Malam itu Surudi tidak langsung menyalakan mesin. Ia duduk di kursi kemudi dengan kunci kontak tergantung diam di tangannya, mendengar suara sendiri yang masih berputar di kepala, mengulang kata-kata Bang Codet di warung kopi tadi seperti kaset rusak. Angka yang disebutkan pria bercodet itu bukan angka kecil. Bukan pula angka yang bisa ia tolak begitu saja hanya dengan mengatupkan rahang dan berjalan pergi, seperti yang biasa ia lakukan pada tawaran-tawaran kecil orang Codet selama ini.
Tiga kali ongkos dobel. Tiap bulan. Selama ia mau jadi "sopir andalan"—begitu istilah yang dipakai Codet, diucapkan pelan-pelan seperti menawarkan kopi tambah gula, bukan seperti mengancam. Tak perlu lagi kucing-kucingan di pos. Tak perlu lagi menghitung jerigen sembunyi-sembunyi di balik terpal. Tinggal jalan, setor rasa hormat, dan uang akan mengalir sendiri seperti solar dari selang yang tak lagi dikunci untuknya.
Ia menyalakan rokok, bukan mesin. Asapnya mengambang di kabin yang sempit, bercampur bau solar yang menempel di baju kerjanya sejak subuh. Di luar, kabut tipis mulai turun di atas aspal, menggantung rendah macam sesuatu yang menunggu.
Ia membayangkan Bandar Lampung. Membayangkan anak bungsunya berjalan pulang dari SMA dengan seragam putih abu-abu yang masih licin karena baru, sepatu belum kotor, tas berisi buku yang bukan pinjaman kakak kelas. Anak itu tak akan pernah tahu apa yang dibayar ayahnya untuk seragam itu. Tak perlu tahu. Surudi membayangkan Tuminah tak lagi terbangun tengah malam karena suara motor penagih berhenti di depan pagar, tak lagi menghitung recehan di kaleng biskuit sambil berbisik-bisik supaya anak-anak tidak dengar. Ia membayangkan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tidur di rest area tanpa harus menghitung jam sebelum pos Codet buka lagi.
Semua itu bisa didapat dengan satu kata. Iya.
Tangannya sudah menggenggam kunci kontak lebih erat, seolah tubuhnya sendiri sudah memutuskan lebih dulu daripada kepalanya. Ia bahkan sudah membayangkan arah balik—kembali ke warung kopi, duduk lagi di depan Bang Codet, mengulurkan tangan, mengucap kata yang selama ini ia tolak ucapkan di depan Gimbal, di depan siapa pun yang menagih atas nama kartel itu.
Tapi tangannya berhenti di udara, seolah ada sesuatu yang menahan dari dalam, bukan dari luar.
Ujang.
Wajah itu muncul begitu saja, tak diundang, seperti biasa muncul belakangan ini—terutama di malam-malam ketika Surudi lelah dan pertahanannya paling tipis. Ujang muda, dengan mata yang selalu berapi-api tiap kali bicara soal sopir-sopir yang menyerah pada Codet. Ujang yang pernah berdiri di depan warung makan, mengangkat suara di antara sopir-sopir tua yang menunduk, bilang: "Kalau kita semua nunduk, jalan ini bukan punya kita lagi, Pak. Punya dia."
Surudi ingat waktu itu ia hanya diam, tak ikut bersuara, tak juga menyanggah. Ia pikir keberanian Ujang cuma keberanian orang muda yang belum tahu berapa harga sebuah keluarga. Sekarang Ujang sudah tak ada. Mati di turunan, dibungkus kata "kecelakaan" oleh orang-orang yang tahu persis itu bukan kecelakaan. Dan Surudi berdiri di pemakamannya, di antara sopir-sopir yang tercerai-berai, merasa untuk pertama kalinya bahwa diamnya selama ini punya harga juga—harga yang dibayar orang lain.
Kalau sekarang ia mengangguk pada Codet, apa bedanya ia dengan sopir-sopir yang dulu ia diamkan saja waktu mereka menunduk? Apa artinya kematian Ujang, kalau orang yang masih hidup malah berjalan mundur ke arah yang sama yang direbut paksa dari anak itu?
Ia membuang rokoknya ke luar jendela, menyalakan sebatang lagi meski yang lama belum habis benar terbakar di aspal.
Dari bak belakang kabin, terdengar Topan menggeliat dalam tidurnya, menggumam sesuatu yang tak jelas, lalu diam lagi. Surudi menoleh sebentar. Anak itu tidur meringkuk dengan jaket kumal jadi bantal, wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kecapekan hari itu—hari ketika mereka berdua diam-diam menghindari dua pos sekaligus demi menghemat waktu dan uang setoran yang tak pernah mereka bayar.
Kalau ia terima tawaran Codet, Topan akan aman. Tak perlu lagi was-was tiap kali truk melintasi pos. Tak perlu lagi belajar membaca jalan dengan taruhan nyawa sebagai gurunya. Surudi bisa memberi anak itu sesuatu yang lebih dekat dengan hidup normal.
Tapi kalau ia terima, apa yang akan diajarkannya pada Topan sebenarnya? Bahwa jalan ini pada akhirnya memang milik orang yang paling kuat menekan, dan yang bisa dilakukan orang seperti mereka cuma menunduk lebih dulu supaya tak dihajar belakangan?
Surudi menatap kunci kontak di tangannya lama sekali, sampai rokok di jarinya nyaris membakar kulit.
Ia tidak menyalakan mesin ke arah warung kopi. Juga tidak menyalakannya ke arah pulang.
Ia duduk saja di sana, di tengah kabut yang makin turun, dengan bayangan anak bungsunya di satu sisi kepala dan bayangan Ujang tergeletak di aspal turunan di sisi yang lain, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Surudi tidak tahu mana dari dua bayangan itu yang akan menang kalau ia terus duduk di sini semalaman.
Yang ia tahu pasti, tangannya belum juga memutar kunci itu ke kanan.