Malam itu Surudi memarkir Hino-nya dua ratus meter dari bengkel Sarki, mematikan lampu jauh sebelum berbelok ke jalan tanah becek di sisi lintas. Ia tak mau ada yang tahu ke mana truk itu pergi, meski cuma sepuluh menit. Kebiasaan lama: kalau curiga diikuti, matikan lampu, biarkan mata menyesuaikan gelap, baru jalan.
Bengkel Sarki cuma gubuk seng dengan satu lampu neon yang berkedip, dikelilingi onderdil karatan dan ban-ban bekas yang ditumpuk jadi pagar. Di dalamnya sudah menunggu empat orang: Sarki dengan lengan masih diperban sisa hajaran anak buah Codet, dan tiga sopir independen yang tersisa dari rombongan Ujang—orang-orang yang lolos dari pembubaran, yang truknya belum dibakar, yang keluarganya belum kena teror.
Tiga saja. Dari belasan yang dulu berkumpul di rumah makan waktu Ujang masih hidup.
"Segini yang mau datang," kata Sarki, seperti membaca pikiran Surudi. "Yang lain sudah pindah rute, jual truk, atau—" ia tak melanjutkan, cukup menunduk ke arah lengannya sendiri.
Surudi berdiri di ambang pintu, tak buru-buru masuk. Ia menatap wajah-wajah itu satu per satu: ada yang dikenalnya sekilas dari pos-pos istirahat, ada yang cuma pernah bertukar rokok di jembatan timbang. Semuanya menatap balik dengan curiga yang tak disembunyikan. Bukan curiga pada niatnya—tapi pada dirinya sendiri, pada keputusan untuk datang malam ini.
"Saya butuh kalian," Surudi berkata akhirnya, tanpa basa-basi. "Satu trip. Setelah itu, terserah kalian mau lanjut jalan sendiri atau berhenti."
Salah satu sopir, badannya kurus dengan bekas luka bakar di lengan kanan—sisa truk yang dibakar sebagai peringatan—tertawa pendek, getir. "Ujang juga bilang begitu. 'Satu aksi, habis itu jalan kita balik bersih.' Sekarang dia di kuburan."
Tak ada yang membantah. Nama Ujang menggantung di udara bengkel itu seperti asap solar yang tak mau hilang.
"Saya tahu," kata Surudi. Ia melangkah masuk, duduk di atas jok bekas yang ditumpuk jadi bangku. "Ujang lawan Codet dengan jumlah. Konvoi, ramai-ramai, biar kelihatan kuat. Itu yang bikin dia gampang dibaca—Codet tinggal hitung berapa truk, taruh berapa orang di tiap pos, tunggu di mana yang paling lemah." Ia menatap mereka. "Saya nggak mau lawan begitu."
"Terus mau lawan gimana?" sopir kurus itu menyahut, nadanya masih sinis. "Bapak cuma satu truk."
"Saya nggak mau menang jumlah. Saya mau menang jalan." Surudi menunjuk ke arah utara, ke gelap di luar bengkel, seolah rute itu bisa dilihat dari situ. "Dua puluh lima tahun saya lewat lintas ini. Saya tahu di kilometer berapa aspal berlubang bikin truk goyang, di simpang mana ada jalan tikus yang cuma dilewati satu truk kayu tiap dua hari, di mana kabut turun jam berapa. Codet nggak tahu itu. Anak buahnya cuma tahu jalan besar dan pos-posnya sendiri."
Sarki mengangguk pelan, memberi ruang untuk kalimat berikutnya.
"Saya sudah simpan jerigen di beberapa titik," lanjut Surudi. "Bukan di pengecer, bukan di SPBU yang bisa ditutup buat saya. Titik-titik yang cuma saya hafal. Kita nggak butuh konvoi ramai yang jadi sasaran empuk. Kita butuh satu truk yang tahu ke mana harus belok saat yang lain masih nebak."
Diam sejenak. Neon berkedip dua kali, lalu stabil.
"Terus kenapa kami harus ikut?" tanya sopir kedua, lebih muda, suaranya masih gemetar menahan takut yang tak mau ia akui. "Kalau cuma satu truk yang jalan, biar Bapak sendiri saja."
