Malam itu Surudi menepikan Hino-nya di pelataran rumah Sarki, sebuah petak tanah berpagar bambu di pinggir Kayuagung yang baunya campur solar dan tanah basah. Lampu teras menyala kuning pucat, dan di bawahnya, truk Sarki—Fuso tua yang kap depannya masih bopeng bekas dipukul balok kayu dua bulan lalu—berdiri diam tanpa terpal, seperti hewan yang sudah lama tak diajak keluar kandang.
Sarki sendiri duduk di bangku panjang, mengelap sebuah kunci pas yang sebenarnya sudah bersih, gerakan tangannya lebih untuk menyibukkan diri daripada membersihkan apa-apa. Ia mendongak begitu mendengar deru mesin yang dikenalnya sejak dua puluh tahun lalu.
"Kau masih berani ke sini malam-malam," katanya, tanpa berdiri. "Kalau ada yang lihat truk Bahari parkir di rumahku, besok Gimbal punya alasan baru buat mampir."
"Aku lewat jalan belakang. Tak ada yang ekor." Surudi duduk di ujung bangku, menjaga jarak sopan seperti biasa. Ia melihat bekas jahitan di alis Sarki yang belum juga rata, garis tipis yang akan menemani wajah kawannya itu seumur hidup. "Bagaimana punggungmu?"
"Masih ngilu kalau hujan. Tapi aku masih bisa jalan, masih bisa nyetir." Sarki meletakkan kunci pas, menatap Surudi lama. "Kau tidak datang cuma untuk tanya kabar punggungku."
Surudi tidak buru-buru menjawab. Ia menatap Fuso itu, debu tebal di kaca depan, ban yang mulai kempis sebelah. Truk yang dulu galak di tanjakan, sekarang cuma jadi tempat kucing tidur.
"Aku mau bikin satu jalan besar," katanya akhirnya, pelan, seolah kata-kata itu berat diangkat. "Bukan trip biasa. Aku sudah nyimpan solar di beberapa titik, jauh dari mata Codet. Kalau semua lancar, ini yang bisa nutup utang leasing sekali jalan."
Sarki diam. Matanya yang tadinya menatap wajah Surudi, sekarang pindah ke tanah, ke sepatu bot yang sudah terkelupas di ujungnya.
"Aku tidak minta kau ikut," lanjut Surudi cepat, seperti takut kalimatnya sendiri disalahartikan. "Aku cuma... mau pamit. Kalau nanti aku tidak balik, setidaknya ada yang tahu kenapa."
"Pamit." Sarki mengulang kata itu seperti mengunyah sesuatu yang pahit. Ia berdiri, jalan pincang sedikit ke arah Fuso-nya, meletakkan tangan di kap depan yang penyok. "Kau tahu apa yang mereka bilang waktu aku dipukuli di rumah makan itu? Mereka bilang, 'ini titipan buat Surudi.' Bukan buat aku. Aku cuma kena getahnya karena jadi kawanmu."
Surudi menunduk. Ia sudah menduga kalimat itu akan keluar cepat atau lambat, dan tetap saja rasanya seperti ditampar.
"Makanya aku tidak mau seret kau lagi."
"Aku sudah kena seret dari dulu, Rudi. Dari waktu aku bilang di warung itu, 'jalan ini sekarang punya Codet.' Aku pikir kalau aku bilang begitu, kau bakal tunduk, dan semua aman." Sarki menggeleng, tertawa kecil yang tak ada gembiranya. "Tapi kau malah jalan terus. Dan aku... aku yang dulu nyuruh kau nunduk, sekarang malah jadi yang paling penakut di antara kita berdua."
"Bukan penakut. Kau punya istri, anak-anak sudah gede tapi masih butuh bapaknya berdiri."
"Ujang juga punya ibu." Nama itu jatuh di antara mereka seperti batu ke sumur, dan sejenak keduanya sama-sama diam, mendengar gaungnya. "Aku ikut nguburkan dia, Rudi. Aku lihat kau berdiri paling depan, tidak nangis, cuma diam. Dan aku tahu, sejak hari itu, kau sudah putuskan tidak akan pernah setor. Aku yang masih mikir-mikir."
Surudi tidak membantah. Ia menunggu, karena ia kenal betul kawannya ini—Sarki bukan orang yang bisa didesak, hanya bisa dibiarkan sampai pada kesimpulannya sendiri.
Sarki mengelus kap Fuso-nya lama, seperti menyapa sesuatu yang lama tak disapa. "Truk ini masih jalan. Aku cuma takut naik lagi, karena tiap kali dengar knalpot besar dari belakang, punggungku langsung ingat rasa balok kayu itu." Ia menoleh. "Tapi kalau aku terus begini, aku bukan cuma penakut, aku pengkhianat pada Ujang. Pada diriku yang dulu masih berani nyetir tanpa pikir siapa yang berkuasa di jalan."
"Aku tidak minta kau jadi pahlawan."
"Aku tidak mau jadi pahlawan." Sarki berbalik, wajahnya lebih keras dari yang pernah Surudi lihat sejak pemakaman. "Aku cuma mau jadi kawan yang benar. Kau jalan sendirian, bawa muatan segitu besar, ngincer jerigen-jerigen sembunyi sepanjang lintas—kalau satu saja ketahuan, kau mati di jalan itu sendirian, tak ada yang bisa cerita apa yang sebenarnya terjadi. Aku mau jadi yang cerita."
"Jadi?"
"Jadi aku ikut. Bukan di depan, bukan pasang nama Fuso-ku biar Codet lihat. Aku jalan di belakang, jauh, seperti orang lain yang kebetulan searah. Kalau kau kena hadang, aku yang bawa kabar ke Tuminah, ke sopir-sopir lain. Kalau perlu, aku yang tarik perhatian ke arah lain." Ia menepuk kap truknya sendiri, pelan, seperti menepuk punggung kuda tua yang diajak bangkit sekali lagi. "Aku sudah lama tidak jadi pengawal siapa-siapa. Tapi dulu aku hafal jalan ini sama baiknya denganmu, Rudi. Cuma kau yang lebih berani pakai hafalan itu."
Surudi menatap kawannya, dan untuk pertama kali sejak malam itu dimulai, ada sesuatu yang longgar di dadanya—bukan karena rencana besarnya jadi lebih aman, tapi karena ia tak lagi sendirian menanggung ketakutan yang selama ini ia sembunyikan rapi-rapi di balik kemudi.
"Kau yakin punggungmu kuat?"
"Punggungku sudah tua, Rudi. Tapi hatiku baru selesai dibetulkan." Sarki tersenyum tipis, lalu melangkah ke bak truknya, menarik terpal yang berdebu. "Bantu aku bersihkan ini. Kalau mau berangkat sebelum semua terlambat, Fuso ini butuh dipanaskan dulu—sudah kelamaan diam, sama sepertiku."
Mereka bekerja dalam diam setelah itu, dua sopir tua di bawah lampu teras yang temaram, tangan penuh gemuk dan debu, sementara di kejauhan, entah di tikungan mana, jalan lintas terus menunggu dengan caranya sendiri yang dingin dan sabar.