Kios kopi di persimpangan Menggala itu masih sama seperti tiga hari lalu ketika Bang Codet pertama kali mengajaknya duduk. Bedanya sekarang gerimis turun tipis, membuat atap seng berdenting pelan, dan asap dari kompor arang bercampur bau solar yang menempel di baju siapa pun yang baru turun dari kabin truk.
Surudi datang sendiri. Topan ia suruh menunggu di dalam kabin, dengan alasan memeriksa selang radiator yang katanya rembes—padahal radiator itu baik-baik saja. Ia tak mau anak itu mendengar apa yang akan ia ucapkan, sebab kalau salah bicara, kalimatnya bisa membawa keduanya pulang tinggal nama.
Bang Codet sudah duduk di kursi kayu yang sama, kaki disilangkan santai di atas bangku plastik, codet di pipinya seperti selalu memantulkan cahaya lampu kios dengan cara yang membuat orang segan menatap terlalu lama. Gimbal berdiri dua langkah di belakangnya, tangan terlipat, matanya menyapu jalan seakan menghitung siapa saja yang lewat dan siapa yang berhenti.
"Sudah dipikir?" Bang Codet menyodorkan sebungkus rokok tanpa menawarkan langsung—hanya meletakkannya di tengah meja, cara orang yang terbiasa tak perlu meminta apa pun diambil orang lain.
Surudi tak menyentuh rokok itu. Ia menarik kursi, duduk, dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, telapak menghadap ke bawah, seperti orang yang sedang menandatangani sesuatu yang tak akan ia tanda tangani.
"Sudah," katanya. "Saya nggak ambil, Bang."
Hujan gerimis di luar seakan mengambil jeda sebentar untuk mendengar jawaban itu. Gimbal bergeser sedikit, tapi Bang Codet mengangkat tangan tanpa menoleh, isyarat agar anak buahnya diam di tempat.
"Kamu tahu apa yang kamu tolak?" Bang Codet bertanya, suaranya datar, tak ada nada mengancam yang kentara, justru itu yang membuatnya lebih menakutkan daripada bentakan. "Bukan cuma duit, Rudi. Kamu tolak jalan yang aman. Kamu tolak solar yang nggak pernah putus. Kamu tolak anak-buah saya yang berhenti ganggu truk kamu."
"Saya tahu." Surudi menatap mata orang di depannya, memaksa diri tak berkedip lebih dulu. "Tapi saya juga tahu, kalau saya terima, saya bukan sopir lagi. Saya jadi orang suruhan Abang. Dua puluh lima tahun saya pegang setir, Bang, bukan buat jadi kacung siapa-siapa."
Ia memikirkan Ujang sekilas—wajah mudanya yang keras kepala, cara ia tertawa waktu mengajak sopir-sopir lain berkumpul di rumah makan pinggir lintas, dan bagaimana wajah itu terakhir kali terbaring di pemakaman tepi jalan dengan tanah masih basah. Kalau ia menerima uang Codet sekarang, seluruh kematian itu jadi tak berarti apa-apa, hanya jadi cerita lama yang kalah oleh angka di amplop.
Bang Codet mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu jauh sebelum Surudi mengucapkannya. Ia mengambil rokok yang tadi disodorkan, menyalakannya sendiri, menghisap dalam-dalam, lalu membuang asap ke arah gerimis di luar kios.
"Sayang," katanya, "orang tua sepertimu masih keras kepala kayak anak muda. Padahal kamu yang paling ngerti, jalan ini bukan jalan buat orang sendirian."
"Saya nggak sendirian." Surudi berdiri, kursi berderit di lantai semen. "Saya masih punya truk. Masih punya tangan buat nyetir."
"Tapi kamu nggak punya solar." Bang Codet mengucapkannya bukan sebagai ancaman yang dilempar keras, melainkan seperti orang membaca hasil hitungan yang sudah lama ia siapkan. "Dari Padang sampai Bandar Lampung, tiap SPBU yang saya kenal, tiap pengecer yang saya kasih makan, tiap orang yang megang selang buat isi tangki truk—semua bakal tahu nama kamu besok pagi. Nggak ada yang bakal jual solar buat Hino tua kamu, Rudi. Nggak setetes."
Surudi diam. Ia sudah menduga ancaman itu akan datang, sudah menghitungnya berminggu-minggu sejak pertama kali ia sadar siapa yang menguasai selang di sepanjang rute ini. Tapi mendengar ancaman itu keluar telak dari mulut orangnya sendiri tetap membuat dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat.
"Kalau begitu," ujarnya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan, "saya cari sendiri."
Bang Codet tertawa kecil, bukan tawa mengejek, lebih mirip tawa orang yang menghormati lawan yang keras kepala tapi tahu lawan itu sedang menuju jurang. "Silakan," katanya. "Jalan ini panjang, Rudi. Dan panjang itu berat kalau ditempuh haus."
Gimbal melangkah maju sedikit, seolah menunggu perintah untuk sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata, tapi Bang Codet mengangkat tangannya lagi, kali ini lebih tegas. "Biar dia jalan," katanya. "Biar dia rasa sendiri gimana rasanya jalan tanpa jaring."
Surudi berjalan keluar dari kios itu tanpa menoleh lagi, gerimis membasahi rambutnya yang mulai memutih di pelipis. Ia menaiki kabin Hino-nya, dan Topan yang sedang berpura-pura sibuk di bawah kap langsung menutup penutup mesin, menatapnya dengan wajah bertanya yang tak berani ia ucapkan.
"Kita jalan," kata Surudi, menyalakan mesin. Suara diesel yang berat bergetar di bawah kaki mereka, seperti detak jantung tua yang masih bertahan.
Belum lima kilometer mereka menempuh jalan, Surudi menepikan truk di sebuah pengecer solar langganan lama, tempat ia biasa mengisi jerigen cadangan tiap kali lewat. Pemiliknya, seorang lelaki gempal yang biasa menyapanya dengan lelucon soal cucu, kini berdiri di depan pintu kios dengan wajah menunduk, tak berani menatap matanya.
"Maaf, Pak Surudi," katanya, suaranya nyaris berbisik. "Kosong. Beneran kosong."
Surudi menatap deretan drum di belakang lelaki itu, penuh, tersusun rapi, bau solar yang menguar jelas di udara sore itu. Ia tak membantah. Ia hanya mengangguk, menutup jendela kabin perlahan, dan menatap jarum bensin yang masih menunjuk angka tidak terlalu jauh dari tengah—cukup untuk hari ini, tapi entah sampai berapa jauh untuk hari-hari sesudahnya.
Di sebelahnya, Topan memandang jalan yang membentang kosong dan basah oleh gerimis, dan untuk pertama kalinya sejak naik ke kabin itu, ia tak bertanya apa-apa.