Subuh belum benar-benar pecah ketika Surudi melihat cahaya lampu sorot berkelebat di tikungan jauh, terlalu banyak untuk sekadar motor pengangkut sayur yang biasa lewat jam segini.
"Ada yang aneh di depan," katanya, menurunkan kecepatan sambil menajamkan mata ke arah kabut tipis yang menggantung di atas aspal. Radio panggil di dasbor mendesis, lalu suara Sarki masuk, serak oleh angin yang menampar mikrofon dari kabin truknya sendiri, seratus meter di belakang.
"Aku lihat juga, Rudi. Tiga motor, satu pikap parkir melintang. Bukan razia. Razia nggak bawa obor."
Obor. Surudi menelan ludah. Di kabin, Topan sudah duduk tegak, tangan mencengkeram pegangan pintu, matanya bergantian menatap spion dan jalan di depan.
"Itu bukan pos biasa," kata Topan pelan, seolah bicara lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ini titik pertama yang Pak Sarki tandai di peta."
Surudi tak menjawab. Ia menghitung jarak, menghitung kecepatan, menghitung berapa detik sebelum truk Hino tuanya masuk ke jangkauan cahaya obor itu. Di bawah bak, terikat kuat pada rangka dengan tali tambang dan karung goni supaya tak kentara, ada empat jerigen solar yang ia sembunyikan sendiri berminggu-minggu lalu—simpanan yang tak tercatat di buku siapa pun, satu-satunya jaminan kalau nanti di jalan tak ada lagi yang mau melayani dia beli bahan bakar.
"Topan, matikan lampu kabin. Sekarang."
Topan menurut tanpa bertanya. Kegelapan di dalam kabin membuat cahaya di depan makin jelas: tiga motor berjajar menutup separuh badan jalan, di seberangnya pikap bak terbuka diparkir melintang, dan tiga orang berdiri dengan bambu runcing serta satu obor yang menyala di ujung galah, seperti obor yang dipakai buat membakar semak, bukan buat menerangi.
Gimbal tidak ada di antara mereka. Ini bukan pasukan inti, Surudi tahu itu dari cara mereka berdiri—terlalu santai, terlalu percaya diri, seperti orang yang sudah dijanjikan target ini gampang.
Ia menurunkan kaca jendela sedikit, membiarkan angin dingin masuk bersama bau solar dan debu jalan. Di depan, salah satu orang mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti, seolah ini pos resmi.
Surudi tidak menginjak rem. Sebaliknya, ia menginjak kopling, memindah gigi turun satu tingkat, membiarkan mesin meraung lebih keras, seolah truk itu justru hendak menambah kecepatan.
"Pak—"
"Pegangan," potong Surudi.
Ia sudah menghafal ruas ini sejak dua puluh tahun lalu, jauh sebelum Codet menguasai apa pun di sini. Di sisi kiri jalan, tersembunyi di balik rerumputan tinggi, ada jalan tanah bekas galian pasir yang dulu dipakai truk-truk material, menyambung kembali ke jalan utama seratus meter setelah tikungan. Kebanyakan sopir tak tahu jalan itu masih bisa dilewati, karena dari jalan besar terlihat seperti semak biasa.
Lima puluh meter sebelum barisan motor, Surudi membanting setir ke kiri.
Roda depan menghantam gundukan tanah keras, membuat seluruh kabin berguncang seperti diguncang tangan raksasa. Topan terpental ke pintu, kepalanya nyaris membentur kaca, tapi ia menahan diri dengan kedua tangan di dasbor. Di belakang, muatan berderak-derak, tali pengikat berdecit menahan beban yang ingin lompat dari tempatnya.
"Ini jalan?!" Topan setengah berteriak, suaranya tenggelam oleh raungan mesin yang dipaksa menanjak tanah gembur.
"Jalan buat yang tahu," jawab Surudi, rahangnya mengeras, matanya tak lepas dari jalur sempit di depan yang hanya cukup untuk lebar truk dengan selisih sejengkal di tiap sisi.
Di belakang, teriakan orang-orang Codet pecah begitu mereka sadar truk itu tak berhenti, malah menghilang ke semak. Suara motor menderu mengejar, tapi motor tak bisa masuk jalur tanah yang sudah dipenuhi akar dan batu sebesar kepala. Surudi mendengar satu motor terjungkal, disusul umpatan yang lenyap ditelan jarak.
Truk melompat sekali lagi saat melewati parit kecil, dan pada lompatan itulah Surudi mendengar bunyi yang tak ingin ia dengar—derak keras dari bawah bak, disusul suara logam berdebum jatuh ke tanah, menggelinding, lalu diam.
Ia tak berhenti untuk memastikan. Ia sudah tahu.
Jalan tanah menyambung kembali ke aspal persis seperti yang ia ingat, dan begitu roda depan menyentuh jalan keras, Surudi langsung menaikkan gigi, memacu truk menjauh sejauh mungkin sebelum berani menoleh ke spion. Tak ada lagi cahaya obor. Tak ada lagi motor. Hanya kabut tipis yang mulai tersapu terang subuh.
Radio berdesis lagi. "Rudi—Rudi, kau lolos?" Suara Sarki, panik tapi lega.
"Lolos," jawab Surudi, tapi suaranya datar, tak ada nada kemenangan.
Topan menoleh, masih terengah. "Kenapa? Kita berhasil, Pak."
Surudi tidak langsung menjawab. Ia menepikan truk sebentar di jalan yang mulai lengang, turun tanpa banyak bicara, berjongkok di bawah bak dengan senter kecil di tangan. Tali tambang yang mengikat jerigen keempat putus di simpulnya, seperti tersangkut sesuatu saat truk melompat di parit tadi. Tiga jerigen lain masih terikat rapat, tapi yang keempat sudah tidak ada, entah tertinggal di tanah galian pasir, entah sudah diambil orang yang mengejar.
Ia berdiri lama di situ, tangan masih memegang tali putus, menghitung dalam kepala. Empat jadi tiga. Bukan angka besar kalau dihitung liter, tapi di jalan seperti ini, satu jerigen bisa berarti jarak antara sampai dan tidak sampai.
"Pak?" Topan sudah turun juga, berdiri di sampingnya, mengikuti arah pandang Surudi ke tanah kosong tempat jerigen itu seharusnya berada.
"Kita jalan terus," kata Surudi akhirnya, melipat tali putus itu dan menyelipkannya ke saku, seolah menyimpan bukti dari sesuatu yang baru saja hilang. "Tapi mulai sekarang, tiap tetes dihitung."
Ia naik kembali ke kabin, menyalakan mesin, dan tanpa menoleh lagi ke jalan tanah di belakang, menekan gas menuju kabut yang masih menggantung jauh di depan, di arah Tikungan Seribu.