Malam itu Surudi tidak membawa muatan. Truk Hino-nya terparkir kosong di pelataran rumah Sarki, mesin dingin, bak kosong tanpa apa-apa yang bisa dicurigai orang. Yang ia bawa hanya sepeda motor bebek tua milik Topan, dua jeriken kosong terikat di boncengan, dan sebuah peta yang tak pernah ia gambar di kertas — peta itu ada di kepalanya, hasil dua puluh lima tahun menghafal tikungan, jembatan, dan pohon yang tumbang lalu tumbuh lagi.
"Kita ke mana, Pak?" tanya Topan, memegang setang sambil menunggu aba-aba.
"Ke tempat yang nggak ada di peta siapa pun," jawab Surudi. "Termasuk peta Codet."
Mereka menyusuri jalan kecil di luar lintas utama, jalan yang dulu dipakai truk pengangkut karet sebelum pabrik itu tutup sepuluh tahun lalu. Aspalnya sudah retak jadi kerikil, tapi Surudi tahu jalan ini tembus ke sebuah pom mini di pinggir desa yang tak pernah didatangi sopir tronton — terlalu kecil, terlalu jauh dari lintas, hanya melayani motor petani dan traktor sawah. Pemiliknya, seorang perempuan tua bernama Mak Ipah, tak tahu siapa Surudi, tak tahu apa itu Codet, hanya tahu ada yang datang beli solar untuk "genset kebun."
"Genset kebun apa yang butuh dua puluh liter, Pak?" bisik Topan sambil mengisi jeriken bergantian, pura-pura menghitung uang receh.
"Genset yang capek," jawab Surudi datar, dan Topan diam, paham maksudnya bukan soal mesin.
Begitu berulang selama berhari-hari, di titik-titik yang berbeda, jumlah yang tak pernah banyak — cukup supaya tak menarik perhatian, cukup supaya kalau ditanya bisa dijawab enteng: buat pompa air, buat traktor, buat apa saja selain truk. Surudi tak pernah mengisi lebih dari dua jeriken di satu tempat. Ia tahu betul bagaimana kabar bisa menjalar di jalanan — satu mulut bicara di warung, satu telinga Codet mendengar, dan semua kerja keras itu jadi sia-sia dalam semalam.
Titik pertama ia pilih di bawah jembatan kecil tak jauh dari Kayuagung, tempat aliran sungai menyempit dan ada gorong-gorong tua peninggalan Belanda yang sudah lama tak dipakai mengalirkan air, hanya tanah kering dan sarang kelelawar. Ia dan Topan menyusupkan jeriken jauh ke dalam, dibungkus terpal plastik dan karung goni, diikat pada besi cor yang menonjol di dinding beton supaya tak hanyut kalau hujan datang.
"Kok Bapak tahu ada gorong-gorong ini?" tanya Topan, menyorotkan senter ke mulut lubang yang gelap.
"Tahun sembilan puluh delapan, aku pernah nginap tiga hari di sini nunggu banjir surut," kata Surudi, suaranya datar tapi matanya menerawang sebentar. "Waktu itu belum ada Codet. Belum ada leasing juga."
Titik kedua ada di dekat Sitinjau, di sebuah pondok karet yang sudah reyot, ditinggal pemiliknya entah ke mana, atapnya separuh ambruk tapi lantai papannya masih kuat. Surudi menyimpan dua jeriken di bawah papan lantai yang bisa diangkat, menutupnya lagi dengan tanah dan dedaunan kering supaya terlihat seperti tak pernah disentuh. Ia menandai lokasinya bukan dengan tanda apa pun yang bisa dilihat orang lain — hanya dengan hitungan langkah dari batu besar berbentuk kepala kerbau yang ia kenal sejak masih jadi kenek, puluhan tahun silam.
"Kalau saya lupa itungannya gimana, Pak?" Topan bertanya, agak cemas, karena ia tahu suatu saat mungkin dialah yang harus mengambilnya sendirian.
"Makanya kamu ikut sekarang," jawab Surudi. "Biar bukan cuma aku yang tahu jalan ini. Biar ada dua kepala yang inget, bukan cuma satu."
Ucapan itu terdengar seperti nasihat biasa, tapi Topan menangkap sesuatu di baliknya — semacam wasiat kecil, sesuatu yang Surudi titipkan tanpa mengatakannya terang-terangan.
Titik ketiga, yang paling berbahaya sekaligus paling dekat dengan Tikungan Seribu, Surudi pilih di balik akar pohon besar yang tumbang melintang menutup jalan setapak lama, tempat dulu ada rambu penunjuk arah sebelum jalan itu ditinggalkan karena longsor. Di sanalah ia menanam jeriken paling besar, mengubur separuh badannya di tanah lembap, menutup dengan batu dan ranting supaya tampak seperti bagian dari akar yang membusuk.
Malam ketiga, saat mereka baru saja selesai menimbun titik itu, lampu motor lain terlihat berkelebat jauh di ujung jalan setapak. Topan langsung mematikan senter, menahan napas. Surudi menarik lengannya, menariknya masuk ke balik semak, diam-diam menghitung detik seperti dulu ia menghitung jarak rem di tanjakan.
Motor itu lewat pelan, sinar lampunya menyapu sekali ke arah pohon tumbang tanpa berhenti, lalu menghilang di tikungan berikutnya. Bukan orang Codet — mungkin cuma warga pulang dari ladang. Tapi jantung Surudi tetap berdegup keras, mengingatkannya betapa tipis batas antara rencana yang berhasil dan rencana yang bocor.
"Kalau ketahuan, Pak?" bisik Topan setelah suara motor benar-benar hilang.
"Makanya kita nggak nyimpan di satu tempat," jawab Surudi, bangkit perlahan, mengibaskan tanah dari celananya. "Kalau satu ketahuan, yang lain masih ada. Codet bisa nutup semua SPBU di lintas ini. Tapi dia nggak bisa nutup jalan yang cuma aku yang hafal."
Mereka melanjutkan sampai lewat tengah malam, menandai lima titik total — masing-masing tak lebih dari beberapa jeriken, tersebar dari Kayuagung sampai mulut Sitinjau, cukup untuk membuat truk Hino yang batuk-batuk itu bisa menempuh jarak yang selama ini mustahil tanpa mampir ke satu pun pengecer milik Codet.
Dalam perjalanan pulang, motor melaju pelan di jalan berlubang, Surudi diam cukup lama sebelum akhirnya bicara, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Topan yang duduk di boncengan.
"Codet kira dia yang punya jalan ini," katanya, angin malam membawa suaranya nyaris hilang. "Padahal jalan ini nggak pernah punya siapa-siapa. Cuma yang hafal yang bisa pakai."
Topan tak menjawab, hanya memeluk lebih erat pinggang Surudi saat motor menanjak melewati tanah berbatu, membawa mereka pulang ke gudang Sarki sebelum fajar, dengan rencana besar yang mulai punya bentuk, tersembunyi rapi di lima titik yang hanya ada di kepala seorang sopir tua yang menolak menyerah.