Peta itu sudah lecek di lipatannya, tapi Surudi membentangkannya lagi di atas kap mesin yang masih hangat. Cahaya senter Topan menari-nari di garis-garis jalan yang ia sendiri gambar ulang berminggu-minggu ini — bukan garis dari percetakan, melainkan coretan tangan: pos Codet ditandai silang, pengecer solar dilingkari, jembatan timbang diberi tanda seru. Malam menempel pekat di pelataran belakang bengkel Sarki, jauh dari lampu jalan, jauh dari telinga yang salah.
"Kau lihat ini?" Surudi menusuk satu titik dengan ujung kuku yang menghitam oli. "Gudang Pak Hasan, tempat kita biasa bongkar. Dari sini muatan itu dijual lagi ke tangan ketiga, tangan keempat. Setiap tangan makan untung. PO Bahari makan, Codet makan uang jalan, sisanya baru buat kita — buat yang mengangkut, yang mempertaruhkan nyawa di Sitinjau."
Topan berjongkok, dagunya hampir menyentuh kap. "Terus?"
"Terus kita potong tangan-tangan itu." Surudi menegakkan punggung. Ada bunyi retak halus di tulang belakangnya, dan ia berpura-pura tak mendengarnya. "Satu trip. Muatan paling berharga yang bisa kita dapat, kita bawa langsung ke pembeli terakhir. Tanpa lewat gudang Pak Hasan. Tanpa surat jalan Herman. Tanpa setor sepeser pun ke Codet."
Sarki yang sejak tadi bersandar di pintu, tangannya masih diperban dari malam di rumah makan itu, mendengus. "Langsung ke pembeli terakhir. Kau kira mereka mau terima barang dari sopir tua yang tak punya nama besar?"
"Aku punya nama, Sarki." Surudi menatapnya. "Bukan nama besar. Nama yang tak pernah menipu timbangan sekali pun dalam dua puluh lima tahun. Ada pembeli di Jambi yang tahu itu. Aku sudah kirim kabar lewat mulut ke mulut, bukan lewat telepon yang bisa disadap orang Codet."
Angin membawa bau solar dari drum-drum tua Sarki. Topan menggeser senternya ke titik lain di peta, ke lingkaran merah di tengah kelok-kelok rapat. "Tapi rutenya, Pak. Kalau kita potong PO Bahari, kita kehilangan perlindungan surat jalan. Setiap pos jadi liar. Codet bisa hentikan kita kapan saja dengan alasan apa saja."
"Karena itu kita tak lewat jalan resmi." Jari Surudi bergerak, menyusuri garis tipis yang bahkan tak bernomor. "Jalur tikus. Yang kupakai waktu masih muda, waktu jalan ini belum ada aspalnya. Codet menguasai selang, menguasai pos, menguasai timbangan. Tapi dia tak menguasai ini." Ia mengetuk keningnya sendiri. "Jalan yang cuma ada di kepala sopir tua. Dia tak punya itu, Topan. Uangnya banyak, orangnya banyak, tapi dia tak pernah menyetir sendirian menembus kabut Tikungan Seribu tanpa lampu."
Sarki melangkah mendekat, wajahnya keras dipahat cemas. "Dan kalau gagal? Kalau truknya mogok di tengah jalur tikus itu, tak ada bengkel, tak ada solar, tak ada siapa-siapa? Kau tahu Hino-mu batuk-batuk, Rudi. Aku dengar sendiri mesinnya waktu kau masuk tadi."
"Kalau gagal, aku kehilangan segalanya." Suara Surudi datar, tanpa dramatis, seolah menyebut cuaca. "Truk ditarik leasing. Anak bungsuku tak jadi sekolah. Tuminah harus jual apa lagi yang tersisa. Aku tahu, Sarki. Aku sudah hitung. Aku hitung berapa kali dalam hidup ini aku bertaruh dengan yang lebih sedikit dan menang."
