Mereka masuk ke punggung Bukit Barisan menjelang sore, ketika jalan mulai berkelok naik dan udara berubah dingin, dan Surudi merasakan tekanan di telinganya berubah seperti yang selalu terjadi di ketinggian. Ia memperlambat truk, memindahkan ke gigi rendah, dan membiarkan mesin menggerung pelan menanjak. Topan, yang tadinya mengeluh truk terlalu lambat, kini diam karena pemandangan di luar membuatnya lupa mengeluh: jurang hijau yang dalam di satu sisi, dinding batu di sisi lain, dan tikungan yang datang satu demi satu tanpa habis.
Lalu kabut datang.
Ia datang bukan perlahan tapi seperti pintu yang ditutup. Satu tikungan jalan masih terlihat, tikungan berikutnya sudah lenyap dalam putih susu, dan dalam beberapa menit dunia di luar kaca menyusut sampai hanya beberapa meter di depan bemper. Lampu truk menabrak kabut dan memantul balik, membuat tirai cahaya yang justru membutakan, dan Surudi mematikan lampu jauh, menyalakan lampu kabut kuning yang menyusup lebih rendah.
"Pak," suara Topan tiba-tiba kecil. "Kita berhenti saja, ya? Nunggu kabutnya hilang."
"Berhenti di mana?" Surudi menjawab tenang, matanya tak lepas dari sedikit aspal yang masih terlihat. "Bahu jalan tak ada. Kalau aku berhenti di jalur, truk dari belakang yang tak lihat akan menghantam kita. Di kabut begini, truk diam lebih berbahaya daripada truk jalan. Kita harus terus, pelan."
Dan inilah yang membedakan Surudi dari sopir mana pun yang menyetir dengan mata: ia menyetir dengan ingatan. Ia tak bisa melihat tikungan, tapi ia tahu tikungan itu ada, karena ia sudah melewati jalan ini ratusan kali dalam dua puluh lima tahun, dan tubuhnya menyimpan peta yang tak ada di GPS mana pun. Setelah tanjakan panjang ini ada tikungan tajam ke kanan, ia tahu, lalu turunan pendek, lalu kiri, lalu jembatan kecil di mana jalan menyempit. Ia menghitung dalam hati, merasakan kemiringan jalan lewat pantatnya yang menempel di kursi, lewat beban yang berpindah di setiap belokan.
"Buka kaca sedikit," perintahnya pada Topan. "Dengarkan."
Topan membuka kaca, dan udara dingin lembap masuk, dan bersamanya suara — gemericik air di jurang, dan jauh di depan, samar, deru mesin lain. Surudi memencet klakson, dua kali pendek, satu panjang, sebuah kalimat dalam bahasa yang hanya dimengerti orang jalan. Dari kabut di depan, terdengar jawaban: satu panjang, dua pendek. Aku di sini, jalurku, kamu di sebelah mana.
"Bus malam," kata Surudi, membaca suara. "Turun dari atas. Dia ngebut, sopirnya muda, kejar setoran." Ia menggeser truk semepet mungkin ke kiri, ke arah dinding batu, sampai spion hampir menyentuh tebing. "Pegangan."
Klakson bus itu menggelegar dari kabut, dekat, terlalu dekat, dan sejenak cahaya lampunya pecah jadi ledakan putih di depan kaca, dan Topan berteriak tanpa sadar. Lalu bus itu lewat — sebuah massa logam dan cahaya dan angin yang mengguncang truk, melesat di sisi kanan dengan jarak yang mungkin hanya selebar telapak tangan, klaksonnya masih melolong saat ekornya ditelan kembali oleh kabut di belakang. Truk bergoyang dari hempasan anginnya. Surudi menahan kemudi dengan kedua tangan yang sama sekali tak gemetar, mengoreksi, meluruskan, dan terus melaju pelan seolah tak terjadi apa-apa.
Topan menempel ke pintu, napasnya cepat, wajahnya pucat di bawah kuning lampu dasbor. Ia menengok ke belakang ke arah kabut yang menelan bus itu, lalu ke Surudi, lalu ke depan lagi, dan untuk pertama kali sejak ia naik truk ini, mulutnya yang biasanya tak bisa diam menjadi benar-benar bisu. Ia baru saja menyentuh kematian dengan jarak selebar telapak tangan, dan ia menyentuhnya tanpa sempat bersiap, dan tubuhnya baru saja belajar apa arti takut yang sesungguhnya — bukan takut dalam film, tapi takut yang membuat perut dingin dan tangan basah.
Surudi tak menengoknya, tak menghiburnya, tak juga membanggakan diri. Ia membiarkan anak itu duduk dengan ketakutannya, karena ketakutan itu perlu, ketakutan itu yang akan membuat Topan hidup lebih lama daripada keberaniannya yang bodoh. Hanya setelah beberapa tikungan, ketika napas Topan mulai teratur, Surudi berbicara, pelan, matanya tetap di jalan.
"Sopir bus itu menyetir dengan mata," katanya. "Di kabut, mata bohong. Dia ngebut karena dia kira dia lihat jalan kosong. Padahal yang dia lihat cuma beberapa meter, dan dia isi sisanya dengan harapan. Sopir yang menyetir dengan harapan, cepat atau lambat, jatuh ke jurang." Ia memindahkan gigi, mesin menggerung. "Aku menyetir dengan ingatan dan telinga. Ingatan tak bisa dibutakan kabut. Telinga tak bisa ditipu cahaya."
Topan menelan ludah. "Bapak hafal semua tikungan ini?"
"Tidak semua," jawab Surudi jujur. "Tapi cukup. Dan yang tak kuhafal, aku baca dari jalan — dari kemiringan, dari suara air, dari arah angin. Jalan itu bicara, Pan. Cuma orang yang mau dengar yang selamat." Ia diam sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang lebih berat, seperti orang menabung kekhawatiran, "Kabut setebal ini di sini, sore begini, biasanya berarti hujan di atas. Hujan besar, lama. Dan hujan besar di bukit ini, di musim begini, membawa hal lain selain becek." Ia tak menyelesaikan kalimatnya, dan Topan terlalu lelah oleh takut untuk bertanya apa hal lain itu. Tapi Surudi memandang dinding batu di sisi kiri, batu yang gelap basah meneteskan air, dan ia tahu — dengan pengetahuan yang tak ingin ia ucapkan — bahwa batu yang terlalu kenyang air adalah batu yang suatu saat melepaskan diri dari bukit dan turun menutup jalan. Ia menyimpan kekhawatiran itu, seperti ia menyimpan kampas rem yang tipis, di tempat yang sama di dadanya tempat ia menyimpan semua utang yang belum ditagih jalan. Truk terus merayap naik, ke dalam putih yang tak berujung, klakson sesekali memanggil dan dijawab, dua sopir tua dan satu anak muda yang baru lahir kembali dari rasa takut.