Kabar itu datang lewat telepon, seperti hampir semua kabar buruk belakangan ini. Bukan suara Herman, melainkan orang kantor yang tak Surudi kenal—datar, tergesa, seperti membaca dari secarik kertas yang ingin cepat-cepat ia buang.
"Kontrak Bapak dengan PO Bahari kami hentikan, efektif hari ini. Muatan yang sudah dijadwalkan dialihkan ke sopir lain. Terima kasih atas kerja samanya."
Surudi berdiri di pelataran bengkel pinggir Menggala, gagang telepon menempel di telinga, sementara angin membawa bau solar dan debu ke wajahnya. Ia ingin bertanya kenapa, tapi ia sudah tahu kenapa. Herman. Nama itu berputar di kepalanya seperti baut yang copot dan menggelinding entah ke mana. Orang yang menjabat tangannya di kantor berdebu, yang menjanjikan ongkos dobel, yang selama ini bermain dua kaki—kini menendangnya ke got demi menyelamatkan lehernya sendiri dari Bang Codet.
"Halo? Pak?" suara di seberang.
"Iya," kata Surudi. "Saya dengar."
Telepon diputus. Ia menurunkan gagang itu pelan-pelan, seakan benda itu bisa pecah kalau diperlakukan kasar. Topan berdiri beberapa langkah darinya, tangan hitam oli, memperhatikan wajah Surudi mencari kabar. Anak itu tak perlu bertanya. Ia sudah belajar membaca raut Surudi seperti membaca jalan menjelang tikungan buta.
"Diputus?" tanya Topan akhirnya.
Surudi mengangguk. Ia menoleh ke Hino tuanya yang teronggok dengan kap terbuka. Dari perut mesin itu keluar suara batuk tersendat tiap kali Topan mencoba menghidupkannya tadi pagi—suara yang Surudi kenal betul, suara solar oplosan yang sudah terlalu lama merusak isi perut truk. Injektornya tersumbat. Pompa bahan bakarnya minta ganti. Semua itu butuh uang yang tak ia punya.
"Berapa sisa di tangki?" tanya Surudi.
Topan menunduk. "Seperempat, Pak. Kurang. Dan Bapak tahu sendiri—" ia tak menyelesaikan kalimatnya.
Surudi tahu. Sepanjang lintas ini, dari Menggala sampai Kayuagung, tak ada satu pun pengecer yang berani menjual solar padanya. Codet sudah menutup selang untuknya, satu per satu, seperti orang menutup keran sampai tetes terakhir. Kemarin di SPBU dekat timbangan, petugasnya cuma menggeleng tanpa menatap matanya. "Habis, Pak," katanya, padahal truk di belakang Surudi diisi penuh. Habis untukmu, itu maksudnya. Habis selamanya.
Ia bersandar ke bak truk, merasakan besi yang dingin menembus punggungnya. Reruntuhan. Itu kata yang tepat. Semua yang ia susun berbulan-bulan—rute alternatif yang ia hafal, jerigen yang ia timbun diam-diam, aliansi rapuh yang ia bangun dari sopir-sopir yang ketakutan—semuanya kini seperti tumpukan puing di bawah kakinya. Ujang sudah mati. Sarki babak belur di klinik. PO Bahari, satu-satunya majikan yang menautkannya pada muatan dan ongkos, baru saja melepas tangannya. Dan Herman, orang yang seharusnya jadi jembatan, ternyata pengkhianat yang menjual petanya ke Codet.
Telepon di sakunya bergetar lagi. Kali ini nomor rumah.
"Pak," suara Tuminah, dan Surudi bisa mendengar ia berusaha keras terdengar tenang. "Orang leasing datang lagi tadi siang. Bawa surat."
Surudi memejamkan mata. "Bilang apa?"
"Tenggat terakhir. Lima angsuran. Kalau lewat—" Tuminah menahan napas. "Mereka tarik Hino, Pak. Ada tanggalnya di surat. Sudah dekat."
Angka-angka itu jatuh ke dadanya seperti muatan yang tak ia sanggup timbang. Lima angsuran. Truk yang bahkan tak bisa hidup pagi ini. Tangki yang seperempat. Jalan yang tertutup untuknya di tiap kilometer. Ia menghitung dalam kepala, seperti selalu ia hitung, dan untuk pertama kali dalam dua puluh lima tahun di jalan, hitungannya tak ketemu ujungnya. Tak ada trip. Tak ada solar. Tak ada majikan. Tak ada waktu.
"Pak? Bapak masih di situ?"
"Masih," katanya, dan suaranya keluar lebih serak dari yang ia mau. "Aku di sini."
"Anak kita nanya terus kapan Bapak pulang." Jeda. "Aku bilang sebentar lagi."
Surudi menatap Hino yang batuk, ke arah lintas yang membentang kelabu menuju kabut di kejauhan. Sebentar lagi. Ia tak tahu apa arti kata itu sekarang.
"Iya, Bu. Sebentar lagi." Ia memutus telepon sebelum suaranya mengkhianatinya.
Topan sudah kembali membungkuk ke mesin, memutar sesuatu dengan kunci pas, seolah ada gunanya. Bocah itu tak menyerah, dan justru itu yang paling menyakitkan buat Surudi—melihat harapan yang belum tahu ia sudah kalah.
"Sudah, Topan," kata Surudi. "Berhenti dulu."
Topan menegakkan badan. "Kalau injektornya kita bersihkan manual, Pak, mungkin—"
"Pakai solar apa? Kita mau bersihkan, mau hidupkan, mau jalan—pakai solar apa?" Surudi tak berteriak. Justru itu yang membuat kalimatnya berat. "Codet sudah tutup semua. PO Bahari lepas tangan. Leasing kasih tenggat mati. Aku ini mau ngangkut apa, ke mana, buat siapa?"
Topan diam. Angin lewat di antara mereka, membawa suara klakson truk lain jauh di jalan—truk-truk yang masih boleh lewat, yang masih diberi solar, yang sopirnya sudah setor dan tidur nyenyak.
"Bapak dulu bilang," kata Topan pelan, "jalan tak pernah benar-benar buntu. Selalu ada tikungan yang orang lain nggak lihat."
Surudi menoleh pada bocah itu. Kalimatnya sendiri, dibalikkan padanya di saat ia paling tak sanggup mempercayainya. Ia ingin bilang bahwa itu omongan sopir muda yang belum pernah lihat truk kawannya dibakar, belum pernah menggali kubur di tepi lintas, belum pernah menghitung angka yang tak ketemu ujungnya. Tapi ia menahannya.
Ia memandang Hino tuanya sekali lagi. Besi yang batuk, cat yang mengelupas, bak yang sudah mengangkut beban dua puluh lima tahun bersamanya. Truk itu belum mati. Batuk, memang. Sakit, iya. Tapi belum mati. Seperti dirinya.
"Tutup kapnya," kata Surudi akhirnya. Suaranya rata, tapi ada sesuatu yang mulai mengeras di baliknya, pelan, seperti bara di bawah abu. "Kita ke klinik. Aku mau lihat Sarki."
"Terus?"
Surudi tak menjawab. Ia belum tahu terusnya. Ia hanya tahu ia sudah berdiri di dasar—dan dari dasar, hanya ada satu arah yang tersisa untuk dilihat. Ia menepuk bak Hino sekali, seperti menepuk pundak kawan lama, lalu berjalan ke sisi kabin sementara kabut di ujung lintas menunggu, sabar, seperti selalu.