Ia diam sejenak. Di kejauhan terdengar deru truk lain melintas lintas, jauh, seperti napas raksasa yang lelah.
"Tapi kalau berhasil," lanjutnya, lebih pelan, "sekali angkut, ongkosnya cukup. Cukup untuk lima tunggakan yang tinggal hitungan minggu itu. Sekaligus. Aku tak perlu lagi merangkak trip demi trip sambil menunggu Codet mematahkan salah satunya. Satu pukulan. Selesai."
Topan mendongak. Di matanya ada kilat yang Surudi kenali — kilat yang dulu ada di mata Ujang, sebelum Ujang pulang lebih cepat dari yang seharusnya. "Muatannya apa, Pak? Yang cukup berharga sampai satu trip bisa lunasi semua?"
Surudi melipat peta pelan-pelan, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri untuk yakin. "Yang paling dicari Codet. Yang paling dijaga. Kalau kita bisa bawa itu keluar dari jangkauannya dan menjualnya sendiri, kita bukan cuma dapat uang. Kita ambil sesuatu dari tangannya. Dan itu—" ia menatap Sarki, lalu Topan, satu per satu, "—itu yang akan membuatnya turun tangan sendiri. Bukan lagi kirim Gimbal. Dia sendiri."
Sarki menelan ludah. Perban di tangannya bergetar samar. "Kau memancingnya."
"Aku memaksanya keluar." Surudi menyelipkan peta ke dalam saku dadanya, dekat jantung. "Selama ini dia sembunyi di balik orang-orangnya, di balik selang solar, di balik petugas timbangan yang disuap. Aku tak bisa menang lawan bayangan. Aku cuma bisa menang lawan orang yang berdiri di jalan yang sama denganku."
Malam menahan napas. Topan berdiri, menepuk debu dari lututnya, dan untuk pertama kali sepanjang percakapan itu ia tak bertanya. Ia hanya mengangguk, seperti orang yang sudah memutuskan jauh sebelum ditawari.
"Aku ikut," kata Topan.
"Aku belum bilang kau boleh ikut."
"Bapak butuh mata jalan. Butuh orang yang bisa pegang kemudi kalau bapak ketiduran." Topan menyeringai, tapi rahangnya kaku. "Lagi pula, keluargaku hilang di jalan ini. Kalau aku mau menemukan mereka, aku harus jadi orang yang ditakuti jalan ini, bukan yang lari darinya."
Surudi memandanginya lama. Ia teringat dirinya di usia itu, keras kepala, yakin dunia bisa ditaklukkan dengan setir dan keberanian. Ia hampir memperingatkan Topan, hampir menyuruhnya pulang. Tapi ia tahu suara peringatan itu tak pernah menghentikan siapa pun — tak menghentikan Ujang, tak menghentikan dirinya dulu.
"Sarki?" Surudi menoleh ke kawan tuanya.
Sarki lama tak menjawab. Ia menatap tangannya yang diperban, lalu menatap Hino yang teronggok di gelap, moncongnya seperti binatang tua yang menolak mati. "Truk itu tak akan sanggup sendirian," katanya akhirnya. "Kau butuh yang menutup belakang. Yang mengalihkan mereka kalau perlu." Ia menghela napas panjang, dan dalam embusan itu ada dua puluh tahun persahabatan yang lelah. "Aku sudah terlalu tua untuk takut mati, Rudi. Tapi aku belum terlalu tua untuk malu meninggalkan kawan."
Surudi tak mengucapkan terima kasih. Di antara sopir tua, terima kasih diucapkan dengan hal lain. Ia hanya mengulurkan tangan, dan Sarki menjabatnya, perban dan semua.
Di atas mereka, langit Sumatra tak berbintang. Di suatu tempat jauh, di kelokan yang belum mereka masuki, kabut sudah mulai turun ke Tikungan Seribu, sabar, menunggu.