Hari ketiga dari rentetan itu, Surudi sudah tidak lagi menghitung jam. Ia menghitung tikungan.
Sejak kesepakatan di kantor berdebu PO Bahari, jadwalnya berubah jadi deret angka yang berbaris rapat: Padang-Jambi, bongkar, isi ulang, Jambi-Menggala, tanpa jeda tidur yang layak disebut tidur. Herman menepuk pundaknya waktu itu, bilang "anggap saja tabungan, Pak Surudi," seolah kelelahan bisa disimpan di bank dan ditarik nanti dengan bunga. Surudi cuma mengangguk. Ia tak punya waktu untuk membantah kalimat orang yang menandatangani ongkosnya.
Matahari pukul dua siang di jalan lintas dekat Kayuagung memantul dari aspal sampai membuat matanya berair, dan berair itu ambigu—bisa silau, bisa juga sekadar tanda tubuh yang minta berhenti. Ia menyetir dengan kaca depan yang mulai buram oleh debu kering dan sisa embun semalam yang tak sempat dilap. Radio kabin diam. Topan duduk di sampingnya, memegang termos kecil yang isinya kopi tubruk buatan warung terakhir mereka singgahi, panas nyaris mendidih, sengaja begitu supaya kalau diteguk terasa sampai ke dada.
"Pak Surudi, minum ini dulu," kata Topan, menyodorkan tutup termos yang sudah diisi separuh.
"Nanti kalau sudah lewat jembatan."
"Sekarang saja. Jembatannya masih dua puluh menit."
Surudi menoleh sekilas—cuma sekilas, karena jalan tak pernah memberi ampun untuk mata yang lengah lebih dari sedetik—dan melihat wajah Topan yang sudah berubah sejak awal mereka satu kabin. Dulu anak itu banyak tanya, sekarang lebih banyak mengawasi. Ia menerima tutup termos itu, menyeruputnya sambil setir tetap di sebelas dan satu, dan rasa pahit kopi menampar lidahnya kembali ke dunia sadar barang beberapa kilometer lagi.
Trip keempat dimulai tengah malam dari Menggala. Muatan kali ini bukan barang besar, tapi banyak: dus-dus yang harus diantar cepat sebelum fajar supaya sampai ke gudang Pak Hasan tepat waktu buka. Kabut mulai turun di ruas yang biasanya lengang, dan lampu sorot Hino tua itu menembusnya seperti pisau tumpul—ada, tapi tak benar-benar memotong. Surudi menyipitkan mata. Bukan karena kabut. Karena kelopaknya sendiri sudah berat seperti digantungi timah.
Ia sadar dirinya menutup mata setengah detik ketika suara Topan menyalak dari sampingnya.
"Pak! Marka!"
Tangannya refleks membetulkan setir sebelum truk benar-benar menyerempet bahu jalan yang berbatu. Jantungnya berdegup keras, lebih keras dari mesin. Ia menepi sebentar, membiarkan mesin menyala, menarik napas panjang sambil menatap kaca spion yang memantulkan matanya sendiri—merah di pinggir, cekung di bawah, mata orang yang dua puluh lima tahun jalan tapi baru sekarang merasa jalan itu sudah lebih kuat darinya.
"Ganti aku dulu, Pak. Setengah jam saja," kata Topan, tak menunggu jawaban, sudah melepas sabuk pengaman.
"Kau belum genap sebulan pegang setir sendiri di ruas begini."
"Daripada Bapak pegang setir dalam keadaan setengah tidur."
Kalimat itu, keluar dari mulut kenek yang dulu canggung memegang rem angin, membuat Surudi diam lebih lama dari yang ia mau akui. Ia turun, berjalan memutar ke sisi penumpang dengan kaki yang terasa seperti bukan miliknya sendiri, dan naik ke kursi yang biasanya diduduki Topan. Dari situ ia bisa mengawasi tanpa harus menanggung beban kemudi—dan justru dari situ ia baru sadar seberapa jauh tubuhnya sudah menipu dirinya sendiri selama ini, seberapa sering ia menyangka baik-baik saja padahal cuma bertahan.
Topan menyetir hati-hati, terlalu hati-hati malah, tapi tangannya sudah tahu di mana harus menekan kopling lebih dalam saat jalan bergelombang, kapan harus menyalakan lampu jauh lalu meredupkannya lagi begitu truk dari arah berlawanan mendekat. Pelajaran-pelajaran yang diajarkan Surudi sejak awal mereka satu kabin, kini dipraktikkan justru di saat gurunya tak sanggup lagi jadi penjaga.
"Bapak tidur saja sebentar. Aku bangunkan kalau ada pos."
"Jangan sampai kau yang microsleep gantiin aku."
"Aku masih dua puluh dua tahun, Pak. Belum jatah kantuk seperti Bapak," kata Topan, setengah bercanda, tapi matanya tetap awas ke depan.
Surudi tertawa pendek, satu-satunya tawa yang keluar sepanjang tiga hari itu, lalu menyandarkan kepala ke jendela yang dingin oleh kabut. Ia tidak benar-benar tidur. Matanya terpejam, tapi telinganya tetap menangkap deru mesin, tetap menghitung tikungan dari suara ban menggilas aspal—satu kebiasaan lama yang tak bisa dimatikan meski raganya menyerah duluan.
Begitulah hari-hari itu berjalan: siang menyetir, malam menyetir lagi, tidur dicicil dalam potongan-potongan pendek di kursi penumpang atau di atas dipan sempit rumah singgah, makan seadanya di warung yang bukanya jam berapa saja truk mereka lewat. Bongkar-muat jadi ritme yang tak lagi terasa seperti pekerjaan, melainkan seperti utang yang dicicil dengan tubuh sendiri. Tiap kilometer yang mereka tempuh adalah selisih antara lima angsuran leasing dan Hino yang masih jadi milik mereka, antara uang pendaftaran SMA anak bungsu dan surat penyitaan yang bisa datang kapan saja.
Di trip keenam, saat fajar mulai merambat di ufuk arah Bandar Lampung namun mereka justru berbelok menjauhinya menuju rute berikutnya, Surudi menatap Topan yang masih terjaga di sampingnya, mata cekung tapi tangan mantap di setir.
"Kau yang jaga aku sekarang," katanya pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke Topan. "Dulu aku yang jaga kau."
Topan tak menjawab macam-macam. Ia cuma menambah kecepatan sedikit, menjaga jarak aman dari truk di depan, dan membiarkan Surudi memejamkan mata barang sepuluh menit—waktu yang cukup untuk seorang sopir tua mengumpulkan sisa tenaga sebelum tanjakan berikutnya menuntut segalanya lagi.