Tiga hari Surudi tak sanggup menatap Topan lebih lama dari sekejap. Di dalam kabin yang sempit itu keduanya duduk seperti dua orang asing yang kebetulan sejalan; kata-kata menyusut jadi isyarat tangan dan dengus napas. Setiap kali Topan membuka mulut hendak menjelaskan lagi, Surudi menaikkan volume radio, membiarkan lagu dangdut yang serak menutup segalanya. Ia tidak percaya, dan justru karena tidak yakin itulah dadanya terasa penuh batu. Bocornya rencana ke telinga Codet hanya bisa datang dari orang di lingkaran paling dalam — dan lingkaran itu tinggal segelintir.
Sore keempat, Sarki datang tertatih ke pelataran, kaki masih diseret sisa hajaran lama. Ia menepuk kaca kabin dengan buku jari.
"Turun, Rud. Ada yang mesti kaudengar sendiri."
Di belakang deretan truk yang terparkir miring, di warung kopi milik janda tua langganan sopir, seorang bocah pengantar solar oplosan menunggu dengan wajah cemas. Sarki menyodorkan bocah itu ke depan Surudi seperti menyodorkan bukti di meja hakim.
"Ceritakan yang kaubilang tadi. Jangan takut. Orang ini bukan Codet."
Bocah itu menelan ludah. "Empat malam lalu, Pak. Di belakang gudang timbangan. Saya lagi ngisi jerigen. Ada mobil bak Herman parkir di gelap. Dia telepon... nggak, dia ngomong sama orangnya Codet. Yang tangannya ada tato ular itu." Suaranya nyaris hilang. "Herman nyebut nama Bapak. Nyebut jalur tikus subuh. Nyebut jerigen yang disimpan di kilometer tujuh."
Batu di dada Surudi berpindah ke tenggorokan. Ketiganya — jalur tikus, subuh, kilometer tujuh — hanya diketahui empat orang: dirinya, Topan, Sarki, dan Herman. Herman, yang selama ini menepuk-nepuk pundaknya dan menyebutnya sopir kebanggaan PO Bahari.
"Kau yakin dia sebut kilometer tujuh?" Surudi bertanya pelan, seakan menahan sesuatu agar tak pecah.
"Yakin, Pak. Saya inget karena umur saya juga tujuh belas."
Surudi berdiri. Ia merogoh saku, menyelipkan uang ke tangan bocah itu, lalu menepuk kepalanya. "Pulang. Jangan lewat depan gudang lagi malam-malam."
Ia berjalan ke kabin, membuka pintu, dan untuk pertama kali dalam tiga hari menatap Topan lurus-lurus. Mata anak muda itu merah, lelah oleh tuduhan yang tak pernah diucapkan tapi terasa di setiap keheningan.
"Maafkan aku," kata Surudi, dan hanya itu. Topan mengangguk sekali, dan sesuatu yang retak di antara mereka mulai menyambung sendiri, diam-diam, seperti tulang.
Kantor PO Bahari di pinggir jalan lintas itu berdebu seperti biasa, kipas angin berputar malas menggeser bau oli dan kertas apak. Herman sedang menghitung setumpuk surat jalan ketika Surudi masuk tanpa mengetuk. Wajah koordinator lapangan itu berubah sepersekian detik — sebuah kilatan yang tak sempat ia sembunyikan — sebelum senyum dagang kembali dipasang.
"Rud! Tumben. Ada trip bagus, kebetulan—"
"Kilometer tujuh, Man." Surudi menaruh kedua telapak tangan di meja, pelan, tapi meja itu berderit. "Siapa yang tahu soal kilometer tujuh selain kau?"
