Warung kopi itu cuma gubuk papan di pinggir jalan lintas, atapnya seng berkarat, satu-satunya penerang selain lampu jalan yang mati sejak entah kapan. Surudi menepikan Hino-nya di tanah becek sampingnya, mematikan mesin, dan untuk sesaat cuma duduk diam mendengar logam kepanasan itu berderak pelan sambil mendingin. Tiga hari terakhir ia dan Topan bergantian tidur di kursi, mengejar rentetan trip yang disusun Herman sendiri—Jambi, balik, Menggala, balik lagi. Matanya perih setiap berkedip, seperti ada pasir di baliknya.
Topan sudah mendengkur begitu kepalanya menyentuh sandaran jok. Surudi turun sendiri, melangkah pelan-pelan seperti orang tua—karena memang begitu rasanya sekarang, tulang di pinggulnya berbunyi tiap ia menapak.
Warung itu sepi, hanya ada Mak Inur si empunya dan dua sopir yang duduk di sudut sambil merokok. Surudi memesan kopi hitam, duduk menghadap jalan, membiarkan uap kopi mengusap wajahnya yang berminyak debu.
Ia baru menghirup separuh cangkir ketika sebuah Fortuner hitam berhenti tepat di depan warung, tanpa suara klakson, tanpa tergesa. Dua lelaki berbadan tegap turun lebih dulu, memeriksa sekeliling seperti mengendus udara. Salah satu dari mereka menatap ke arah dua sopir di sudut, dan tanpa kata-kata keduanya berdiri, membayar, pergi. Mak Inur ikut menyingkir ke dapur, menarik tirai kain lusuh di belakangnya.
Surudi tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang jauh sebelum orang itu duduk di seberangnya.
Bang Codet lebih kecil dari bayangannya. Itu yang pertama kali terlintas di kepala Surudi—bukan raksasa berwajah preman seperti yang diceritakan sopir-sopir di pos-pos istirahat, melainkan lelaki berusia sekitar limapuluhan, berkemeja safari yang sudah agak longgar di bahu, rambut memutih di pelipis. Yang membuatnya dikenali cuma satu: codet itu sendiri, bekas luka memanjang dari pelipis kanan turun ke rahang, garis pucat di antara kulit yang menghitam kena matahari bertahun-tahun.
"Kopi hitam juga, Mak," katanya ke arah dapur, suaranya datar, hampir ramah. Lalu ia menatap Surudi. "Aku dengar kau nggak pernah tidur lebih dari tiga jam belakangan ini."
Surudi tidak menjawab. Tangannya tetap di gagang cangkir, tapi jantungnya sudah berpacu seperti mesin yang dipaksa nanjak tanpa gigi rendah.
"Aku Codet," katanya lagi, seolah Surudi belum tahu. "Kau boleh anggap ini cuma ngobrol sopir tua sama sopir tua."
"Saya bukan anak buah Bapak," kata Surudi akhirnya, suaranya lebih parau dari yang ia kira.
Codet tersenyum tipis. Kopinya datang, diletakkan Mak Inur dengan tangan gemetar sebelum buru-buru menghilang lagi ke dapur.
"Justru itu," kata Codet, "yang bikin aku duduk di sini. Kalau kau anak buah, aku cukup suruh Gimbal." Ia menyesap kopinya, tak terburu. "Aku sudah lama dengar namamu, Surudi. Lolos di jembatan timbang tanpa setor sepeser. Jalan tikus yang orangku sendiri nggak hafal. Bahkan Ujang, waktu masih idealis-idealisnya, nyebut kau kayak…" ia berhenti sejenak, memilih kata, "…kayak guru yang nggak pernah dia punya."
Nama Ujang membuat dada Surudi mengejang. Ia menatap Codet lekat, mencari nada mengejek di sana, tapi tak menemukannya—justru itu yang lebih mengerikan.
"Aku bukan datang buat nagih," Codet melanjutkan. "Aku datang nawarin sesuatu. Kau capek jadi sopir yang dikejar-kejar. Aku tawarin kau jadi sopir yang dihormati. Trip pasti, solar pasti, nggak ada lagi orangku nyegat di jalan nanyain setoran. Bayaran dua kali dari yang PO Bahari kasih—tunai, di muka, tiap trip." Ia menyandarkan punggung, menatap Surudi seperti menatap mesin yang sedang ia hitung tenaganya. "Cukup buat nutup lima angsuran itu sekali bayar, kalau nggak salah hitung."
Dunia di sekitar Surudi seperti menyempit jadi cangkir kopi di depannya. Lima angsuran. Angka yang selama ini ia hafal di luar kepala, yang membuatnya terjaga di pukul tiga pagi menghitung ulang berkali-kali walau hasilnya selalu sama—angka itu baru saja diucapkan orang asing seolah itu recehan.
"Bagaimana Bapak tahu soal itu?" suaranya nyaris berbisik.
"Aku tahu semua sopir yang lewat jalanku, Surudi. Termasuk yang di rumah mereka." Codet tidak menyeringai, tidak juga mengancam terang-terangan, dan justru ketiadaan nada itu yang membuat bulu tengkuk Surudi berdiri. "Anak bungsumu masuk SMA tahun ini, kan? Aku dengar dia pintar."
Surudi menggenggam cangkirnya sampai buku jarinya memutih. Ia membayangkan—sekilas saja, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak—Tuminah tak perlu lagi menjual kalungnya satu per satu. Anak bungsunya berangkat sekolah pakai sepatu baru, bukan sepatu kakaknya yang sudah menganga solnya. Hino tetap jadi miliknya, bukan barang sitaan leasing yang diderek tengah malam.
Tapi di balik bayangan itu, ada bayangan lain yang menyusup tanpa diminta: Sarki yang wajahnya bengkak biru waktu ia menuntunnya ke klinik. Truk yang dibakar di bahu jalan, asapnya membubung sampai terlihat dari kilometer jauhnya. Dan Ujang—wajah Ujang yang tenang di dalam peti, seolah cuma tidur, padahal semua orang tahu jalan inilah yang membunuhnya.
"Bapak minta saya jadi apa, kalau saya terima?" tanya Surudi pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Codet.
"Nggak jadi apa-apa yang beda dari sekarang," jawab Codet. "Kau tetap jadi sopir. Cuma kau berhenti jalan sendirian. Itu saja bedanya."
Ada jeda panjang. Di luar, angin membawa bau solar dari drum-drum yang ditumpuk di belakang warung, campur bau tanah basah bekas hujan semalam. Surudi menatap tangannya sendiri—tangan yang sudah dua puluh lima tahun memegang setir, sekarang gemetar bukan cuma karena lelah.
"Saya belum bisa jawab sekarang," katanya akhirnya.
Codet mengangguk, seolah sudah menduga jawaban itu. Ia berdiri, menaruh uang untuk dua cangkir kopi di meja tanpa dihitung.
"Nggak usah buru-buru," katanya, melangkah ke pintu. Lalu berhenti sebentar, setengah menoleh. "Tapi solarmu nggak bisa nunggu selamanya, Surudi. Pikirkan baik-baik, sebelum tangki itu kering di tempat yang salah."
Fortuner hitam itu pergi tanpa suara, seperti datangnya. Surudi masih duduk lama sesudahnya, kopi di depannya sudah dingin, dan untuk pertama kali dalam bertahun-tahun ia tidak yakin lagi jalan mana yang harus ia pilih.