Malam belum benar-benar pergi ketika Hino itu turun dari punggung Sitinjau, mesinnya masih gemetar seperti kuda tua yang baru saja dipaksa lari terlalu jauh. Surudi duduk di kursi kenek sekarang, keringat dingin masih membasahi kerah bajunya, tangannya mencengkeram pegangan pintu seolah tubuhnya sendiri tak lagi bisa dipercaya. Topan memegang kemudi dengan buku-buku jari memutih, matanya awas ke depan, tapi sesekali melirik ke arah Surudi, memastikan lelaki itu masih bernapas, masih di sana.
"Kau bawa dia dengan benar tadi," kata Surudi, suaranya serak. "Rem angin, gigi rendah, semua persis."
Topan tidak menjawab. Ada sesuatu di wajahnya yang bukan bangga, melainkan waspada, seperti anjing yang mencium sesuatu jauh sebelum majikannya sadar.
"Ada yang ngikut, Pak."
Surudi menoleh ke spion sisi kanan. Mula-mula hanya sepasang lampu jauh, kecil, tenggelam dalam kabut tipis sisa dari puncak tanjakan. Tapi lampu itu tidak menjauh, tidak juga mendekat terlalu cepat — ia menjaga jarak, sabar, seperti sesuatu yang tahu betul truk di depannya tak bisa lari jauh dengan tangki nyaris kering.
"Jaga jarak. Jangan ngebut," ucap Surudi. Ia menahan diri untuk tidak berteriak. Dua puluh lima tahun di jalan mengajarinya bahwa panik di dalam kabin menular lebih cepat daripada asap knalpot.
Mereka mengejar satu titik yang sudah dihitung Surudi sejak dua hari sebelumnya — sebuah pengecer solar kecil di pinggir simpang menjelang turunan panjang, jauh dari pos-pos resmi Codet, tempat seorang lelaki tua bernama Kasdi masih mau melayani sopir mana pun asal dibayar tunai lebih. Bukan solar oplosan. Solar asli, sisa jatah yang disembunyikan Kasdi dari matanya sendiri orang-orang Codet. Itu satu-satunya harapan sebelum mulut Tikungan Seribu.
Ketika truk itu berbelok masuk simpang, Surudi merasakan sesuatu yang salah sebelum matanya sempat memastikan. Terlalu sepi. Warung Kasdi yang biasanya menyala satu lampu neon kuning di jam segini, kini gelap. Dan di depan pintu selang, berdiri tiga sosok yang bukan Kasdi.
"Berhenti di sini saja," kata Surudi pelan. "Jangan dekat-dekat dulu."
Topan menginjak rem, dan dari balik kaca depan yang berembun mereka melihatnya — seseorang berjalan keluar dari kegelapan warung dengan langkah yang tak tergesa, seolah waktu adalah miliknya sendiri. Wajahnya baru jelas ketika ia berhenti tepat di bawah lampu depan truk yang masih menyala: codet memanjang dari pelipis ke rahang, garis lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Bang Codet.
Bukan Gimbal yang biasa mengurus urusan kotor. Kali ini rajanya sendiri yang datang.
Surudi merasakan sesuatu mengencang di dadanya, bukan takut — atau bukan hanya takut. Ada juga rasa aneh, hampir seperti lega, karena akhirnya yang di puncak jaring itu berhenti bersembunyi di balik anak buahnya.
"Turun, Bang Sur," kata Codet, suaranya datar, hampir ramah, seperti sedang menyapa kawan lama di pos ronda. "Cuma mau ngobrol."
"Ngobrol boleh dari sini juga," jawab Surudi lewat kaca yang setengah terbuka.
Codet tersenyum tipis. Ia melangkah dua tiga langkah lagi, tangannya terselip santai di saku jaket. Di belakangnya, dua bayangan lain — salah satunya jelas Gimbal, tubuh besar yang berdiri diam seperti tembok — mengapit pintu warung, memastikan tak ada yang bisa lewat tanpa izin.
"Kasdi lagi istirahat," kata Codet. "Selamanya, mungkin. Orang tua kayak dia harusnya tahu diri, jangan ikut-ikutan main di jalan yang bukan miliknya."
Kalimat itu meluncur ringan, tapi Surudi mendengar ancaman di baliknya sejernih suara klakson malam. Kasdi. Satu-satunya sumber solar yang tersisa. Dihabisi, atau setidaknya dibungkam, sebelum truk mereka sempat tiba.
"Kau tahu berapa titik yang sudah kutup selama tiga hari ini, Sur?" Codet melangkah lebih dekat, sampai wajahnya bisa dilihat jelas oleh lampu sorot — mata yang tenang, terlalu tenang untuk orang yang katanya menguasai separuh lintas. "Semua. Dari sini sampai mulut Tikungan Seribu, tak ada satu pun selang yang mau buka buat truk kau. Aku sendiri yang jaga."
Surudi menatap orang itu lama. Di kejauhan, mesin Hino masih berdesing pelan, seperti jantung yang menahan napas.
"Kau turun tangan sendiri," kata Surudi akhirnya, "berarti kau memang takut."
Senyum di wajah Codet menghilang sekejap, cepat sekali, sebelum kembali terpasang. "Aku cuma mau lihat sendiri," katanya, "sopir tua yang katanya hafal tiap jengkal jalan ini, kering kerontang di tengah kabut. Aku mau lihat kau berhenti, Sur. Bukan karena dihajar. Bukan karena truk kau dibakar. Tapi karena tangki kau kosong, dan tak ada satu jiwa pun di sepanjang lintas ini yang berani jual kau solar. Itu yang paling ngajar orang."
Topan di kursi kemudi menggenggam setir lebih erat, rahangnya mengeras, tapi ia tak bersuara — ia tahu ini bukan pertarungannya untuk dimasuki, belum.
Surudi menimbang, sepersekian detik, seluruh pilihan yang tersisa: memutar arah, mencari jalan tikus lain, menunggu subuh dengan harapan tipis. Tapi ia sudah tahu jawabannya sebelum benar-benar bertanya. Codet baru saja mengucapkannya sendiri — semua titik sudah tertutup. Semua jalan pintas sudah dijaga. Yang tersisa hanya satu: terus maju dengan apa yang ada di tangki, menembus kabut yang menunggu di depan, entah sampai mana solar itu bisa membawanya.
"Kalau begitu," kata Surudi pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang di depan kap mesinnya, "aku jalan saja."
Codet mengangkat tangan, memberi isyarat kepada Gimbal untuk mundur, membiarkan jalan di depan sedikit lapang — bukan karena mengalah, tapi karena ia tahu benar apa yang menunggu di ujung jalan itu.
"Silakan," katanya, hampir berbisik. "Aku akan lihat dari kaca spion kau sendiri, Sur. Sampai lampu belakang truk kau padam di tikungan."
Truk itu bergerak lagi, perlahan, melewati sosok bercodet yang berdiri tegak di tepi jalan seperti tonggak batas yang tak lagi bisa dinegosiasikan. Dan sepanjang kilometer berikutnya, di kaca spion sisi kanan, sepasang lampu jauh itu masih ada — tidak mengejar, hanya mengikuti, sabar, seperti maut yang tahu ia tak perlu tergesa.