Rumah kontrakan di gang sempit itu selalu paling sepi menjelang siang, ketika suami-suami sudah berangkat kerja dan anak-anak sudah di sekolah. Tuminah duduk di ranjang dengan kotak kayu kecil di pangkuannya, kotak yang selama ini ia simpan di balik lemari, di bawah tumpukan kain jarik yang tak pernah dipakai lagi. Ia membuka kotak itu pelan-pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang tidur.
Di dalamnya ada kalung kawin, tipis, model lama, dengan liontin kecil berbentuk hati yang setengah pudar. Ada sepasang anting peninggalan ibunya, dan gelang yang dulu dibelikan Surudi dari hasil trip pertamanya sebagai sopir tronton, belasan tahun lalu, waktu ia masih bangga menunjukkan slip gaji ke tetangga. Tuminah memandangi semua itu lama, lalu menutup kotak itu lagi, membukanya lagi. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya butuh waktu untuk membiasakan hatinya.
Anak bungsu masih di sekolah. Itu bagus. Ia tidak mau anaknya melihat ibunya membongkar kotak itu, tidak mau anak itu bertanya kenapa kalung mama tiba-tiba tidak ada lagi di leher, kenapa foto pernikahan yang dipajang di ruang tamu tiba-tiba terasa seperti barang dari kehidupan orang lain.
Ia membungkus perhiasan itu dengan kain kecil, memasukkannya ke tas belanja yang biasa dipakai ke pasar, seolah isinya cuma bawang dan cabai. Lalu ia berjalan ke toko emas di ujung jalan, toko yang papan namanya sudah berkarat di sudut-sudutnya, tempat separuh ibu-ibu di kampung itu pernah singgah diam-diam dengan alasan yang sama dengannya.
Pemilik toko menimbang kalung itu dengan wajah datar, mengetuk-ngetukkannya di batu uji, menyebut angka yang membuat dada Tuminah sesak. Ia tahu angka itu jauh dari harga yang dulu dibayar Surudi. Tapi ia tidak menawar keras. Ia hanya berkata, "Pak, ini kawin saya. Tolong dihargai yang pantas," dengan suara yang ia jaga agar tidak bergetar. Entah kenapa, suara itu justru membuat si pemilik toko menaikkan sedikit angkanya, seperti orang yang tahu ia sedang berhadapan dengan seseorang yang datang bukan karena ingin, tapi karena terpaksa.
Uang itu belum cukup. Ia tahu itu sejak awal. Tapi ia menyimpannya rapat-rapat di balik BH, seperti dulu ia menyimpan uang jajan anak-anaknya dari incaran copet di pasar, lalu pulang untuk menghadapi urusan yang lebih berat: penagih leasing yang sudah dua kali datang minggu ini, yang terakhir kali berdiri di depan pintu dengan map plastik berisi lembar-lembar tunggakan, bicara dengan nada yang sudah dihafal luar kepala, seolah membaca dari skrip yang sama untuk setiap rumah yang ia datangi.
Kali ini Tuminah tidak menunggu penagih itu datang. Ia yang mendatangi kantor cabang leasing, kantor kecil di ruko dengan AC yang bersuara berat, map di tangan, uang hasil jual perhiasan terselip di dalamnya bersama sisa tabungan yang selama ini ia sisihkan dari uang belanja, dua ratus, tiga ratus, kadang cuma lima puluh ribu yang ia curi dari jatah dapur.
"Saya tahu ini belum cukup untuk lima bulan," katanya kepada petugas di balik meja, seorang lelaki muda yang tampaknya lebih terbiasa menghadapi orang marah daripada orang yang datang dengan tenang seperti dirinya. "Tapi saya bawa ini dulu. Suami saya lagi jalan, ngejar setoran. Saya minta waktu. Dua minggu. Saya janji, bulan depan lunas semua atau ada kejelasan."
Petugas itu memeriksa berkas, menelepon seseorang di ruang dalam, kembali dengan wajah yang tidak menjanjikan apa-apa tapi juga tidak menolak. Ia mencatat pembayaran sebagian itu, mencetak kuitansi, dan berkata bahwa penarikan unit ditunda—bukan dibatalkan, hanya ditunda—sampai akhir bulan depan. Tuminah mengangguk, menyimpan kuitansi itu seperti menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga dari kertas biasa, lalu keluar dari ruko itu dengan langkah yang ia paksa tetap tegak, meski begitu ia sampai di gang rumahnya kakinya nyaris tak kuat menahan tubuhnya sendiri.
Malam itu, setelah anak bungsu tidur dan lampu-lampu tetangga satu per satu padam, ia menelepon Surudi. Dari seberang terdengar suara mesin yang belum dimatikan, suara Topan sayup memanggil sesuatu, bau solar yang seolah ikut menyeberang lewat sinyal telepon.
"Sudah aku urus, Pak," katanya, tanpa basa-basi, karena ia tahu Surudi tak punya banyak waktu dan pulsa untuk berbasa-basi. "Leasing. Aku bayar sebagian. Ditunda sampai bulan depan."
Di ujung sana Surudi diam sebentar. "Dari mana uangnya?"
"Dari tabungan," jawab Tuminah, cepat, terlalu cepat, dan ia tahu Surudi bisa mendengar itu, tapi lelaki itu tidak mendesak lebih jauh, mungkin karena sudah menduga, atau mungkin karena keduanya sama-sama tahu bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak digali malam itu, di jalan, jauh dari rumah, ketika Surudi tak bisa berbuat apa-apa selain merasa bersalah.
"Kamu nggak usah mikir sekarang," Tuminah melanjutkan. "Kamu jalan aja yang hati-hati. Bulan depan kita cari jalan lagi. Yang penting sekarang Hino masih di garasi, bukan di tangan orang leasing."
"Tuminah—"
"Aku nggak papa, Pak," potongnya, suaranya rata, tak ada isak, tak ada nada memohon seperti dulu-dulu. "Dedek juga udah keterima sekolahnya. Tinggal kamu pulang bawa uang yang cukup. Itu aja."
Surudi mendengar embusan angin di kejauhan lewat corong telepon, entah dari sisi mana, entah dari sisinya sendiri atau dari sisi istrinya, dan untuk sesaat ia tak tahu harus bilang apa selain, "Iya. Aku pulang bawa cukup."
Tuminah menutup telepon lebih dulu, seperti biasa, karena ia tahu kalau ia menunggu terlalu lama mendengar suara suaminya, air matanya yang sejak tadi ia tahan akan tumpah juga akhirnya, dan ia tidak mau itu terjadi malam ini. Ia meletakkan telepon di atas meja, menatap kuitansi yang masih tergeletak di sisinya, lalu memandang ke arah lemari tempat kotak kayu kecil itu kini kosong, dan untuk pertama kali sejak suaminya berangkat membawa Hino ke rute yang ia sendiri tak pernah lihat wujudnya, ia merasa bukan lagi perempuan yang hanya menunggu di rumah sambil cemas. Ia sudah ikut turun ke jalan, dengan caranya sendiri.