Angin dari arah terminal membawa bau solar dan ban terbakar ketika mobil bak terbuka berwarna abu-abu itu berhenti tepat di samping Hino Surudi. Dua orang turun—satu berseragam biru dengan map plastik di ketiak, satu lagi hanya berdiri di dekat pintu, tangan disilangkan, seperti sengaja dipasang untuk mengingatkan bahwa ini bukan kunjungan basa-basi.
Surudi baru saja menurunkan diri dari kabin, badan masih pegal oleh delapan jam duduk menembus tikungan demi tikungan sejak Kayuagung. Topan di belakangnya menyeka tangan dengan lap oli, berhenti begitu melihat dua orang itu mendekat.
"Pak Surudi Hartono?" Yang berseragam biru membuka map, meski jelas dia sudah tahu jawabannya sebelum bertanya. "Saya dari kantor pembiayaan. Ini soal unit—Hino nomor polisi yang Bapak pakai."
"Saya tahu siapa Bapak," jawab Surudi datar. Ia sudah hafal wajah semacam ini, cara bicaranya, cara map plastik itu dibuka pelan-pelan seolah isinya bukan sesuatu yang bisa menghancurkan seseorang.
Kertas itu diserahkan. Surudi tidak langsung membacanya. Ia melipatnya setengah, memasukkan ke saku dada, seakan dengan begitu isinya bisa ditunda. Tapi petugas itu tidak beranjak.
"Saran saya dibaca sekarang, Pak. Supaya jelas hitungannya."
Surudi menariknya kembali. Huruf-huruf yang dicetak rapi itu berbaris seperti barisan semut di depan matanya yang mulai lelah—lima angsuran tertunggak, dihitung sampai bulan berjalan, ditambah denda keterlambatan yang jumlahnya nyaris menyamai satu angsuran penuh. Di bagian bawah, dicetak tebal: apabila dalam empat belas hari kalender sejak surat ini tidak ada pelunasan sebagian maupun penuh, pihak leasing berhak melakukan penarikan unit sesuai perjanjian fidusia yang telah ditandatangani.
Empat belas hari. Ia menghitung dalam hati sambil matanya masih menempel di kertas—hari ini Selasa, berarti batas waktunya jatuh pada hari Selasa dua minggu ke depan, kira-kira bersamaan dengan jadwal ia harus antar muatan ketiga ke gudang Pak Hasan.
"Bisa dicicil, Pak," kata petugas itu, nadanya melunak sedikit, mungkin karena melihat rahang Surudi mengeras. "Tapi minimal dua angsuran harus masuk minggu ini. Kalau nol sama sekali, kami nggak bisa tahan kantor pusat."
"Berapa totalnya kalau saya mau tutup semua sekali jalan?"
Petugas itu mengeluarkan kalkulator kecil dari saku, menekan-nekan sebentar, lalu menyebut angka yang membuat dada Surudi terasa seperti ditimpa jerigen kosong—berat justru karena hampa, karena ia tahu di rekeningnya sekarang tak ada sepersepuluh dari jumlah itu.
Setelah mobil abu-abu itu pergi, Surudi berdiri lama di bawah bayangan Hino, kertas peringatan masih di tangan, tak lagi dilipat. Topan mendekat, ragu-ragu, sebelum akhirnya bertanya, "Berapa, Pak?"
Surudi tidak menjawab langsung. Ia berjalan ke sisi truk, duduk di atas ban serep yang tergeletak miring, mengeluarkan buku catatan kumal dari balik jok—buku yang selama ini ia pakai mencatat kilometer dan pengeluaran solar. Di halaman kosong ia mulai menulis angka-angka, tangannya sedikit gemetar bukan karena dingin.
Lima angsuran, ditambah denda, ditambah kebutuhan mendesak untuk uang pendaftaran sekolah anak bungsunya yang sudah dua kali ditunda. Di sisi lain kertas, ia menulis pemasukan: ongkos dobel dari PO Bahari per trip, dikurangi solar—solar yang sekarang harus dibeli lebih mahal karena jaringan pengecer mulai enggan melayaninya sejak namanya sampai ke telinga Bang Codet—dikurangi lagi ongkos tambal ban dan servis kecil yang belakangan makin sering.
Angkanya tidak pernah bertemu. Berapa kali pun ia menjumlah ulang, selalu ada selisih yang menganga, seolah jalan itu sendiri yang menahan sebagian uangnya sebagai upeti tak kasatmata.
"Kalau satu trip dobel aja nggak cukup," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Topan, "berarti harus dobel-dobelnya dobel."
Topan berjongkok di sampingnya, ikut menatap coretan angka yang mulai penuh coretan lagi di atasnya. "Maksud Bapak, jalan lagi? Berturut-turut?"
"Nggak ada pilihan lain, Topan. Bukan karena aku mau. Karena itungannya cuma bisa ketutup kalau aku jalan lagi, jalan lagi, jalan lagi—nggak berhenti sampai empat belas hari itu habis." Ia menutup buku, menyelipkannya kembali ke balik jok dengan gerakan yang lebih keras dari biasanya. "Setor ke Codet aja aku nggak mau. Apalagi nyerahin Hino ke leasing gitu aja. Itu bukan cuma unit buat aku. Itu jalan buat anakku sekolah."
Ia menatap tronton tuanya, catnya yang mengelupas di beberapa sudut, ban yang sudah dua kali ditambal di sisi yang sama. Dua puluh lima tahun ia hidup di atas roda-roda seperti ini, dan sekarang jam hidupnya diperas jadi empat belas hari, diukur oleh orang yang bahkan tak pernah merasakan tanjakan Sitinjau di tengah kabut.
"Aku bakal susun jadwal," katanya akhirnya, suaranya lebih tenang, meski bukan karena tenang yang sesungguhnya—lebih karena keputusan yang sudah dibulatkan tak lagi punya ruang untuk gentar. "Nggak ada libur. Nggak ada singgah lama-lama. Begitu bongkar, langsung balik ambil muatan lagi. Kau ikut apa nggak, aku hargai keputusanmu, tapi aku sendiri, mau nggak mau, harus jalan."
Topan berdiri, mengelap tangannya sekali lagi meski sudah kering sejak tadi, lebih sebagai gerak menahan sesuatu di dadanya. "Saya ikut, Pak. Dari awal juga saya naik kabin ini bukan buat turun di tengah jalan."
Surudi mengangguk pelan, menepuk pundak kenek mudanya, lalu menoleh ke arah kaca spion tempat bayangan terminal yang mulai sepi terpantul buram. Empat belas hari. Ia mulai menghitung mundur sejak detik itu juga, dan entah kenapa, dalam hitungannya, bayangan kabut Tikungan Seribu ikut melintas sekilas, seperti sesuatu yang menunggu di ujung angka-angka itu tanpa ia mengerti kenapa.