakhirnya lebih mirip peringatan daripada ancaman. "Bang Codet udah nunggu di jalan sebelum kabut."
Ia berbalik, masuk ke pikapnya, dan lampu itu berputar menghilang di tikungan yang sama tempat ia datang.
Surudi berjalan ke sisi bak, membantu Topan turun. Anak muda itu meringis memegangi pundaknya, tapi kotak di pelukannya tak tergores sedikit pun.
"Kau bisa aja lepasin itu," kata Surudi pelan, "biar mereka bawa separuh, kita tetap jalan."
"Nggak," jawab Topan, masih terengah. "Sarki udah korbanin diri buat ini. Aku nggak mau kotak ini jatuh cuma karena aku takut sakit."
Surudi menatapnya lama dalam gelap yang mulai berbau kabut. Semua keraguan lama—bisik-bisik yang pernah membuatnya curiga anak ini menyimpan urusan sendiri dengan orang Codet—luruh sudah, tanpa perlu diucapkan siapa pun. Ia menepuk pundak Topan yang tak terluka, lalu naik kembali ke kabin.
"Ayo," katanya. "Codet mau nunggu di depan sana, biar nunggu. Solar kita masih ada sampai tikungan berikutnya."
Mesin Hino menyala dengan batuk yang makin berat, lalu bergerak lagi ke arah gelap yang perlahan mulai berkabut.