Malam menemukan mereka turun dari punggung bukit ke dataran yang lebih rendah, di mana kabut menipis menjadi gerimis, dan Surudi akhirnya menyalakan radio CB yang sejak siang ia biarkan diam. Ia memutar tombol, dan kabin terisi suara — bukan satu suara, tapi banyak, saling sahut di gelombang yang sama, dunia tak terlihat yang mengikuti jalan ini sepanjang malam.
"Apa itu, Pak?" Topan mendekat, tertarik. "Kayak banyak orang ngobrol."
"Frekuensi sopir," kata Surudi. "Sebelum ada HP, ini cara kami bicara di jalan. Sekarang HP tak ada sinyal di banyak ruas, jadi ini masih hidup. Kabar jalan, longsor, pos galak, kawan butuh tolong — semua lewat sini." Ia mengambil gagang mikrofon, menekan tombolnya, dan berbicara dengan kode panggil lamanya, kode yang sudah belasan tahun ia pakai. Hanya menyebut posisi dan tujuan, sopan, seperti adat.
Hening sebentar di frekuensi. Lalu sebuah suara, tua, parau, menyahut dengan nada yang berubah. "Itu... Pak De Jalan? Pak De Surudi?"
Dan tiba-tiba frekuensi ramai. Suara-suara menimpali, sebagian tak ia kenal, sebagian ia kenal seperti mengenal saudara. Pak De masih jalan, kata seseorang, kupikir sudah pensiun. Yang lain tertawa, yang lain menyapa hormat. Topan memandang Surudi dengan mata baru, karena di kabin tadi ia hanya melihat lelaki tua yang lututnya ngilu, tapi di frekuensi ini lelaki tua itu adalah nama yang dihormati, guru jalan, orang yang ceritanya diwariskan sopir muda yang tak pernah bertemu dengannya.
Salah satu suara memisahkan diri dari keramaian, meminta pindah ke gelombang lain yang lebih sepi, dan Surudi memutar tombol mengikutinya. Suara itu milik Nurhalim, kawan lama, sopir yang dulu sering seperjalanan dengannya, kini suaranya lebih tua, lebih lelah. Mereka bertukar kabar sebentar, basa-basi orang tua yang lama tak bertemu — anak, istri, lutut, mata. Lalu nada Nurhalim berubah, turun, hati-hati.
"Pak De mau lewat ruas barat? Yang ke Padang?"
"Iya," jawab Surudi. "Ada apa?"
Hening sejenak di frekuensi, hanya desis statis. "Jalan depan sudah lain sekarang, Pak De," kata Nurhalim akhirnya. "Sejak Pak De jarang lewat sini. Ruas gemuk dari simpang sampai bawah Sitinjau, itu sudah ada yang pegang. Orang panggil dia Codet."
Surudi sudah mendengar nama itu di warung, tapi mendengarnya di frekuensi, dari mulut kawan lama yang suaranya menurun seperti orang takut didengar, membuatnya terasa lebih nyata. "Aku dengar namanya. Dia tarik upeti."
"Bukan cuma tarik," kata Nurhalim. "Dia atur jalur. Setiap truk yang lewat ruas itu, dia minta jatah jalur. Bukan ke negara, ke dia. Yang bayar, lancar — bahkan dibantu kalau ada apa-apa, ban diganti, jalan dikawal. Yang tak bayar..." Ia berhenti. "Yang tak bayar bermasalah, Pak De. Bannya kempes pas parkir. Muatannya tergores. Jalan tiba-tiba macet pas dia lewat, ada saja yang melintang. Tak ada yang bisa dibuktikan. Tak ada yang bisa dilaporkan. Semua kelihatan kebetulan. Tapi semua orang tahu itu Codet."
Topan mencondongkan badan, ikut mendengarkan, dan keberaniannya yang muda kembali. "Lapor polisi dong, Pak."
Nurhalim mendengarnya lewat frekuensi, dan ia tertawa — tawa pendek tanpa kegembiraan. "Lapor siapa, nak? Codet itu dulu sopir juga. Sopir kecil seperti kita. Aku kenal dia waktu masih bawa truk pasir. Truknya disita, istrinya pergi, dia hampir mati di kolong jembatan. Lalu dia bangkit dengan cara ini — kuasai jalur, karena jalur ini satu-satunya yang tak bisa disita bank. Dia tahu setiap pos, setiap petugas, siapa yang bisa dibeli. Lapor ke jalur resmi sama saja lapor ke kantong Codet sendiri." Suaranya melembut, hampir iba. "Dia bukan iblis, nak. Dia cuma sopir yang menang. Dan sopir yang menang di jalan ini selalu menang dengan cara membuat sopir lain kalah."
Kalimat itu mengendap di kabin. Surudi tak berkata apa-apa, tapi di dalam dirinya ada gema — karena yang digambarkan Nurhalim bukan monster, melainkan cermin. Codet adalah Surudi yang menyerah pada pilihan kedua. Codet adalah apa yang terjadi pada sopir tua ketika ia memutuskan bahwa lebih baik memakan daripada dimakan. Dan Surudi, dengan dua kampas tipis dan lima angsuran dan kontrak yang menjadikan truknya agunan, tahu betapa tipis garis yang memisahkan dirinya dari nama itu.
"Pak De," kata Nurhalim, suaranya menurun lagi, kini menjadi nasihat seorang sahabat. "Aku tahu Pak De keras. Aku tahu Pak De guru jalan. Tapi ini bukan jalanmu yang dulu. Bayar saja upetinya. Anggap saja seperti timbang, seperti pungli, satu pos lagi yang minta jatah. Bayar, lewat, sampai. Pak De punya istri menunggu. Jangan jadikan jalan ini soal harga diri di umur segini."
Surudi memandang jalan basah di depan, lampu truk memantul di aspal yang menghitam, gerimis menggambar garis-garis miring di kaca. Ia memikirkan buku kas kecil di laci, angka-angka yang sudah Topan tulis, ongkos dobel yang terus tergerus oleh timbang dan pungli dan solar. Ia memikirkan bahwa untuk membayar upeti, ia harus punya sesuatu untuk dibayarkan, dan kantongnya sudah tipis sebelum ruas Codet bahkan dimulai. Bukan keberanian yang akan membuatnya menolak nanti. Bukan harga diri seperti yang dikhawatirkan Nurhalim. Tapi aritmatika yang dingin: kalau aku bayar upeti, aku telat karena kurang biaya, dan kalau aku telat, trukku jadi milik PO. Kalau aku tak bayar, aku dijegal, dan kalau dijegal, aku juga telat. Jalan ini, pikirnya, sudah menutup kedua ujungnya sebelum aku sampai.
"Terima kasih, Halim," katanya akhirnya ke mikrofon, suaranya tenang dan tak menjanjikan apa pun. "Aku ingat nasihatmu."
Ia meletakkan gagang, dan frekuensi kembali ke keramaian jauh suara-suara sopir lain yang masih hidup di malam itu. Topan memandangnya, ingin bertanya, tapi tak tahu harus bertanya apa. Di luar, gerimis menebal kembali menjadi hujan, dan dari arah barat, di kejauhan, langit malam sekali-sekali terbelah cahaya petir yang tak diiringi suara — terlalu jauh untuk didengar gemuruhnya, cukup dekat untuk membuat Surudi memandangnya lama. Hujan di bukit, lagi. Hujan yang sama yang ia cemaskan sore tadi, kini turun lebih deras di tempat yang akan mereka lewati besok.