"Karena satu truk bisa dihadang di satu titik. Tiga truk yang jalan beda jalur, beda jam, saling kasih kabar lewat radio panggil—itu susah dibaca. Kalian nggak perlu masuk Tikungan bareng saya. Kalian cuma perlu jadi mata di belakang, kasih tahu kalau ada yang mulai ngintil." Surudi menghela napas. "Saya nggak minta kalian mati kayak Ujang. Saya minta kalian pakai apa yang kalian tahu tentang jalan kalian sendiri, kayak saya pakai punya saya."
Sopir kurus itu masih menatap tajam. "Terakhir kali orang bilang rencana rahasia, ada yang bocorin ke Codet. Gudang solar jadi abu sebelum sempat dipakai. Siapa jamin kali ini beda?"
Semua mata berpindah ke Topan, yang duduk diam di sudut sejak tadi, belum bicara sepatah pun. Surudi tahu ke mana arah tatapan itu—tuduhan lama yang pernah singgah di kepalanya sendiri, malam ketika ia memergoki Topan bicara dengan orang Codet dan sempat meragukan anak itu.
"Bukan dia," kata Surudi, tegas, tanpa berputar-putar. "Yang bocorin itu Herman. Koordinator PO Bahari sendiri, main dua kaki, jual kabar demi selamatkan diri. Sudah kelar urusan itu, kontrak saya sama PO Bahari juga sudah putus karenanya." Ia menoleh ke Topan. "Anak ini yang jaga muatan waktu Herman mau rampas. Kalau dia pengkhianat, dia nggak akan berdiri di depan orang Codet demi barang yang bukan miliknya."
Topan mengangkat wajah, menatap sopir-sopir itu satu per satu, tak membela diri dengan kata-kata, cukup dengan diam yang tak goyah. Ada sesuatu di sikap itu yang lebih meyakinkan daripada sumpah apa pun.
Sopir kurus itu menghela napas panjang, menggeser posisi duduknya. "Saya bukan nggak percaya Bapak. Saya cuma capek kehilangan orang."
"Saya juga," kata Surudi pelan. "Ujang. Sarki nyaris. Saya nggak mau nambah nama di kuburan itu. Makanya saya nggak minta kalian lawan orangnya Codet. Saya cuma minta kalian percaya jalan yang saya kenal, dan jaga punggung saya dari jauh."
Hening lama. Angin malam menampar seng bengkel, membawa bau solar dan oli yang sudah jadi bagian dari napas mereka semua.
Akhirnya sopir kedua yang lebih muda mengangguk duluan. "Saya ikut jaga jalur belakang. Nggak masuk Tikungan."
Sopir ketiga, yang dari tadi diam sambil memutar-mutar rokok tanpa menyalakannya, ikut mengangguk, meski wajahnya masih ragu. Hanya sopir kurus berbekas luka bakar yang belum bersuara, menatap lantai bengkel lama sebelum akhirnya berkata, "Saya pikirkan dulu semalam. Bukan karena nggak percaya jalan Bapak—karena saya masih punya anak di rumah."
Surudi mengangguk, tak memaksa. "Itu haknya. Saya nggak akan pernah minta orang taruhkan nyawa buat urusan saya."
Sarki bangkit dari duduknya, menepuk bahu Surudi dengan tangan yang masih diperban. "Kalau begitu, kita berempat yang jalan malam ini juga—susun rute, tandai titik jerigen, atur jam radio." Ia menoleh ke dua sopir yang sudah setuju. "Yang penting sekarang bukan berapa banyak yang ikut. Yang penting semua yang di ruangan ini tahu jalan mana yang bisa dipercaya."
Surudi menatap wajah-wajah yang tersisa—tak banyak, jauh dari cukup untuk melawan Codet dengan cara lama. Tapi untuk pertama kalinya sejak gudang solar terbakar, ia merasa berdiri di atas sesuatu yang bisa dipegang: bukan jumlah orang, bukan kekuatan otot, melainkan jalan itu sendiri, yang hanya ia dan segelintir orang di ruangan ini benar-benar kenal luar-dalam.
Di luar, kabut tipis mulai turun dari arah utara, jauh sebelum waktunya. Surudi memandanginya sebentar lewat celah seng, lalu kembali membungkuk ke atas peta yang digelar Sarki di lantai berdebu, jarinya menelusuri garis jalan yang akan mereka tempuh—garis yang, entah kenapa, terasa semakin dekat menuju sesuatu yang belum bisa ia namai.