Kabut belum turun betul ketika Surudi mematikan mesin di balik rumpun bambu, tiga kilometer sebelum Menggala. Ia turun perlahan, menahan bunyi pintu kabin, dan berjalan menyusuri parit kering menuju gorong-gorong tempat ia menyembunyikan jerigen ketiga dua minggu lalu. Bau tanah lembap dan solar tipis bercampur di hidungnya. Ia sudah hafal langkah ini seperti hafal tikungan: sebelas ayun kaki dari pohon asam, membungkuk, menyingkap ilalang.
Gorong-gorong itu kosong.
Ia berdiri diam cukup lama, membaca tanah seperti membaca jalan. Ada bekas sepatu—bukan sepatunya, bukan sandal jepit Topan—menekan lumpur di bibir gorong-gorong, mengarah keluar, membawa beban. Dua orang, mungkin. Rumput di sisi tanggul patah ke satu arah, ditindih orang yang menunggu, jongkok berjam-jam. Surudi menyentuh patahan itu dengan ujung jari. Kering di bagian dalam. Sudah beberapa hari.
"Kang?" Topan menyusul, napasnya pendek. "Kenapa berdiri saja?"
"Hilang," kata Surudi. Suaranya rata. "Jerigen tiga hilang."
Topan menunduk ke lubang gelap itu, lalu ke wajah Surudi, mencari tuduhan yang biasa datang. Surudi menggeleng pelan, mendahului. Ia sudah selesai dengan curiga yang salah alamat.
Mereka memeriksa titik lain hari itu, memutar lewat jalur tikus yang cuma dihafal Surudi. Titik empat, di kolong jembatan tua dekat Kayuagung, juga kosong—jerigennya lenyap, hanya menyisakan cetakan bundar di pasir. Titik lima, di balik tumpukan ban bekas milik bengkel yang sudah tutup, ludes pula. Tiga dari lima. Tinggal dua yang selamat: yang paling jauh dari jalan raya, yang cuma bisa dicapai dengan menyeberang sawah dan sungai kecil, tempat yang tak akan dilewati orang kalau tak tahu.
Surudi bersandar ke pintu kabin, menyulut rokok yang tak juga ia isap. Otaknya bekerja seperti mesin yang batuk tapi menolak mati.
"Herman," gumam Topan, geram. "Si anjing itu. Dia yang bocorkan, Kang. Dia tahu—"
"Bukan." Surudi memotong, tegas tapi tak keras. "Pikir dulu, Pan. Herman tahu jadwalku. Herman tahu aku bakal jalan malam Kamis, tahu aku bawa muatan berharga, tahu aku menghindari pos. Itu semua ada di surat jalan, di catatan PO Bahari. Dia jual itu ke Codet, ya, sudah jelas. Tapi tempat aku sembunyikan jerigen—" Surudi mengetuk keningnya dengan buku jari. "Ini cuma ada di sini. Aku tak pernah tulis. Tak pernah bilang ke Herman, tak pernah ke siapa pun kecuali kamu dan Sarki. Herman tak mungkin tahu gorong-gorong busuk di belakang bambu ini."
Topan terdiam, mencerna. "Jadi bagaimana orang Codet bisa—"
"Mereka ikuti kita." Surudi menunjuk ke tanah dengan dagu, ke bekas jongkok yang tadi. "Bukan dibocorkan. Dibuntuti. Sabar-sabar mereka. Sementara kita kira aman karena tak ada yang tahu, ada mata di kaca spion yang tak pernah kita hitung. Waktu aku turun taruh jerigen, ada yang mencatat. Waktu kita muter jalur tikus, mereka biarkan, mereka pelajari. Aku bawa mereka sendiri ke tempat rahasiaku."
Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. Selama ini ia bangga jalur tikusnya tak ada di peta siapa pun. Tapi jalan yang cuma dihafal satu orang tetap bisa diintip, kalau orang itu terlalu percaya diri untuk menoleh ke belakang.
Malam itu Sarki datang, pincang masih menyisa dari hantaman lama, membawa kabar yang menyusun potongan-potongan tadi jadi gambar utuh. Ia duduk di bak, menyeka wajah dengan handuk kumal.
"Codet pasang orang di tiap pengecer solar sepanjang lintas," kata Sarki. "Dari Menggala sampai Sitinjau. Bukan cuma nolak jual ke kamu, Rud. Mereka nunggu. Ada yang di jembatan timbang, ada yang di warung tikungan. Anak buahnya Gimbal keliling naik motor, siang malam, ngecek tiap SPBU. Codet ngomong terang-terangan di warung kopi—aku dengar dari Ijah yang jaga—dia bilang biar saja sopir tua itu jalan. Biar dia masuk Tikungan Seribu. Di sana tangkinya bakal kering. Codet tinggal nunggu di ujung kabut, ngambil muatan dari truk yang mogok."
Surudi menutup mata sebentar. Ia bisa membayangkan wajah bercodet itu tersenyum di balik asap, yakin sudah menang tanpa perlu mengangkat tangan. Codet tak butuh membakar truk lagi, tak butuh mengendurkan baut. Ia cukup menutup selang di seluruh rute dan membiarkan jarak melakukan pembunuhan. Solar habis di tempat paling sunyi, di jalur yang paling ganas—dan sopir yang kehabisan solar di Tikungan Seribu adalah sopir yang sudah mati, tinggal menunggu badannya menyusul.
"Dia mengurung kita dengan jarak," kata Surudi pelan. "Bukan dengan orang. Dengan kilometer dan tetes."
"Tinggal dua jerigen, Kang," Topan menimpali, suaranya nyaris tak terdengar. "Dua jerigen buat trip sejauh itu, nembus tanjakan Sitinjau, terus Tikungan Seribu. Itu—itu tak cukup."
Surudi tak menjawab langsung. Ia menatap ke arah utara, ke tempat lintasan itu menghilang ditelan gelap, ke jalan yang sudah dua puluh lima tahun ia layani dan yang kini dipasangi jaring di setiap simpulnya. Codet sudah menutup semua selang, sudah menghitung setiap tetes yang tersisa di tangkinya, dan sudah memilih Tikungan Seribu sebagai tempat ia ingin melihat Surudi kering.
Tapi ada satu hal yang tak dimiliki Codet, yang tak bisa diintai anak buahnya dari balik semak, yang tak tertulis di surat jalan mana pun. Codet tahu di mana solar akan habis. Ia tidak tahu apa yang Surudi tahu tentang jalan setelah solar habis—tentang turunan-turunan panjang yang bisa diluncuri dengan roda mati, tentang tikungan yang mengizinkan truk melata tanpa mesin bagi orang yang hafal setiap patahannya.
Surudi membuka mata. Untuk pertama kalinya sejak menemukan gorong-gorong kosong itu, sesuatu yang dingin dan tenang mengeras di dadanya.
"Biar dia pasang jaringnya," kata Surudi, membuang rokok yang tak pernah ia isap. "Dia kira dia mengurung tikus. Dia lupa, jalan ini rumahku sebelum jadi rumahnya."