Matahari baru sepenggalah ketika mereka sampai di jembatan timbang pertama, dan Surudi memperlambat truk jauh sebelum garis, karena ia tahu bahwa di tempat seperti ini, terburu-buru adalah cara untuk membayar lebih. Antrean truk mengular, knalpot menghitamkan udara pagi, dan para sopir berdiri di tepi jalan merokok dengan wajah orang yang sudah hafal akan menunggu lama.
"Kenapa antre, Pak?" tanya Topan, yang baru bangun penuh dan masih mengira dunia bergerak secepat keinginannya. "Kita kan tinggal lewat."
"Timbang," kata Surudi. "Mereka mau tahu beratmu. Kalau lebih dari yang boleh, kena denda. Muatan kita berat — alat berat plus sembako. Pasti lebih."
"Lah, kalau pasti lebih, ya bayar denda dong?"
Surudi tersenyum tipis, senyum yang menyimpan kepahitan. "Denda resmi itu mahal dan lama. Ada catatan, ada surat, bisa setengah hari. Atau," ia menggosok ibu jari dan telunjuk, isyarat tua yang dimengerti seluruh negeri, "ada jalan cepat. Lebih murah dari denda, lebih cepat dari surat. Masuk kantong orang, bukan kas negara."
Giliran mereka tiba. Truk naik ke pelat timbang, angka melonjak di layar, dan petugas berseragam melihatnya tanpa terkejut, karena truk yang tak kelebihan muatan adalah truk yang merugi, dan semua orang di sini tahu itu. Petugas itu mendekati jendela dengan map dan wajah datar. Tak ada kata yang diucapkan tentang uang. Surudi sudah menyiapkan beberapa lembar terlipat di bawah surat jalan, dan ia menyodorkan map dengan lembar itu terselip di dalam, dan map kembali tanpa lembar itu, dan portal terbuka. Seluruh transaksi memakan waktu kurang dari semenit dan tak meninggalkan jejak di kertas mana pun.
Topan menyaksikan dengan mulut sedikit terbuka. "Itu... gitu aja?"
"Itu gitu aja," kata Surudi, menjalankan truk. "Sekarang keluarkan buku kecil di laci. Tulis."
Surudi mendiktekan, dan inilah pelajaran kedua yang lebih pahit dari rem: ekonomi jalan yang sebenarnya. Ongkos dobel dari PO, kata Surudi, dengarkan baik-baik ke mana perginya. Solar penuh tadi, sekian. Timbang pertama, sekian. Akan ada timbang lagi, dua, tiga, mungkin empat sebelum Padang. Akan ada pos-pos lain yang bukan timbang, yang berdiri di tikungan dengan alasan yang berganti-ganti, dan masing-masing minta jatah. Akan ada makan, kopi, rokok untuk melek. Akan ada perbaikan yang belum kelihatan tapi pasti datang, karena truk tua selalu rusak di waktu yang paling tak diinginkan.
"Tulis semua," kata Surudi. "Tiap rupiah. Karena di akhir nanti, yang sampai di tanganku bukan ongkos dobel. Yang sampai adalah ongkos dobel dikurangi semua yang jalan minta. Dan kalau aku tak hati-hati, yang dobel itu bisa jadi tinggal sepertiga."
Topan menulis, dan untuk pertama kali ada sesuatu yang berubah di wajahnya — sedikit, hanya sedikit, sadar bahwa romantika jalan yang ia bayangkan ternyata punya buku kas yang kejam.
Menjelang siang mereka berhenti di warung makan sopir, rumah panggung kayu di tepi jalan dengan terpal biru dan deretan truk parkir. Aroma gulai dan asap rokok bercampur. Surudi memesan nasi dengan ikan dan sayur nangka, makan perlahan, dan mendengarkan — karena di warung sopir, telinga lebih berguna daripada mulut. Para sopir bicara tentang jalan: ruas mana yang rusak, jembatan mana yang diperbaiki, pos mana yang sedang galak. Dan di antara obrolan itu, sebuah nama lewat, diucapkan lebih pelan dari yang lain, seperti orang menyebut sesuatu yang tak ingin terdengar menyebutnya.
Codet.
Surudi tak menoleh, tapi telinganya menajam. Seorang sopir muda bertanya pada yang lebih tua tentang ruas depan, ruas gemuk menjelang barat, dan yang tua menjawab pelan, jalan depan sudah ada yang punya sekarang. Codet. Kalau mau lewat lancar, siapkan upeti. Kalau tidak, jangan heran kalau bannya kempes sendiri, kalau ada yang nyenggol di tikungan, kalau jalan tiba-tiba macet pas kamu lewat. Sopir muda itu menertawakannya, mengira itu cerita menakut-nakuti, dan yang tua hanya mengangkat bahu, isyarat orang yang sudah lelah memperingatkan.
Di perjalanan setelah makan, Topan bertanya. "Codet itu siapa sih, Pak? Preman?"
Surudi mengemudi sebentar sebelum menjawab. "Aku tak kenal orangnya. Tapi aku tahu jenisnya. Dia bukan preman dari luar. Preman jalan biasanya bekas sopir yang kalah." Ia memandang jalan yang membentang. "Sopir kecil seperti kita ini, lama-lama dimakan setoran, dimakan timbang, dimakan denda. Sebagian mati di tikungan. Sebagian berhenti, jadi kenek lagi, jadi kuli. Tapi ada sedikit yang tak mau mati dan tak mau jadi kuli. Mereka belajar bahwa kalau jalan ini memakanmu, satu-satunya cara selamat adalah jadi yang memakan. Mereka kuasai jalur, atur siapa boleh lewat, dan tarik dari yang lain apa yang dulu ditarik dari mereka." Ia diam sebentar. "Itu yang paling kejam dari jalan ini. Dia tak menjadikanmu jahat dengan paksa. Dia cuma kasih kamu dua pilihan: dimakan, atau makan."
Topan terdiam, mencerna, lalu kembali ke kegelisahannya yang lebih muda. "Berarti kita bayar upeti dong, Pak, biar aman."
Surudi tak menjawab langsung. Ia memandang ke jalan depan, ke arah barat di mana bukit-bukit mulai membayang biru di kejauhan. "Kita lihat," katanya. Lalu, seolah berbicara pada dirinya sendiri lebih dari pada Topan, ia menambahkan, "Kalau jalan depan ditutup, masih ada jalan-jalan tua. Jalan tikus yang ditinggalkan orang karena sempit dan jelek. Aku masih hafal beberapa dari zaman dulu, sebelum jalan baru dibangun. Tak ada yang lewat sana lagi sekarang. Terlalu berbahaya buat truk segini." Ia mengatakannya ringan, hampir tanpa bobot, seperti orang menyebut kampung halaman yang sudah lama ditinggal. Topan tak menangkapnya sebagai apa pun selain obrolan mengisi waktu. Tapi kalimat itu sudah keluar, tersimpan di udara kabin, menunggu hari ketika ia akan berarti segalanya. Untuk sekarang, langit di barat mulai menebal, dan Surudi memandangnya dengan mata sopir tua yang membaca cuaca lebih baik daripada ramalan, dan apa yang ia baca di awan yang menggantung di Bukit Barisan itu tak ia sukai sama sekali.