Hujan sudah reda ketika mereka sampai di simpang tiga sebelum Kayuagung, tapi jalan masih licin oleh lumpur merah yang terbawa dari perbukitan. Surudi menepikan Hino di balik gerombolan bambu, mematikan lampu, dan mendengarkan detak jam di pergelangan tangannya seperti detak jantung sendiri. Topan duduk kaku di sebelahnya, tangan masih gemetar sisa memegang kemudi sepanjang badai tadi. Di kaca spion, lampu sorot tiga motor dan satu pikap bak terbuka berkedip-kedip di kejauhan, mendekat pelan-pelan seperti anjing yang mencium darah.
Sarki datang dari arah berlawanan, truknya berhenti sejajar, kaca jendela diturunkan. Wajahnya penuh lumpur, matanya merah karena semalaman tak tidur.
"Mereka sudah tahu kita lewat sini," kata Sarki. "Herman kasih tahu, atau ada yang bocor lagi. Nggak penting siapa. Yang penting simpang ini cuma ada dua jalan—ke Kayuagung lewat jalan besar, atau ke arah tambang lewat jalan tikus yang aku tahu."
"Jalan tikus itu buntu kalau hujan begini," kata Surudi. "Aku sudah cek peta yang kita gambar ulang."
"Buntu buat truk gandeng. Nggak buntu buat aku." Sarki tersenyum, senyum yang dipaksakan, dan Surudi mengenali senyum itu—senyum yang sama waktu Sarki dulu bilang tak takut apa-apa padahal tangannya basah keringat. "Kau bawa muatan yang lebih penting dari nyawaku, Rudi. Kau jalan terus ke Kayuagung. Aku tarik mereka ke tambang."
"Tidak." Surudi turun dari kabin, sepatu botnya membenam ke lumpur. "Kita cari jalan lain. Kita nggak pisah di sini."
"Nggak ada jalan lain, dan kau tahu itu." Sarki ikut turun, berdiri berhadapan, tinggi mereka nyaris sama meski umur Sarki dua tahun lebih tua. "Aku sudah hitung. Motor-motor itu lebih cepat dari kita berdua kalau jalan bareng-bareng, tapi kalau kita pecah, mereka cuma bisa kejar satu. Kau bawa muatan Pak Hasan, kau bawa Topan, kau yang harus sampai. Aku cuma bawa truk kosong pulang dari Menggala. Aku umpan yang paling murah di sini."
Kata-kata itu menampar lebih keras dari yang Sarki maksudkan. Surudi ingat Ujang, ingat bagaimana kalimat semacam ini selalu jadi kalimat terakhir yang diucapkan orang-orang yang tak pernah pulang.
"Aku bukan Ujang," kata Sarki, seolah membaca pikirannya. "Aku sudah tua, aku sudah kenal jalan-jalan setan itu dari sebelum kau jadi sopir. Aku tahu di mana harus belok kalau motor-motor itu terlalu dekat, aku tahu di mana ada jembatan kayu yang bisa kutinggal runtuh di belakangku. Kau ajarkan aku itu sendiri, dulu, waktu kita masih sama-sama muda dan bodoh."
Lampu motor makin dekat, memantul di genangan air seperti mata yang berkedip di kegelapan. Topan turun dari kabin, berdiri di antara keduanya, wajahnya pucat.
"Aku ikut, Pak Sarki," kata Topan. "Biar dua truk—"
"Kau ikut Rudi." Suara Sarki tiba-tiba keras, hampir membentak, lalu melunak lagi. "Kau masih punya jalan panjang, Nak. Aku cuma perlu satu tikungan buat bikin mereka lupa arah."
Surudi menggenggam bahu Sarki, merasakan tulang di balik kulit yang mulai kendur oleh usia, oleh puluhan tahun duduk membungkuk di belakang kemudi. "Kau harus pulang, Sarki. Kau dengar aku? Bukan cuma tarik mereka, terus hilang. Kau harus pulang, ke istrimu, ke warung kopi tempat kita biasa mangkal."
"Aku akan coba." Sarki tersenyum lagi, kali ini lebih jujur, lebih getir. "Tapi kalau nggak sempat, kau yang cerita ke Bu Sarki apa yang sebenarnya terjadi. Jangan bikin cerita manis. Dia bukan perempuan yang suka dibohongi."
Tak ada waktu untuk kata-kata lain. Lampu sorot sudah membelah kabut tipis di ujung simpang, dan suara mesin motor mulai terdengar jelas, menderu seperti tawon yang marah. Sarki naik ke kabinnya, menyalakan mesin, dan untuk sesaat menoleh ke arah Surudi—satu tatapan panjang yang menyimpan dua puluh tahun persahabatan, jerigen solar yang pernah dibagi berdua di tengah malam, cerita anak-cucu yang saling ditukar di warung-warung sepanjang lintas Sumatra.
Lalu truk itu melesat ke kiri, ke jalan tikus menuju tambang, roda-rodanya melempar lumpur tinggi ke udara. Motor-motor Codet, seperti yang diperkirakan Sarki, berbelok mengikutinya, satu per satu, memburu lampu belakang yang menghilang di kelokan.
Surudi menaiki kabinnya sendiri dengan tangan gemetar, memutar kunci kontak, dan menekan gas ke arah Kayuagung. Di sebelahnya Topan menahan tangis, memandangi spion yang kini hanya menampakkan gelap.
Mereka baru mendengar kabarnya keesokan sore, dari seorang sopir yang lewat pos pengecekan dekat tambang: sebuah truk ditemukan terperosok di parit, kacanya pecah, pintu kabin melesak ke dalam seperti kaleng diremas. Sopirnya masih hidup—babak belur, tulang rusuk retak, satu tangan patah tak bisa digerakkan—tapi hidup. Orang-orang Codet meninggalkannya begitu saja di pinggir jalan, mungkin karena mengira ia sudah cukup hancur untuk jadi peringatan, atau karena mengejar truk kosong tak lagi ada gunanya begitu mereka sadar telah tertipu.
Surudi memarkir Hino di bahu jalan, turun, dan untuk pertama kali sejak Ujang meninggal ia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya dari Topan. Bukan tangis kehilangan—Sarki masih bernapas, masih akan pulang suatu hari, meski mungkin tak pernah bisa duduk lurus di belakang kemudi lagi—melainkan tangis karena harga yang harus dibayar seorang kawan lama demi satu simpang, demi satu keputusan untuk tak lari.
"Kita jalan terus," katanya kemudian, suaranya serak, menyeka wajah dengan lengan bajunya yang basah keringat dan hujan. "Sarki nggak akan mau kita berhenti di sini."
Topan mengangguk, tak sanggup bicara, dan menyalakan mesin. Di depan mereka, jalan menuju Sitinjau masih panjang, dan tangki solar—Surudi tahu tanpa perlu melihat jarumnya—sudah mulai menipis lebih cepat dari yang ia hitung.