Sitinjau menyambut mereka dengan kabut tipis yang menggantung di celah-celah pohon, seperti asap yang enggan pergi. Surudi menurunkan gigi persneling satu tingkat, jari-jarinya kaku di batang tuas yang dingin oleh dini hari. Sudah tiga hari ia nyaris tak tidur. Sudah tiga hari juga bayangan Sarki—cara sahabatnya itu membelokkan truk ke arah pengejar, membiarkan dirinya jadi umpan—terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Pak, jarum solar," kata Topan dari bangku kenek, suaranya pelan seolah takut angka itu berubah kalau disebut terlalu keras.
"Aku tahu." Surudi tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke tanjakan pertama yang mulai menanjak curam, satu-satunya jalan yang tersisa untuk mereka setelah semua pintu lain ditutup Codet. "Simpan napasmu buat nanti."
Tapi tubuhnya sendiri yang tak mau menyimpan apa-apa lagi. Ada rasa aneh menjalar dari tengkuk ke pelipis, seperti ada orang menekan kain basah dingin di sana, lalu tiba-tiba semua suara di kabin—deru mesin, derit per, napas Topan—menjauh, seolah didengar dari dasar sumur.
"Pak?"
Surudi berkedip. Sekali. Dua kali. Jalan di depannya berbayang jadi dua, lalu tiga, sebelum akhirnya menyatu kembali, tapi terlambat setengah detik—dan setengah detik di tanjakan macam ini bisa berarti roda depan menggigit bahu jalan yang rapuh.
"Topan." Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, seperti orang lain yang bicara lewat mulutnya. "Pegang setir."
"Apa?"
"Sekarang." Tangan Surudi masih di kemudi, tapi tak ada lagi tenaga di sana untuk melawan tarikan jalan. "Aku... nggak kuat sebentar."
Topan menyambar setir dari sisi kenek dalam posisi paling canggung yang pernah ia lakukan seumur hidup, satu tangan menjangkau, satu kaki nyaris menginjak kaki Surudi yang masih di pedal. Truk oleng sedikit ke kanan, ban belakang mendecit di aspal berpasir, dan untuk sepersekian detik Topan yakin mereka akan berguling ke jurang di sisi kiri jalan.
"Pak! Pak Surudi!"
Kepala Surudi terkulai ke sandaran jok, matanya masih terbuka tapi separuh tertutup, seperti orang yang mengantuk paksa di tengah rapat penting. "Aku di sini," gumamnya, susah payah. "Aku dengar. Kamu... geser. Duduk di kursiku."
"Nggak bisa, Pak, truk lagi jalan—"
"Geser," Surudi memaksakan diri duduk sedikit lebih tegak, meski lehernya terasa seperti diisi timah. "Rem tangan jangan disentuh. Injak kopling. Sekarang."
Topan menurut karena tak ada pilihan lain. Ia setengah memanjat, setengah dilempar tubuhnya sendiri ke kursi sopir, kedua tangannya mencengkeram setir yang masih hangat oleh keringat Surudi, kakinya meraba tiga pedal yang belum pernah benar-benar ia kuasai kecuali dalam latihan singkat di jalan lurus, bukan di tanjakan yang menelan nyawa orang tiap tahunnya.
"Gigi dua," kata Surudi, matanya terpejam sekarang, tapi mulutnya masih bergerak seperti mesin yang menolak mati meski bahan bakarnya sisa uap. "Jangan gigi tiga. Kalau gigi tiga di tanjakan ini, mesin bakal ngempos, dan kalau ngempos di sini—"
"—truk mundur sendiri," sambung Topan, mengingat kata-kata yang sama diucapkan Surudi berbulan-bulan lalu, di kabin yang sama, di jalan yang berbeda. Suara itu keluar dari mulutnya sendiri sebelum ia sadar sedang mengucapkannya.
"Bagus. Kamu inget."
Roda depan menghantam lubang kecil, kabin berguncang, dan tangan Topan otomatis melunakkan cengkeramannya alih-alih mengeraskan—persis seperti yang diajarkan, jangan lawan setir, biarkan ia meluruskan sendiri. Ia menahan napas melihat truk kembali stabil di jalurnya.
"Ada tikungan," gumam Surudi, suaranya nyaris berbisik, tapi telinga Topan sudah terlatih menangkap tiap nada dari bulan-bulan di kabin sempit ini. "Ke kiri. Jangan rem. Turunin gigi kalau perlu, tapi jangan rem di tikungan basah."
"Kabut, Pak, saya nggak keliatan ujungnya—"
"Ikutin garis putih. Kalau garis putih ilang, itu artinya bahu jalan udah abis, jangan ambil kiri lagi."
Topan mencondongkan badan ke depan, matanya menyipit menembus kabut yang menggantung rendah, mencari serpihan cat putih yang nyaris pudar di aspal tua. Ia menemukannya—garis tipis, patah-patah, tapi ada. Ia membelokkan setir mengikutinya, jantungnya berdebar sekeras piston, dan truk melewati tikungan itu dengan goyangan yang terasa seperti keajaiban kecil.
Di sampingnya, Surudi tertawa lemah, suara yang lebih mirip batuk. "Kamu... udah jadi sopir."
"Belum, Pak. Saya cuma nurut suara Bapak."
"Itu... yang namanya belajar." Kepala Surudi miring ke jendela, matanya benar-benar terpejam sekarang, napasnya berat tapi teratur—bukan pingsan, hanya tubuh yang akhirnya menyerah pada batasnya sendiri, memaksa diri istirahat walau pemiliknya menolak. "Bangunin aku... kalau ketemu tanjakan curam lagi."
Topan tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke jalan yang menanjak terus di depannya, kabut yang belum juga menipis, dan jarum solar yang masih menunjuk angka yang membuatnya ingin muntah kalau sempat memikirkannya lebih lama. Tapi ia tidak sempat. Tangannya penuh dengan setir, kakinya penuh dengan tiga pedal, dan di dadanya ada sesuatu yang baru—bukan rasa takut yang biasa menemaninya sejak kenek pertama kali naik ke kabin ini, melainkan tanggung jawab yang berat namun aneh nyaman, seperti sepatu bot yang akhirnya pas di kaki setelah dipaksa dipakai berbulan-bulan.
Ia menginjak kopling, memasukkan gigi dua seperti yang diajarkan, dan membawa Hino tua itu menembus punggung Sitinjau sendirian, sementara suara Surudi—lemah, terputus-putus, tapi masih di sana—terus menuntunnya dari kursi sebelah, seperti kompas yang menolak berhenti berdetak meski jarumnya sendiri nyaris kehabisan tenaga.