Malam itu Surudi memarkir Hino di pelataran rumah makan Kayuagung yang setengah kosong, mesin dimatikan tapi tangan masih gemetar di setir. Sudah tiga hari ia berhenti menghitung. Bukan karena angkanya rumit—sebaliknya, angkanya terlalu sederhana untuk bisa ia tanggung. Lima tunggakan, satu kontrak yang batal, satu tangki yang tak bisa lagi ia isi penuh di mana pun sepanjang lintas ini. Ia menyalakan lampu kabin, mengeluarkan buku catatan lusuh dari laci dasbor, lalu menatapnya lama tanpa menulis apa-apa.
Topan sudah tidur di atas dipan kayu di samping warung, meringkuk dengan sarung yang dipinjam pemilik rumah makan. Surudi turun pelan-pelan, sendi lututnya berbunyi seperti per yang sudah aus, dan duduk di bangku panjang dekat api arang yang mulai padam. Ia mengeluarkan dompet, menghitung lembaran ribuan yang tersisa, lalu memasukkannya kembali. Kalau ia jual Hino sekarang—kalau ia menyerah sebelum ditarik paksa oleh leasing—setidaknya ia bisa pulang dengan kepala tegak membawa sisa uang, bukan pulang diusir dari jalan yang membesarkannya selama dua puluh lima tahun.
Pikiran itu belum sempat mengeras jadi keputusan ketika ia mendengar suara mobil travel berhenti di ujung pelataran, lampu sorotnya menyapu debu yang mengambang di udara dingin.
Surudi tak menoleh dulu. Travel malam sering singgah di rumah makan ini, menurunkan penumpang yang menunggu sambungan bus ke Palembang. Tapi suara pintu geser yang dibuka terburu-buru, lalu suara langkah kecil berlari di atas kerikil, membuatnya berpaling.
"Pak!"
Anak bungsunya berdiri di bawah lampu neon warung, memakai jaket yang kebesaran, rambutnya berantakan bekas tidur di perjalanan. Di belakangnya, Tuminah turun dari travel sambil menjinjing tas kain, wajahnya lelah tapi matanya menyala seperti orang yang sudah bulat tekad sebelum berangkat.
Surudi berdiri terlalu cepat hingga bangku di belakangnya nyaris terguling. "Kalian—dari mana? Kok bisa sampai sini?"
"Naik travel dari Lampung, Pak. Ganti dua kali," kata Tuminah, suaranya datar, seolah itu bukan hal besar, padahal Surudi tahu perjalanan itu delapan jam lebih, melewati jalan yang sama berbahayanya dengan yang ia lewati tiap hari. "Bapak nggak angkat telepon tiga hari. Ibu takut kenapa-kenapa."
"Sinyal jelek di Menggala. Ibu tahu itu—"
"Ibu nggak peduli sinyal." Tuminah meletakkan tasnya di bangku, lalu menatap suaminya lurus-lurus, cara menatap yang dulu tak pernah ia miliki, dulu selalu menunduk kalau Surudi bicara soal jalan dan bahaya. "Ibu peduli kenapa suara Bapak di telepon terakhir kayak orang yang mau nyerah."
Anak bungsu merapat, menggenggam ujung lengan baju ayahnya, seperti dulu waktu masih kecil, minta digendong. Tapi anak ini sudah nyaris setinggi bahu Surudi sekarang, bukan bocah kecil lagi—hanya kebiasaan lama yang belum sempat luntur.
"Aku bawa map pendaftaran, Pak," katanya, mengeluarkan map plastik dari dalam jaket, agak kusut karena dilipat-lipat sepanjang jalan. "Sekolah bilang, kalau belum bisa lunas semua, boleh dicicil. Aku udah tanya sendiri ke bagian tata usaha."
Surudi menerima map itu dengan tangan yang masih berminyak solar, membukanya di bawah lampu neon. Formulir, fotokopi rapor, satu lembar surat keterangan dari sekolah dengan tanda tangan kepala tata usaha. Anak itu sudah mengurusnya sendiri, tanpa disuruh, tanpa mengeluh bahwa ayahnya belum juga pulang membawa kabar baik.
"Kamu yang minta ini sendiri?"
"Aku nggak mau nunggu Bapak yang capek mikirin. Aku juga bisa bantu."
Sesuatu di dada Surudi runtuh, tapi bukan runtuh yang meruntuhkan—lebih seperti tembok lama yang jatuh dan menyingkap ruang yang lebih lapang di baliknya. Ia sudah berhari-hari memikirkan dirinya sendiri: harga dirinya, ototnya yang melemah, matanya yang berkhianat di jalan, hutangnya, kekalahannya dari Codet dan Herman dan seluruh jaringan yang menutup jalan untuknya satu per satu. Ia lupa bahwa di ujung semua hitungan itu ada dua orang yang tidak menuntutnya menang—hanya menuntutnya tidak berhenti.
"Ibu nggak bawa uang banyak," kata Tuminah, lebih pelan sekarang, duduk di sebelahnya. "Ibu cuma bawa diri. Karena Ibu pikir, kalau Bapak mau nyerah, biar nyerahnya di depan Ibu, bukan sendirian di jalan kayak gini. Biar Ibu tahu alasannya, bukan cuma dengar dari telepon."
Surudi menatap api arang yang nyaris padam, lalu menatap anaknya yang masih menggenggam ujung lengan bajunya, lalu menatap istrinya yang delapan jam menempuh jalan yang sama berbahayanya demi satu malam memastikan suaminya masih berdiri.
"Aku belum mau nyerah," katanya, dan baru setelah kata-kata itu keluar ia sadar itu benar, bukan sekadar dikatakan untuk menenangkan mereka. "Cuma... aku capek, Bu. Capek ngitung-ngitung sendirian, seolah cuma aku yang nanggung ini semua."
"Makanya Ibu di sini," kata Tuminah, tangannya menggenggam tangan Surudi yang penuh kapalan. "Biar nanggungnya berdua. Bapak jalan, Ibu jaga rumah dan anak-anak—tapi hati kita satu jalan yang sama."
Anak bungsu menyandarkan kepala ke bahu ayahnya, tidak bicara lagi, seolah kehadirannya sendiri sudah cukup jadi jawaban. Di kejauhan, Topan menggeliat di dipan, belum bangun, dan malam di Kayuagung tetap dingin, tapi untuk pertama kali dalam berhari-hari Surudi merasa ada sesuatu yang lebih kuat dari lelah menjalar di dadanya—bukan harapan yang muluk, hanya satu tekad kecil yang keras kepala: ia akan mencari satu jalan lagi, satu jalan terakhir, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk dua orang yang baru saja menempuh delapan jam demi meyakinkannya untuk tidak berhenti.
Ia melipat map pendaftaran itu pelan-pelan, memasukkannya ke dalam jaketnya sendiri, dekat dada, seperti menyimpan sesuatu yang lebih berharga dari surat jalan mana pun yang pernah ia tanda tangani.