Senyum Herman meleleh. Ia menyandar ke kursi, memandang pintu, menghitung jalan keluar yang tak ada. "Kau nggak ngerti keadaannya," katanya akhirnya, suara turun jadi bisik. "Gimbal datang ke rumahku. Malam. Anakku tidur di kamar sebelah, Rud. Dia taruh parang di meja makanku, sambil ngomongin sekolah anakku. Codet nggak minta uang. Dia minta kabar. Cuma kabar." Herman mengusap wajahnya yang berkeringat. "Aku kasih dia kabarmu biar dia nggak ambil nyawa keluargaku. Itu aja pilihannya. Itu aja."
"Itu aja," Surudi mengulang, dan rasa pahit itu hampir membuatnya tertawa. "Kau jual jalurku buat beli malam tenang buat anakmu. Aku juga punya anak, Man. Aku juga punya istri yang tiap malam nunggu telepon takut aku pulang tinggal nama."
"Makanya berhenti!" Herman bangkit, setengah membentak, setengah memohon. "Kau kira PO ini bakal belain kau? Bos udah tahu semua. Bos yang suruh aku diam."
Kata-kata itu menggantung di udara berdebu. Surudi menoleh ke pintu ruang dalam. Di ambangnya, bos PO Bahari berdiri — lelaki gemuk berkemeja batik yang selama ini hanya muncul sekejap-sekejap, tak pernah kotor oleh solar. Ia tidak marah. Ia bahkan tidak terkejut. Ia hanya memandang Surudi dengan wajah orang yang sudah lama menghitung untung-rugi dan sudah lama pula menang.
"Sudah, Herman," kata bos itu tenang. "Surudi orang pintar. Dia ngerti dagang."
"Ngerti dagang apa?" suara Surudi rendah, berbahaya.
Bos itu mengangkat bahu. "Codet menguasai jalan. Kami menguasai muatan. Dua-duanya perlu kami. Kenapa harus pilih satu?" Ia melangkah masuk, mengambil satu surat jalan dari tumpukan, lalu meletakkannya kembali. "Ongkos dobel itu bukan karena kami baik hati, Rud. Itu upah risiko. Kau yang nanggung risikonya, kami yang atur biar semua pihak dapat bagian. Termasuk Codet. Selalu termasuk Codet."
Surudi merasakan lantai seolah miring. Selama ini ia mengira PO Bahari lawan Codet, atau setidaknya bukan kawannya. Ternyata mereka main dua kaki — satu kaki menjabat tangannya, satu kaki menendang di bawah meja. Muatan yang ia pertaruhkan nyawanya, ongkos yang ia kejar sampai matanya rabun, semuanya cuma angka di buku besar yang tak pernah memihaknya.
"Jadi mulai sekarang," bos itu melanjutkan, suaranya masih halus, "lebih baik kau setor ke Codet. Kami nggak bisa kasih trip ke sopir yang bikin ribut di jalan. Bikin repot semua orang. Kontrakmu... kita hentikan dulu. Sementara."
Sementara. Surudi tahu betul arti kata itu di mulut orang seperti ini: selamanya.
Ia tidak berteriak. Ia tidak menggebrak meja. Ia hanya menegakkan punggung, menatap dua orang itu bergantian — yang satu ketakutan, yang satu perhitungan — lalu mengangguk pelan, seolah menerima harga barang yang sudah ia duga jelek dari awal.
"Terima kasih ongkos yang kemarin," katanya. "Cukup buat solar sampai Menggala."
Ia berbalik dan melangkah keluar ke halaman berdebu, tempat Hino tuanya menunggu dengan mesin yang masih batuk dan Topan yang menunggu di kursi. Angin lintas menampar wajahnya, membawa bau aspal panas dan solar. Kini benar-benar tak ada lagi yang di belakangnya — tak ada majikan, tak ada nama besar, tak ada surat jalan yang melindungi. Hanya truk tua, seorang kenek, seorang kawan pincang, dan jalan yang sejak dulu memang tak pernah menjanjikan apa-apa selain dirinya sendiri. Anehnya, di tengah kehilangan itu, ada sesuatu yang mengeras di dalam dadanya, dingin dan tenang, seperti besi yang akhirnya menemukan bentuknya.