Titik itu seharusnya sepi. Sebuah gorong-gorong tua di luar Kayuagung, tempat air hujan biasa menggenang dan tak ada orang waras berhenti kecuali untuk kencing. Surudi memilihnya justru karena alasan itu—tak ada yang mau menoleh dua kali ke tempat yang baunya seperti got.
Ia menepikan Hino di bahu jalan, mematikan mesin, lalu turun bersama Topan menyusuri parit kering di baliknya. Rumput ilalang setinggi lutut, becek di bagian yang teduh. Tiga langkah dari gorong-gorong, tangannya sudah tahu sesuatu salah sebelum matanya sempat memastikan.
Tanah bekas galian masih basah, tapi bentuknya tidak seperti yang ia tinggalkan seminggu lalu. Ia berjongkok, menyingkap dedaunan yang dulu ia susun rapi menutupi lubang. Kosong. Jerigen dua puluh liter yang ia kubur di situ—cadangan untuk trip besar, hasil menyisihkan sedikit demi sedikit dari tiap pengisian yang masih bisa ia dapat—raib. Yang tersisa cuma bekas galian dan satu puntung rokok kretek yang belum lama dipadamkan, masih basah oleh embun pagi.
"Bang." Topan berdiri di belakangnya, suaranya turun satu oktaf. "Ini kan cuma kita berdua yang tahu."
Surudi tidak menjawab. Ia mengambil puntung rokok itu, mengamatinya seperti mengamati luka. Bukan sembarang orang lewat lalu iseng menggali tanah becek di gorong-gorong terpencil. Ini orang yang tahu persis harus mencari di mana.
Ia berdiri, mengelap tangan ke celana, dan berjalan cepat ke titik kedua—simpangan kecil dekat jembatan tua sebelum Menggala, tempat ia menitip dua jerigen lagi di balik gorong-gorong serupa, disembunyikan di antara akar bambu. Topan mengejarnya tanpa bertanya lagi.
Titik kedua juga kosong.
Dalam perjalanan pulang ke truk, Surudi menghitung dalam hati siapa saja yang tahu. Dirinya sendiri. Topan, yang membantu menggali dan mengangkut. Sarki, yang ia beri tahu semalam sebelum berangkat, karena Sarki akan ikut mengawal rentetan trip nanti dan harus tahu di mana cadangan bisa diambil kalau keadaan darurat. Tiga orang. Tidak lebih.
"Sarki nggak mungkin, Bang," kata Topan, seolah membaca isi kepalanya. "Dia yang paling nekat balikin diri buat ikut kita."
"Aku nggak bilang siapa-siapa," jawab Surudi, tapi nadanya tidak seyakin kata-katanya.
Mereka naik kembali ke kabin. Surudi menyalakan mesin, tapi tidak langsung jalan. Ia duduk diam, tangan di setir, mata memandang jalan yang kosong di depan. Bertahun-tahun ia hidup dengan aturan sederhana: jangan percaya siapa pun yang tak perlu dipercaya, dan kalau sudah percaya, jangan setengah-setengah. Aturan itu yang membuatnya bertahan dua puluh lima tahun. Sekarang aturan itu menusuk balik.
"Dulu," katanya pelan, mata masih ke depan, "di pos, kau pernah ngobrol sama orangnya Codet. Aku lihat sendiri."
Topan diam sebentar terlalu lama. "Itu udah lama, Bang. Udah aku jelasin—"
"Aku tanya lagi sekarang." Surudi menoleh. "Karena sekarang bukan cuma soal kau jujur apa nggak sama aku. Sekarang ini soal solar yang mestinya nyelametin nyawa kita berdua di Tikungan Seribu nanti, ilang begitu aja, di dua tempat yang cuma kita tahu."
Wajah Topan mengeras, bukan karena tersinggung, tapi karena luka lama yang dikorek ulang. "Kalau Abang masih curiga aku jual Abang ke Codet, mending Abang bilang aja sekarang aku turun di sini."
"Aku nggak bilang gitu."
"Tapi Abang mikir gitu."
Surudi tidak membantah. Dan diamnya lebih menyakitkan daripada kalau ia berbohong. Ada jeda panjang di kabin itu, hanya suara mesin idle dan angin menampar kaca spion. Topan menatap ke luar jendela, rahangnya mengeras, dan Surudi merasakan sesuatu yang lebih dingin dari kabut Tikungan Seribu turun di antara mereka.
Ia teringat Ujang. Teringat bagaimana kepercayaan yang salah tempat bisa berakhir dengan truk terbakar di bahu jalan, atau lebih buruk. Ia teringat juga wajah Topan waktu mengaku soal adiknya yang hilang—wajah yang tidak pernah ia lihat berbohong sebelumnya. Dua ingatan itu bertarung, dan ia tidak tahu mana yang harus dimenangkan.
"Aku cuma mikir," kata Surudi akhirnya, suaranya lebih lunak, "siapa pun yang bocorin ini, dia deket. Deket banget. Dan aku nggak enak sama diri sendiri harus mikirin kau kayak gini."
"Kalau gitu jangan mikir aku," kata Topan, tajam. "Mikir Sarki. Mikir Herman. Mikir siapa aja yang pernah denger dari mulut Abang sendiri, sekali, dua kali, waktu ngobrol sama orang lain."
Surudi diam. Ia mencoba mengingat ulang tiap percakapan seminggu terakhir—di warung, di pelataran, di telepon dengan Herman soal jadwal trip. Ingatannya kabur, seperti biasa belakangan ini, dan itu membuatnya makin marah pada dirinya sendiri, bukan pada Topan.
Ia memasukkan gigi, menjalankan truk tanpa bicara lagi. Topan duduk kaku di sisinya, memandang lurus ke jalan, tangan terlipat seakan menjaga jarak yang baru saja terbentuk. Tidak ada yang membuka mulut sampai lampu-lampu Menggala mulai kelihatan dari kejauhan, kuning pucat menembus debu.
Surudi tahu satu hal pasti: entah siapa yang bocor, orang itu cukup dekat untuk tahu gorong-gorong mana yang ia pilih, dan cukup berani untuk menggali sendiri di tengah malam. Itu bukan pekerjaan orang jauh. Itu pekerjaan orang yang selama ini duduk di meja yang sama dengannya, makan dari piring yang sama, atau menumpang di kabin yang sama.
Dan untuk pertama kalinya sejak Topan naik ke truknya di Bandar Lampung, Surudi tidak yakin lagi siapa yang boleh ia percaya sepenuhnya—termasuk anak muda yang duduk persis di sampingnya sekarang, menatap jalan dengan mata yang tak lagi mau bertemu matanya.