Kabut belum benar-benar turun ketika Surudi menepikan Hino di bahu jalan sebelum mulut Sitinjau, dan ia mematikan mesin bukan untuk beristirahat, melainkan untuk mendengar. Ada suara yang hanya bisa didengar sopir tua ketika mesin diam: gemericik di dalam tangki, tipis, seperti air di dasar kendi yang tinggal seperempat. Ia menutup mata sebentar. Tangan Sarki masih terasa di pundaknya dari beberapa jam lalu, sebelum kawan tua itu membelokkan truknya ke arah lain, memancing lampu-lampu pengejar Codet menjauh, dan tak kembali. Surudi tidak menangis. Ia hanya menelan sesuatu yang pahit dan mengeras di kerongkongannya, lalu membuka mata lagi.
"Pak," Topan berbisik dari kursi sebelah, seolah takut suaranya sendiri memancing bahaya dari balik pepohonan. "Jarumnya."
Surudi tidak perlu melihat. Ia sudah tahu. Tapi ia menoleh juga ke dasbor yang temaram, ke jarum solar yang sudah lama tidur di dekat huruf E, sekarang bersandar padanya seperti orang sakit yang menyerah pada bantal. Merah. Lampu peringatan kecil itu menyala sejak turunan tadi, mengedip malu-malu, lalu menyala tetap. Cahaya kecil yang bagi orang lain cuma isyarat mampir ke pom bensin. Bagi Surudi malam ini, itu hitungan mundur.
"Turun," katanya. "Bawa senter. Jangan yang terang."
Mereka menyusup ke bak belakang. Di sana, di antara terpal dan ganjalan kayu, tersembunyi tiga jerigen yang tersisa dari sekian banyak yang dulu ia timbun di titik-titik rahasia sepanjang lintas. Yang lain sudah tandas, terpakai lolos dari hadangan, satu tumpah di lumpur ketika badai kemarin. Tiga jerigen. Surudi menjongkok, mengangkat yang pertama. Ringan. Ia mengguncangnya dan mendengar cairan bergoyang hanya sampai sepertiga. Yang kedua lebih ringan lagi, nyaris kosong, cuma menyisakan bau. Yang ketiga penuh, dua puluh liter, berat dan jujur di tangannya.
Ia meletakkan ketiganya berjajar di lantai bak, dan untuk sesaat ia hanya memandanginya seperti seorang bapak menghitung anak yang tersisa setelah wabah.
"Berapa, Pak?" tanya Topan.
Surudi tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan corong dari balik jok, kain lap, dan mulai menghitung dengan cara yang tak diajarkan sekolah mana pun — dengan tangan, dengan telinga, dengan dua puluh lima tahun. "Sitinjau itu bukan tanjakan biasa," katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Dia minta. Dia rakus. Truk sekosong ini pun, gigi satu terus, dia telan solar seperti orang haus telan air kelapa." Ia mengetuk jerigen ketiga. "Dua puluh liter ini buat naik. Cukup. Kalau mesin sehat. Tapi mesin kita batuk, Pan. Solar oplosan kemarin bikin injektornya manja. Dia buang lebih banyak dari yang dia bakar."
Topan diam. Cahaya senter yang ia tudungi dengan telapak tangan membuat wajah mudanya berpendar merah, dan Surudi melihat di situ ketakutan yang jujur, ketakutan yang tak malu-malu seperti dulu.
"Yang sepertiga ini," Surudi mengangkat jerigen pertama, "buat cadangan di puncak, kalau-kalau. Yang bau ini—" ia menyingkirkan yang kedua, "—buang. Cuma bikin berat harapan."
Ia mulai menuang. Perlahan, corong dijepit di antara jari, tak satu tetes pun ia biarkan jatuh ke tanah. Bau solar naik, tajam, akrab, bau yang sudah dua puluh lima tahun jadi napas hidupnya. Ia menuang seolah menuang darah, memiringkan jerigen sampai leher, menunggu tetes terakhir menggantung di bibir corong sebelum ikut turun. Tangannya, yang belakangan ini gemetar kalau terlalu lelah, malam ini setenang batu.
"Kenapa nggak kita isi semua sekarang, Pak? Biar tenang."
"Karena aku nggak mau tenang," Surudi berkata. "Tenang itu bikin kaki berat menginjak gas kalau perlu injak. Aku mau tahu persis berapa yang kupunya, biar aku tahu persis kapan aku boleh takut dan kapan enggak." Ia menutup tangki, mengencangkannya dengan telapak. "Codet nunggu kita kering. Dia sudah tutup semua selang dari sini sampai kabut Tikungan Seribu. Dia pikir kita bakal berhenti sendiri di suatu tempat, mengemis solar, lalu dia datang dengan wajah baik hati. Dia hitung juga, Pan. Sama seperti aku hitung."
"Terus siapa yang benar hitungannya?"
Surudi menegakkan badan. Lututnya berbunyi. Di bawah, jauh di lembah, lampu satu-dua truk merayap seperti kunang-kunang sekarat, dan entah yang mana kawan, entah yang mana pengintai. Kabut mulai merangkak naik dari jurang, membawa dingin dan bau tanah basah.
"Yang lebih hafal jalannya," jawabnya akhirnya. "Codet punya solar sebanyak yang dia mau. Tapi dia nggak pernah dorong Hino tua lewat Sitinjau pakai tangki kosong. Dia nggak tahu di kilometer berapa tanjakan sedikit landai, di mana bisa lepas gas sepersekian detik dan biarkan momentum yang kerja. Aku tahu. Kaki kananku hafal setiap senti aspal itu." Ia menepuk dinding bak truknya sendiri, halus, seperti menepuk leher kuda tua yang diminta berlari sekali lagi. "Kita nggak punya solar buat menang, Pan. Kita cuma punya solar buat sampai. Sisanya, jalan yang harus bayar."
Topan menelan ludah, lalu mengangguk, dan dalam anggukan itu ada sesuatu yang membuat dada Surudi hangat sedikit — kepercayaan yang tak minta bukti.
Mereka turun kembali ke kabin. Surudi mengusap kaca spion, memandang sebentar ke belakang, ke arah simpang tempat Sarki menghilang. "Maaf, kawan," gumamnya, terlalu pelan untuk didengar siapa pun. "Nanti kuselesaikan."
Ia memutar kunci. Mesin batuk sekali, dua kali, seperti orang tua yang enggan bangun, lalu menyala serak. Jarum solar naik sedikit dari sandarannya di huruf E, cuma sedikit, cuma cukup untuk memberi ilusi bahwa mereka masih punya waktu. Surudi menatapnya dan tersenyum tipis, senyum tanpa gembira, senyum orang yang tahu persis harga setiap tetes di bawah kap itu.
"Pegangan," katanya. Ia memasukkan gigi satu. Di depan, mulut Sitinjau menganga dalam gelap, menanjak curam ke arah kabut, menunggu untuk meminta lagi. Dan Surudi, dengan tangki yang lebih banyak berisi tekad daripada solar, mulai mendaki.