Hujan mulai sebagai gerimis tipis begitu Hino melewati simpang terakhir sebelum lintas sepi, tapi baru tiga kilometer kemudian langit seperti pecah. Surudi merasakannya lebih dulu lewat suar yang berubah warna di kaca depan—dari abu-abu jadi hitam pekat dalam hitungan menit—sebelum air benar-benar tumpah. Wiper tua itu berayun kalang kabut, kalah oleh derasnya, dan lampu sein truk di depannya—entah truk siapa, entah kawan atau musuh—menjadi noda kuning yang mengambang lalu lenyap ditelan tirai air.
"Ini bukan hujan biasa, Pak," kata Topan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh di atap kabin.
"Aku tahu." Surudi menurunkan gigi, bukan karena takut, tapi karena ia sudah menghitung jalan macam apa yang menunggu di depan. Tanah lintas Sumatra kalau kena hujan sederas ini bukan cuma basah—ia berubah jadi makhluk lain, licin di permukaan tapi menghisap di bawahnya, siap menelan roda yang salah baca.
Lampu sorot di spion belakang masih ada, dua pasang, jaraknya sekitar empat ratus meter. Orang Codet. Sejak hadangan pertama merenggut satu jerigen rahasia, mereka tak lagi menyerang langsung—mereka menempel, menunggu Surudi lelah atau salah ambil jalur, baru menyergap di titik yang mereka pilih sendiri.
Jalan mulai menurun landai, lalu di depan, di bawah sorot lampu utama, Surudi melihatnya: aspal yang seharusnya ada sudah tergantikan oleh lumpur cokelat yang mengalir pelan menyeberangi badan jalan, seperti sungai baru yang baru saja lahir. Longsor kecil dari tebing sebelah kiri, belum besar, tapi cukup untuk menjebak truk yang tak paham caranya membaca aliran air.
"Pegangan," katanya pendek, dan itu saja sudah cukup bagi Topan untuk tahu harus diam.
Ia tidak mengerem. Itu pelajaran pertama yang ia berikan pada Topan bertahun—bukan, berminggu-minggu lalu di kabin ini juga: di jalan lumpur, rem adalah musuh, karena roda yang berhenti berputar akan langsung terjebak oleh tanah yang menghisap. Yang dibutuhkan cuma momentum yang cukup dan sudut yang tepat, seperti orang menyeberangi kolam berlumpur dengan langkah lebar, bukan berhenti di tengah untuk berpikir.
Surudi membaca aliran air di depan mata: di mana airnya jernih dan mengalir cepat, tanah di bawahnya keras—air tak bisa menetap lama di situ. Di mana airnya keruh dan tenang, seperti genangan yang malas bergerak, di situlah jebakan—tanah lembek yang menyimpan air seperti spons. Dua puluh lima tahun membaca jalan mengajarkannya itu tanpa perlu ia pikirkan lagi, insting yang bekerja lebih cepat dari kata-kata.
Ia mengarahkan roda depan sedikit ke kanan, mengambil jalur di mana air mengalir jernih dan cepat, membiarkan ban belakang mengikuti jejak yang sama persis—satu senti pun tak boleh melenceng, karena tronton bukan sedan yang bisa dikoreksi setengah jalan. Mesin meraung menahan beban, roda berputar dengan geram tapi tak slip, dan tubuh Hino miring beberapa derajat sebelum kembali tegak begitu roda belakang menapak tanah yang lebih padat.
Di kaca spion, ia melihat dua lampu sorot di belakang mulai goyah, saling silang, seperti pengemudi yang bingung memilih jalur. Salah satu dari mereka—mungkin sedan atau pikap ringan milik orang Codet—mengambil jalur yang salah, tepat di genangan tenang yang tadi Surudi hindari.
"Mereka ambil jalur kiri," kata Topan, setengah berteriak, setengah tak percaya.
Surudi tak menoleh. "Jalur itu yang paling enak dilihat mata. Makanya paling bahaya."
Dari kejauhan, meski suara hujan menelan hampir semua, terdengar juga bunyi mesin yang meraung sia-sia, ban yang berputar di tempat, memuntahkan lumpur ke udara tanpa membawa kendaraan itu ke mana-mana. Surudi tak berhenti untuk menikmati kemenangan itu—berhenti sama saja bunuh diri di jalan seperti ini. Ia menjaga kecepatan, menjaga napas mesin tetap stabil, matanya menyapu tiap meter jalan seakan jalan itu sendiri sedang bicara padanya, memberitahu di mana ia boleh percaya dan di mana ia harus curiga.
Lampu isyarat berkedip dari kejauhan di sisi kanan—Sarki, dengan truknya sendiri, memberi tanda dari jalur yang lebih tinggi, sedikit menjauh dari aliran utama longsor. Surudi membalas dengan kedipan yang sama, kode lama antar sopir yang tak perlu diterjemahkan lagi: aman, lanjut, aku di depan.
Baru setelah tikungan berikutnya, ketika tanah kembali mengeras dan aspal mulai menampakkan diri lagi di bawah hujan yang perlahan mereda jadi rintik, Surudi mengizinkan bahunya turun sedikit dari ketegangan yang menahannya sejak longsor pertama terlihat. Ia melirik spion. Lampu sorot pengejar sudah tak ada lagi di sana—entah tertahan lumpur, entah memilih putar balik mencari jalan lain yang lebih aman.
"Kita lolos?" tanya Topan, suaranya masih bergetar sisa tegang.
"Untuk sekarang." Surudi mengelap kaca depan yang berembun dengan punggung tangan, matanya tetap ke depan. "Jalan begini bukan cuma butuh mesin kuat. Butuh yang paham bahasanya."
Ia tidak menambahkan bahwa jalan di depan masih panjang, bahwa hujan bisa datang lagi kapan saja, bahwa Sitinjau menanti dengan tanjakannya yang tak kenal ampun, dan bahwa jerigen di bak masih harus dijaga sampai tetes terakhir. Cukup baginya malam ini bahwa Hino masih menapak, bahwa Topan masih di sampingnya, dan bahwa jalan—untuk sesaat—memilih berpihak padanya, bukan pada yang mengejarnya.