Solar di tangki tinggal seperempat ketika Surudi membelokkan Hino ke pengecer Mak Ijah di pinggir jalan Kayuagung, tempat yang biasa ia singgahi sejak tronton itu masih bercat biru mengkilap. Papan kayu bertuliskan SOLAR-BENSIN ECER masih tergantung miring di atas dua jergen besar, tapi begitu roda depan menginjak halaman berdebu, Mak Ijah sudah berdiri di ambang warungnya, menyilangkan tangan di dada seperti pagar hidup.
"Kosong, Rudi," katanya, tanpa menunggu Surudi turun.
Surudi menurunkan kaca jendela. "Jerigen di belakang situ isi apa kalau bukan solar, Mak?"
"Punya orang lain. Sudah dipesan." Mata Mak Ijah tak sanggup menatap lama-lama. Ia melirik ke jalan, ke arah tikungan, seperti mengira ada yang mengawasi dari sana. "Kau cari yang lain saja, ya. Aku ini orang kecil, Rudi. Tak sanggup aku macam-macam sama orang situ."
Tak perlu disebut nama. "Orang situ" sudah cukup jelas artinya sejak tiga hari lalu, sejak Surudi duduk berhadapan dengan Bang Codet di warung kopi dan mengucapkan kata tidak yang paling mahal dalam hidupnya.
Topan, di kursi kenek, menahan napas. Sarki yang ikut menumpang di kabin belakang membuka pintu sedikit, lalu menutupnya lagi ketika melihat wajah Mak Ijah tak bergeming.
"Kita jalan," ujar Surudi pelan, menutup kaca.
Ban berputar meninggalkan debu yang menempel di kaca spion, dan tak ada yang bicara sampai lampu depan menyorot papan bengkel Koh Liem, tiga kilometer berikutnya. Di sanalah dulu Surudi menambal ban dalam yang bocor separuh jalan, ganti kampas rem tengah malam, berutang onderdil sampai gajian berikutnya tanpa pernah ditagih macam-macam. Koh Liem sendiri yang keluar, mengelap tangan berminyak ke lap yang sudah hitam, menatap tronton yang berhenti dengan suara mesin batuk-batuk.
"Rudi..." Koh Liem menggeleng sebelum kalimatnya selesai. "Aku tak bisa bantu kau kali ini."
"Cuma minta cek radiator, Koh. Sebentar saja."
"Bukan soal sebentar atau lama." Koh Liem menurunkan suaranya, seolah dinding bengkelnya sendiri punya telinga. "Kemarin ada yang datang, bilang siapa pun yang terima truk kau masuk sini, bengkel ini yang kena. Aku punya anak sekolah, Rudi. Aku tak sanggup lawan itu."
Surudi memandang deretan kunci pas tergantung rapi di dinding, alat-alat yang pernah menyelamatkan Hino-nya lebih dari sekali. Sekarang semua itu terkunci untuknya, bukan karena rusak atau habis, tapi karena namanya sendiri sudah jadi barang haram.
"Aku ngerti, Koh," katanya akhirnya, dan itu benar-benar ia mengerti — bukan karena bisa menerima, tapi karena ia sendiri, di posisi Koh Liem, barangkali akan memilih hal yang sama.
Di dalam kabin, setelah truk kembali melaju, Topan memecah diam. "Sampai warung makan juga, Pak?"
Mereka mencobanya di rumah makan Padang langganan dekat perbatasan, tempat yang biasa menyimpan nasi hangat untuk sopir yang datang lewat tengah malam. Kali ini pemiliknya sendiri yang keluar dari dapur, menyeka tangan ke kain sarung, dan sebelum Surudi sempat memesan, ia sudah bicara duluan.
"Piring kosong semua, Rudi. Kompor mati." Padahal asap masih mengepul dari cerobong di belakang, bau rendang masih menguar sampai ke halaman.
Surudi tak membantah. Ia hanya mengangguk, membalikkan badan, dan berjalan kembali ke truk dengan perut yang keroncongan dan sesuatu yang lebih pedih dari lapar mengendap di dadanya.
Malam itu mereka menepi di bahu jalan yang sepi, jauh dari pos mana pun, jauh dari lampu warung mana pun. Topan menyalakan kompor kecil yang biasa dibawa cadangan, memasak mi instan dengan air seadanya dari jerigen minum, sementara Sarki duduk di atas ban serep, menyalakan rokok dengan tangan yang masih sedikit gemetar sejak truknya dirusak dulu.
"Dari Sitinjau sampai sini," kata Sarki, menghembuskan asap ke udara yang dingin, "tak ada satu pun yang berani nampung kau lagi, Rudi. Aku dengar dari sopir lain di rest area tadi siang. Semua diwanti-wanti. Siapa yang layani Surudi, dianggap lawan Codet juga."
"Aku sudah tahu," jawab Surudi datar, menerima mangkuk mi dari tangan Topan.
"Terus kau mau apa? Solar makin susah, bengkel tutup pintu, warung pura-pura kompor mati. Kau mau jalan sampai kapan macam ini?"
Surudi tidak menjawab segera. Ia menyendok mi, mengunyah pelan, memandang gelap yang membentang di depan kap mesin, ke arah rute yang dulu ia kenal seperti garis di telapak tangannya sendiri, tapi kini terasa seperti negeri asing yang menolak menerimanya pulang.
"Kalau semua pintu ditutup," katanya akhirnya, "berarti tinggal jalan sendiri yang harus kuhafal lebih dalam lagi."
Sarki mendengus, tapi tak membantah. Ia sudah kenyang melihat Surudi keras kepala sejak dua puluh tahun lalu, dan tahu tak ada gunanya berdebat malam-malam begini.
Topan duduk di sebelah Surudi, memandangi api kecil kompor yang mulai padam. "Berarti tinggal kita bertiga, Pak?"
"Tinggal kita bertiga," ulang Surudi, dan kalimat itu terasa berat sekaligus ringan sekaligus — berat karena tahu betapa sedikitnya itu melawan jaringan sepanjang lintas Sumatra, ringan karena setidaknya ia tahu persis siapa yang bisa dipercaya.
Angin malam membawa bau solar yang tumpah dari selang pengisian entah di mana, bercampur debu jalan yang belum juga reda sejak sore. Surudi menghabiskan mi-nya dalam diam, menghitung jerigen cadangan yang tersisa di bak, menghitung kilometer yang masih harus ditempuh sebelum matahari terbit, menghitung berapa lama lagi ia bisa bertahan hanya dengan dua pasang tangan yang masih mau berdiri di sampingnya.
Ia tak tahu jawabannya malam itu. Yang ia tahu, mesin Hino masih harus dinyalakan sebelum subuh, dan jalan di depan tak akan pernah bertanya apakah seorang sopir sendirian atau berkawan seribu.