Kantor PO Bahari di pinggir Jambi itu tak pernah benar-benar bersih. Debu dari jalan raya masuk lewat kisi-kisi jendela yang catnya mengelupas, menempel di tumpukan berkas yang menggunung di meja Herman, di kipas angin berdiri yang berputar lamban seperti kehabisan napas. Surudi berdiri di depan meja itu dengan sepatu bot masih berlumur tanah merah Sitinjau, membiarkan Herman tahu ia baru turun dari kabin dan tak berniat basa-basi.
"Ongkos dobel itu sudah tak cukup, Pak Herman," katanya, suaranya datar tapi tak bisa disembunyikan getarnya. "Leasing kasih saya waktu tinggal hitungan minggu. Lima angsuran. Kalau saya cuma jalan seperti biasa, saya kalah lomba sebelum sampai finis."
Herman tidak langsung menjawab. Ia membetulkan letak map di depannya, seolah dokumen itu tiba-tiba butuh dirapikan. "Bapak sudah dapat lebih dari sopir lain, Pak Su. Saya juga ditekan dari atas soal biaya operasional—"
"Saya tidak tanya soal sopir lain." Surudi menarik kursi kosong di depan meja tanpa diminta, duduk, meletakkan kedua tangannya di atas paha seperti orang yang siap menunggu lama. "Saya tanya, muatan apa sebenarnya yang saya bawa selama ini. Pak Hasan sudah buka sedikit mulutnya di gudang. Solar subsidi yang dioplos masuk truk saya, dan itu barang yang justru dikuasai Codet di jalur ini. Kalau saya jadi kurir barang yang bikin saya musuh Codet, saya berhak tahu, bukan?"
Kening Herman berkeringat, bukan cuma karena kipas yang malas. Ia melirik ke pintu belakang, seakan berharap seseorang menyelamatkannya dari pertanyaan itu. "Itu bukan wewenang saya membahas rincian pengadaan, Pak Su. Saya cuma koordinator lapangan—"
"Koordinator yang tahu persis kenapa PO ini berani kasih ongkos dobel padahal rute ini bisa bikin sopir mati atau truk terbakar." Surudi tak menaikkan suara, tapi matanya tak berkedip. "Saya sudah lihat Ujang dikubur. Saya sudah antar Sarki ke klinik babak belur. Saya tidak mau jadi yang berikutnya cuma karena tidak tahu apa yang saya bawa."
Herman membuka mulut, menutupnya lagi. Ada sesuatu di wajahnya yang lebih mirip orang terjepit ketimbang orang yang menyembunyikan rahasia besar—seolah ia sendiri cuma pelaksana yang diperintah dari dua arah sekaligus, dan tak satu pun dari dua arah itu memberinya ruang jujur. Surudi mencatat itu dalam hati, meski belum tahu harus diapakan kecurigaan yang mulai mengeras jadi firasat.
Pintu di ujung ruangan berderit sebelum Herman sempat menjawab. Seorang lelaki tua berperawakan tegap, berkemeja safari lusuh dengan kacamata bertengger di ujung hidung, melangkah keluar dari ruang dalam yang berisik AC rusak. Herman langsung berdiri, punggungnya kaku seperti anak sekolah kena tegur. Surudi belum pernah bertemu orang ini secara langsung, tapi ia tahu siapa dia—satu-satunya orang di kantor ini yang tak pernah ikut turun ke lapangan, tapi tanda tangannya ada di tiap surat jalan yang Surudi genggam selama ini.
"Ribut-ribut apa ini." Suaranya tak keras, tapi cukup untuk membuat Herman diam total.
"Sopir Hino, Pak. Rute Menggala—Kayuagung." Herman buru-buru menjelaskan, seperti takut Surudi bicara duluan.
Pemilik PO Bahari itu menatap Surudi sebentar, dari sepatu bot berlumpur sampai wajah yang keriput dimakan matahari lintas Sumatra. "Kamu yang bawa jalan lolos tanpa setor ke orang Codet itu?"
"Saya cuma bawa muatan sampai tujuan, Pak," jawab Surudi, tak mau kabar itu jadi senjata siapa pun.
Lelaki itu mendengus, entah geli atau kesal. "Saya butuh orang seperti kamu. Kontrak dengan pembeli di ujung Kayuagung sudah telat dua minggu. Kalau telat lagi, kami yang kena penalti, bukan cuma kamu." Ia melirik Herman sekilas, lirikan yang membuat Herman menunduk lebih dalam. "Herman, kasih dia ongkos yang pantas. Dan kalau dia mau tahu isi muatan, kasih tahu secukupnya—jangan bikin sopir jalan buta terus kita yang rugi kalau dia mogok di tengah jalan."
Herman mengangguk cepat, tapi tak sepenuhnya lega—wajahnya seperti orang yang baru dipindah dari satu jepitan ke jepitan lain. Pemilik PO itu sudah berbalik sebelum Surudi sempat menyusun pertanyaan lain, kembali masuk ke ruang dalam, meninggalkan aroma rokok kretek yang menggantung sesaat di udara berdebu.
Herman menghela napas panjang, lalu membuka map di depannya, seolah baru sadar itu senjata satu-satunya yang tersisa untuk menegakkan kembali wibawanya. "Baik, Pak Su. Begini saja." Ia menyodorkan selembar kertas berisi jadwal yang padat, tanggal-tanggal yang berjejer rapat tanpa jeda. "Ada permintaan besar dari pembeli itu. Kalau Bapak sanggup jalan rentetan—delapan trip, dua minggu, tanpa putus—saya bisa naikkan ongkos jauh di atas dobel. Cukup, saya rasa, buat nutup lima angsuran leasing Bapak."
Surudi menatap kertas itu lama. Delapan trip dalam dua minggu berarti tidur di kabin lebih sering daripada di rumah, berarti tubuhnya yang sudah mulai berkhianat dipaksa berlari melawan waktu tanpa ampun. Tapi angka di ujung kertas itu, kalau benar dibayarkan, cukup untuk menutup surat peringatan yang bikin Tuminah menjual perhiasannya diam-diam.
"Soal muatan," katanya, tak mau kertas itu jadi alasan Herman lolos dari pertanyaan tadi.
"Solar dan sembako campuran, sebagian dari jalur resmi, sebagian—" Herman berhenti sejenak, memilih kata seperti orang menapak batu licin— "sebagian titipan yang lebih sensitif. Saya tidak bisa buka semua, Pak Su. Tapi saya jamin, Bapak tidak sedang bawa barang haram yang bisa menjebloskan Bapak ke penjara. Yang bisa menjebloskan Bapak cuma Codet, dan itu risiko yang sudah Bapak tahu sejak pertama tanda tangan."
Bukan jawaban penuh, tapi lebih jujur dari yang pernah Surudi dapat sepanjang bekerja untuk PO ini. Ia menimbang sejenak, membayangkan delapan trip berturut-turut menembus wilayah yang sudah menutup semua keran solar untuknya, membayangkan wajah anak bungsunya yang baru diterima SMA, membayangkan Tuminah yang menahan napas tiap kali telepon berdering.
"Saya ambil," katanya akhirnya, mengambil pena dari meja Herman sebelum sempat berubah pikiran. "Tapi kalau ada yang disembunyikan lagi dan saya celaka karena itu, saya tidak akan diam seperti dulu."
Herman mengangguk, tak berani menatap mata Surudi terlalu lama saat kertas itu ditandatangani. Di luar, matahari sudah condong ke barat, dan jalan menuju Kayuagung menunggu seperti taruhan yang baru saja Surudi lipat gandakan sendiri.