Jam di dinding kontrakan menunjuk pukul tiga lewat, dan Surudi sudah bangun sebelum wekernya sempat berbunyi. Ia mematikan alarm itu dengan telapak tangan, pelan, seolah suara sekecil apa pun bisa merobek keheningan yang menutupi rumah seperti selimut tipis. Di luar, Bandar Lampung masih tidur. Belum ada ayam yang berkokok. Belum ada suara motor tukang sayur. Hanya gerimis yang tak jadi turun, menggantung di udara sebagai lembab yang menempel di kulit.
Ia duduk di tepi dipan sebentar, memandangi punggung Tuminah yang membelakanginya. Perempuan itu tidak tidur. Surudi tahu dari cara napasnya yang terlalu teratur, terlalu dijaga. Dua puluh lima tahun berumah tangga mengajarinya membaca punggung istrinya seperti membaca jalan: setiap ketegangan kecil punya arti.
"Tak usah pura-pura tidur," bisik Surudi.
Tuminah berbalik. Matanya kering, tetapi merah. "Aku sudah rebus air. Kubuatkan kopi buat di jalan."
"Jangan banyak-banyak. Nanti aku kebelet, susah cari tempat berhenti yang aman."
Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan daripada tangis. Ia bangkit, menyulut kompor di dapur sempit, dan Surudi mendengar gemericik air dituang ke termos. Bau kopi hitam merambat ke kamar, bercampur bau solar yang seakan sudah menyatu dengan kulitnya sendiri, tak pernah benar-benar hilang meski sudah tiga hari ia di rumah.
Di kamar sebelah, anak bungsunya tidur meringkuk, satu kaki menjulur keluar sarung. Surudi berdiri di ambang pintu, tak berani masuk. Kalau ia masuk, ia takut anak itu terbangun, dan ia lebih takut lagi harus mengucapkan selamat tinggal dengan mata yang menatap balik. Ia hanya memandang dada kecil itu naik-turun, teratur, tenang. Anak yang sebentar lagi masuk SMA. Anak yang tak tahu bahwa seluruh sekolahnya, seluruh masa depannya, digantungkan pada satu rentetan tikungan di utara sana.
"Biar dia tidur," kata Tuminah dari belakang. Ia menyelipkan termos ke tas kain lusuh Surudi, lalu sesuatu yang lain — bungkusan kertas berisi nasi dan sepotong ikan asin. "Kalau kau bangunkan, dia bakal minta ikut ke pool. Nanti nangis di terminal."
Surudi mengangguk. Kerongkongannya terasa penuh. Ia mengenakan jaket lusuh yang sudah pudar warnanya, memasukkan surat-surat ke saku dada — surat jalan, kunci gembok terpal, dan lembar tagihan leasing yang sudah ia lipat kecil-kecil sampai lecek, seperti benda yang terlalu sering dipegang orang yang sedang berdoa.
Di pintu, Tuminah menahan lengannya. Bukan menahan untuk melarang. Menahan seperti orang yang ingin mengingat berat sebuah lengan sebelum lengan itu pergi.
"Surudi," katanya. Suaranya rendah, tapi tidak gemetar lagi. Ini bukan Tuminah yang dulu mengantar dengan uang receh dan firasat buruk. "Bawa dirimu pulang. Muatan itu penting, aku tahu. Tapi kau lebih penting dari muatan mana pun. Dengar aku."
"Aku dengar."
"Kalau di jalan kau merasa ini tak bisa lagi — berhenti. Jangan tunggu sampai mata itu menipumu lagi." Ia menepuk pelan dada suaminya, tepat di atas jantung. "Aku sudah tahan penagih. Sudah kutawar mereka. Yang belum bisa kutahan cuma satu: kalau kau tak balik."
Surudi menangkupkan tangannya ke tangan istrinya sebentar, tangan yang kasar bertemu tangan yang lebih kasar. Ia tidak menjanjikan apa-apa. Menjanjikan pulang di rute ini adalah bohong yang tak sanggup ia ucapkan pada perempuan yang sudah dua puluh lima tahun tahu kapan ia berbohong. Ia hanya mengecup kening Tuminah, lama, dan melangkah keluar ke halaman yang basah.
Hino tua itu sudah menunggu di depan, gelap dan besar seperti kerbau yang tidur berdiri. Topan sudah di sana, menyiram kaca depan dengan air dari ember, wajahnya masih bengkak sisa tidur. Di belakang, sebuah truk lain menyalakan lampu senja — Sarki, dengan colt diesel-nya yang catnya lebih banyak karat daripada warna asli, mengangguk pada Surudi dari balik kaca.
"Terpalnya sudah kuikat dua kali, Pak," lapor Topan. "Simpul mati. Muatannya rapat. Sudah kucek jerigen di kolong juga — penuh semua."
"Bagus." Surudi mengelilingi truknya sekali, tangannya menyusuri ban, menendang pelan, mendengarkan. Kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan. Di bak, di bawah terpal biru yang basah, tergolek muatan yang harganya cukup untuk menutup lima angsuran, cukup untuk membuat Hino ini tetap miliknya, cukup untuk mengubah tidur anaknya jadi tidur yang tak perlu digantungkan pada apa pun. Cukup, juga, untuk membuat Bang Codet ingin melihatnya kering di tengah jalan.
Sarki turun, menghampiri, menyelipkan rokok yang tak disulut ke telinga Surudi. "Buat nanti kalau kau mulai mengantuk," katanya serak. "Jangan dibakar sekarang. Kita masih di kampung orang."
"Kau yakin mau ikut, Ki? Ini bukan angkutan biasa."
Sarki menyeringai, memperlihatkan gigi yang tinggal separuh. "Aku sudah tua, Rud. Kalau harus mampus, biar mampus di jalan sama kawan, bukan di ranjang nunggu penyakit." Ia menepuk bahu Surudi. "Aku jalan di belakang. Kalau ada yang aneh di kaca spionmu, aku yang lebih dulu tahu."
Surudi memanjat ke kabin. Kursi itu dingin dan lembab. Ia memutar kunci; Hino batuk dua kali sebelum menyala, mesin diesel menderum rendah, menggetarkan seluruh badan truk dan seluruh badan Surudi. Ia melirik jam di dashboard, lalu ke arah lembaran tagihan di sakunya. Mulai detik ini, waktu bukan lagi hal yang mengalir. Waktu adalah sesuatu yang mengejar dari belakang, punya wajah, punya tenggat.
Ia menoleh ke jendela kontrakan. Tirai bergerak sedikit — Tuminah, berdiri di balik kaca, tak melambai. Melambai membuat perpisahan terasa terlalu pasti. Ia hanya berdiri di sana, menjadi saksi.
"Kita berangkat," kata Surudi, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Topan. Ia melepas rem tangan. Hino merangkak keluar dari gang sempit, disusul dengung Sarki di belakang, menembus jalan yang masih hitam. Di ujung kampung, seekor ayam akhirnya berkokok — terlambat, seolah kalah cepat oleh keberangkatan mereka. Surudi menekan pedal, dan kota yang tidur itu perlahan tenggelam di balik kabut lampu belakang.