Bengkel itu bukan bengkel, hanya sepetak tanah di belakang rumah Sarki yang atapnya seng berlubang, tapi malam itu Surudi memperlakukannya seperti ruang operasi. Ia menggelar terpal, menata kunci-kunci pas menurut ukuran seperti dulu gurunya mengajarinya, dan menaruh senter kepala di dahi Topan supaya tangannya bebas. Bau solar dan gemuk bekas naik dari tanah yang sudah puluhan tahun menyerap tumpahan. Di bawah kolong Hino, cahaya senter menyapu gardan yang berkarat, per daun yang sudah melengkung, dan selang-selang yang getas dimakan panas.
"Pegang lampunya jangan goyang," kata Surudi dari balik roda. Suaranya teredam besi. "Kalau tanganmu gemetar, mata bapak yang ikut buta."
Topan menahan napas, mengarahkan cahaya ke satu titik. Surudi mengetuk sambungan pipa rem angin dengan gagang obeng, menunggu bunyinya. Bunyi yang benar itu padat, seperti mengetuk kayu jati. Yang ini agak sember. Ia menandainya dengan kapur, lalu merangkak lebih dalam, tulang punggungnya berderit menolak posisi itu.
Mereka bekerja dari maghrib sampai jauh lewat tengah malam. Sisa uang yang ada, uang yang seharusnya untuk makan seminggu, sudah berubah jadi setumpuk kecil onderdil bekas yang ditawar Surudi mati-matian di los rongsokan: satu set kampas rem yang masih tebal separuh, dua selang bahan bakar, saringan solar yang belum tersumbat, dan sekaleng gemuk. Tidak ada yang baru. Semuanya bekas pakai truk lain yang mungkin sudah mati di jurang. Surudi tidak peduli asalnya, ia hanya memeriksa apakah masih bisa dipercaya.
"Kampas depan sudah tipis," gumamnya, menimang piringan logam di telapak. "Turunan panjang nanti, rem yang menahan nyawa kita. Kalau ini habis di tengah kabut—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Topan sudah cukup lama di kabin itu untuk mengerti bagian yang tidak diucapkan.
Yang membuat Surudi lama diam adalah mesin. Ia menyalakan Hino, membiarkannya menggerung di tempat, telinganya menempel ke blok mesin seolah mendengarkan dada orang sakit. Ada batuk halus di setiap putaran ketiga. Suara itu tidak ada dua tahun lalu. Solar oplosan yang terpaksa ia beli sepanjang rute sudah meninggalkan kerak di ruang bakar, dan tak ada uang untuk membongkarnya. Ia hanya bisa mengganti saringan, membersihkan injektor dengan tangan, dan berdoa dalam hati dengan cara seorang sopir tua: tidak dengan kata, tapi dengan telinga yang menajam.
"Bapak," Topan akhirnya bicara, lap penuh oli di tangannya, "jujur saja. Dia sanggup nggak?"
Surudi tidak langsung menjawab. Ia mengelap tangannya yang hitam ke celana, memandang Hino tua itu di bawah temaram, moncongnya yang penyok, catnya yang mengelupas jadi peta karat. Truk itu lebih tua dari perkawinannya. Truk itu yang menyekolahkan anak-anaknya yang lebih besar. Dan sekarang ia harus menaruh seluruh sisa hidupnya di atas pelat besi yang batuk.
"Bapak tidak tahu," katanya, dan itu jawaban paling jujur yang bisa ia berikan. "Tapi bapak tahu dia sudah bawa bapak lolos dari yang lebih parah. Dia bukan besi mati, Pan. Dia cuma tua. Sama seperti bapak." Ia menepuk fender itu pelan, hampir seperti menepuk bahu kawan lama. "Kalau kita rawat betul-betul, dia tidak akan mengkhianati kita di tempat yang salah."
Setelah mesin, mereka menghitung nyawa yang sebenarnya: solar. Surudi mengeluarkan buku catatan lusuh dari saku, halaman penuh coretan angka dan tanda yang hanya ia mengerti — titik-titik rahasia sepanjang rute tempat ia menyembunyikan jerigen, jauh dari mata orang Codet. Ia membacanya keras-keras, dan Topan mencocokkan dengan peta di kepalanya sendiri.
"Belakang warung roboh di Kayuagung, dua jerigen," Surudi membaca. "Kolong jembatan kecil sebelum Menggala, satu. Di balik gundukan pasir dekat kelokan Sitinjau, dua lagi." Ia berhenti, jarinya menekan satu baris. "Yang ini yang bapak khawatirkan. Yang di dekat mulut Tikungan Seribu."
"Kenapa?"
"Karena kalau yang lain gagal, cuma itu yang menahan kita sampai turun. Kalau itu ketahuan mereka, atau bocor, atau ada yang curi—" Surudi menutup buku. Ia tidak mau menyebut kemungkinan terburuk dua kali dalam satu malam. Tapi angka di kepalanya tak mau diam. Ia sudah menghitung tiap tetes berpuluh kali: jarak, tanjakan, beban muatan, mesin yang rakus karena batuk. Setiap kali hasilnya sama tipisnya. Selalu ada satu ruas, di antara jerigen terakhir dan pintu keluar Tikungan Seribu, di mana angka itu jatuh ke bawah nol. Ia belum menemukan cara menutup celah itu, dan ia tidak memberitahu Topan bahwa celah itu ada.
Menjelang subuh, hujan mulai turun pelan di seng berlubang. Mereka duduk berdua di anak tangga, tangan berbau logam dan solar, badan remuk. Topan menyodorkan kopi yang sudah dingin. Surudi menerimanya.
"Bapak dulu diajari," kata Surudi, memandang truk yang kini diam, kap mesinnya masih terbuka seperti mulut yang menganga, "sopir yang baik tidak pernah percaya sama truknya. Dia cuma kenal truknya. Beda tipis. Percaya itu menyerah pada nasib. Kenal itu tahu persis kapan dia bakal ngambek, dan siap sebelum dia ngambek." Ia menyeruput kopi dingin itu. "Malam ini kita bukan bikin dia jadi baru. Kita cuma jadi lebih kenal sama caranya mati, biar bisa kita cegah."
Topan mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan ragu yang sama. Di kejauhan, gerimis menebal jadi hujan sungguhan, dan Surudi tahu itu bukan pertanda baik untuk jalan yang akan mereka tempuh. Ia menutup kap mesin dengan hati-hati, seperti menyelimuti orang yang harus bangun pagi buta. Besi itu masih hangat oleh kerja mereka. Untuk beberapa jam ke depan, itu satu-satunya yang bisa ia janjikan.