Suara itu datang lagi tepat setelah tikungan panjang menjelang Menggala—batuk kasar dari balik kap, seperti orang tua yang paru-parunya penuh debu jalan. Surudi menahan napas dan menunggu. Mesin Hino tua itu tersendat sekali, dua kali, lalu kembali menderu, tapi deru yang tidak lagi bulat. Ada retak di dalamnya, ada yang tak beres, dan setelah dua puluh lima tahun di belakang kemudi ia tahu bunyi itu bukan bunyi yang bisa dibiarkan.
"Bang," kata Topan pelan, tangannya mencengkeram pegangan pintu. "Itu tadi apa?"
"Solar," jawab Surudi tanpa memalingkan wajah dari jalan. "Yang kemarin. Yang oplosan."
Ia tak perlu menjelaskan lebih. Sejak selang di pengecer langganan dikunci atas perintah Codet, mereka membeli apa saja yang bisa dibeli—solar campur minyak tanah dari jeriken tak berlabel, solar yang baunya lebih tajam dari seharusnya, solar yang membuat asap knalpot menghitam pekat di tanjakan. Setiap tetes yang masuk ke tangki adalah racun pelan-pelan bagi jantung tua Hino ini.
Mereka berhenti di pelataran tanah keras di pinggir lintas, jauh dari warung, jauh dari mata. Surudi mematikan mesin dan turun. Lututnya berbunyi sama tuanya dengan mesin. Ia membuka kap, dan uap panas menampar mukanya bersama bau hangus yang tak asing.
"Bawa senter," katanya.
Topan melompat turun, menyerahkan senter, lalu berdiri menunggu dengan wajah yang belajar untuk tidak banyak bertanya. Surudi mencondongkan tubuh ke dalam ruang mesin. Jari-jarinya yang kapalan meraba selang, meraba klem, meraba saringan yang seharusnya menyaring dan kini sudah lelah menyaring. Ia mencabut saringan solar dan mengangkatnya ke cahaya. Isinya keruh. Endapan cokelat kehitaman menyumbat pori-porinya seperti lumpur menyumbat parit.
"Ini dia," gumamnya. "Dia nyekik di sini."
"Bisa dibersihin, Bang?"
"Dibersihin bisa. Tahan berapa lama, itu soal lain." Surudi mengetuk-ngetukkan saringan ke telapak tangan, meniupnya, mengorek dengan lidi yang ia patahkan dari sapu di kabin. Kerjaan tukang, bukan kerjaan sopir. Tapi di jalan seperti ini, seorang sopir harus jadi segalanya—tukang, dokter, dan kadang pendeta bagi mesinnya sendiri.
Ia teringat dulu, waktu Hino ini masih muda dan ia masih muda, ada bengkel di tiap simpang yang mau melayaninya tengah malam sekalipun. Sekarang bengkel-bengkel itu menutup pintu begitu melihat pelat truknya. Codet sudah menyebarkan namanya seperti orang menyebarkan bau bangkai. Sopir yang belum setor. Sopir yang bandel. Jangan dilayani.
"Kunci empat belas," kata Surudi. Topan mengaduk kotak perkakas yang lebih banyak karatnya daripada besinya, dan menemukannya.
Mereka bekerja dalam diam yang hanya dipecah oleh derik logam dan gonggongan anjing entah dari mana. Surudi mengendurkan baut pompa, membiarkan solar kotor menetes ke kaleng bekas, menampung yang masih bisa ditampung karena membuang solar sekarang sama saja membuang darah. Tangannya hitam sampai ke pergelangan. Ada satu paking yang sudah getas, retak halus di pinggirnya, dan ia tak punya gantinya.
"Kita nggak ada paking, Bang."
"Aku tahu." Surudi duduk di atas ban, menyeka keringat dengan lengan bajunya, meninggalkan coreng oli di dahinya. Ia memandangi paking retak itu di telapak tangannya seolah memandangi nasibnya sendiri. Lalu ia mengeluarkan pisau lipat dari saku, mengambil sandal jepit karet cadangan dari kolong jok—sandal butut yang sudah ia simpan entah untuk apa—dan mulai memotong.
Topan menatapnya bingung. "Sandal?"
"Karet ya karet." Surudi memotong lingkaran kecil dengan sabar, menyesuaikan dengan bentuk paking lama, melubanginya di tempat yang tepat. "Nggak akan awet. Tapi buat nyampe tempat yang ada paking beneran, dia cukup. Yang penting jangan bocor sekarang." Ia mengangkat karet potongannya ke cahaya senter, memicingkan mata yang makin lama makin susah fokus di jarak dekat, lalu memasangnya. "Jalan itu nggak nunggu kita siap, Pan. Dia cuma nunggu kita nyerah."
Butuh hampir dua jam. Ketika Surudi akhirnya menutup kap dan memutar kunci kontak, seluruh tubuhnya menegang. Mesin berputar sekali—kosong—dua kali, tersendat, dan untuk sedetik yang terasa seperti setahun tidak ada apa-apa selain keheningan malam dan degup di dadanya sendiri. Lalu Hino batuk, meludah, dan hidup. Deru itu masih belum bulat. Tapi ia hidup.
Surudi mengembuskan napas panjang. Ia tidak tersenyum. Ia sudah terlalu tua untuk merayakan kemenangan sekecil ini.
"Naik," katanya.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan telinga Surudi yang kini terpasang pada mesin lebih daripada pada jalan. Ia mendengarkan setiap perubahan nada, setiap tersendak, setiap detak yang tak beraturan. Kakinya menahan pedal gas, tidak menekannya penuh, menjaga putaran di angka yang tidak menyiksa. Kecepatan mereka turun. Truk-truk lain menyalip dengan klakson panjang, lampu jauh menyilaukan spion, tapi Surudi tak peduli. Cepat sekarang berarti mogok nanti.
"Bang," Topan bicara setelah lama diam. Kota-kota kecil lewat di luar jendela seperti percikan cahaya di lautan gelap. "Kalau dia mati di tengah jalan gimana? Di tempat yang nggak ada bengkel, nggak ada orang."
Surudi diam sejenak. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang ia simpan sendiri sejak selang pertama dikunci untuknya.
"Makanya kita dengerin dia," jawabnya akhirnya. "Mesin itu ngomong, Pan. Dia bilang sebelum dia mati. Batuk dulu, baru mogok. Yang celaka itu sopir yang nggak mau dengerin." Ia menepuk dashboard pelan, seperti menenangkan hewan tua yang setia. "Aku sama Hino ini udah dua puluh lima tahun. Kalau dia mau mati, dia bakal kasih tahu aku dulu. Dan aku nggak akan biarin dia mati di tempat yang bikin dia malu."
Topan tidak menjawab. Tapi Surudi melihat dari sudut matanya bahwa anak muda itu memasang telinganya juga sekarang, mendengarkan mesin, belajar bahasa yang tak diajarkan di sekolah mana pun.
Di depan, kabut tipis mulai turun dari perbukitan, dan jauh di ujung sana, di suatu tempat yang belum mereka datangi, Surudi tahu ada tikungan-tikungan yang menunggu—tikungan yang menuntut mesin sehat dan tangki penuh, dua hal yang tak lagi ia punya. Ia menekan pedal sedikit lebih lembut, dan Hino tua itu, dengan paking dari sandal jepit dan solar yang meracuninya pelan-pelan, membawanya lebih jauh ke dalam malam.