Debu tipis mengambang di atas pusara yang masih basah ketika Surudi berdiri paling depan, topi lusuhnya dilepas dan digenggam di dada. Tanah merah di lintas ini selalu longsor kalau hujan, tapi hari itu langit kering, seolah alam pun enggan ikut berduka. Di sekelilingnya berdiri barisan sopir yang datang setengah hati—beberapa memarkir truk agak jauh di bahu jalan, mesin tetap menyala, seakan sewaktu-waktu harus kabur.
Ujang dikuburkan di kuburan kecil tak berpagar di tepi lintas, tempat yang menurut orang-orang sudah lama jadi tanah pekuburan sopir yang mati di jalan—kecelakaan, kelelahan, atau sebab yang tak pernah ditulis di berita acara. Surudi tahu persis kenapa tak ada yang berani menulis kata sabotase di laporan polisi. Rem yang blong di turunan tajam, kata mereka. Takdir jalan, kata yang lain. Hanya Surudi yang tahu betapa hafalnya Ujang pada rem itu, betapa telitinya anak muda itu memeriksa kanvas dan minyak rem tiap kali sebelum berangkat.
Ibu Ujang menangis tanpa suara, dipapah oleh dua perempuan tetangga. Tak ada istri, tak ada anak—Ujang masih terlalu muda untuk itu, dan kini tak akan pernah sempat. Surudi menatap gundukan tanah itu dan merasa sesuatu di dadanya retak, bukan pecah, tapi retak seperti kaca yang kena panas mendadak: pelan, dalam, dan tak bisa dibalik lagi.
Di belakangnya, Topan berdiri kaku, matanya merah tapi tak menangis di depan orang banyak. Sejak kabar itu sampai—disampaikan lewat radio panggil dari sopir yang lewat, suaranya patah-patah, "Ujang… Ujang kejungkal di turunan Kelok Sembilan, Pak, langsung…"—Topan jadi lebih diam dari biasanya. Ia yang dulu banyak tanya, kini seperti menyimpan semua tanya itu untuk dirinya sendiri.
Selesai doa dipanjatkan, orang-orang mulai bubar satu-satu, cepat-cepat, seperti takut berlama-lama di tempat itu bisa menulari mereka dengan nasib yang sama. Surudi memperhatikan itu—bagaimana Sarki menunduk dan buru-buru menyalakan rokok, bagaimana dua sopir muda yang dulu ikut kongkow di rumah makan bersama Ujang kini menghindari tatapannya, bagaimana seorang lagi bahkan tak turun dari kabin truknya, hanya memandang dari kaca spion sebelum tancap gas duluan.
"Pak Surudi," seseorang menyapa, suaranya pelan, seperti berbisik meski tak ada yang perlu didengar selain angin. Itu Marjuki, sopir tua yang biasa mangkal di pos yang sama dengan Ujang. "Bapak masih mau lewat sini terus?"
Surudi tak langsung menjawab. Ia menatap Marjuki, lalu ke tanah merah yang belum sepenuhnya rata, lalu ke arah jalan besar yang terlihat dari sini, lurus lalu menghilang ke tikungan jauh. "Kenapa tanya begitu?"
"Ya… habis ini." Marjuki menggaruk tengkuk, matanya tak berani lama-lama menatap balik. "Orang-orang pada mikir mundur, Pak. Setor aja, cari aman. Ujang… ya, Ujang keras kepala. Kita mah orang kecil."
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti batu ke air tenang, dan Surudi merasakan riaknya menjalar sampai ke tulang. Orang kecil. Kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang dua puluh lima tahun di jalan ini—dari mandor, dari juragan barang, dari petugas timbangan, dan sekarang dari sesama sopir yang seharusnya berdiri sebaris dengannya, bukan di bawahnya.
Ia melihat ke sekeliling sekali lagi, benar-benar melihat: berapa banyak yang tersisa. Dulu, waktu Ujang pertama kali mengumpulkan mereka di rumah makan, ada sepuluh, dua belas orang, semua bicara lantang soal tak mau tunduk. Sekarang, di pemakaman kawan mereka sendiri, yang berani berdiri sampai akhir upacara tinggal segelintir—dan hampir semuanya sudah menghitung-hitung jalan mundur di kepala masing-masing.
Surudi menoleh ke Topan. Anak itu balas menatap, tak bicara, tapi ada sesuatu di matanya yang menunggu—bukan meminta jawaban, hanya menunggu apa yang akan dilakukan orang yang selama ini menjadi gurunya.
"Pak Surudi masih mau lanjut, kan?" Sarki akhirnya bersuara, dari sisa rokoknya yang tinggal seperempat. Bukan pertanyaan sopan seperti Marjuki—lebih seperti harapan yang dipaksakan jadi kalimat tanya, karena Sarki sendiri sudah lelah, sudah tua, sudah cukup sering melihat kawan-kawannya dikuburkan di tanah seperti ini.
Surudi memandangi mereka semua bergantian—Marjuki yang gentar, dua sopir muda yang menghindar, Sarki yang lelah tapi masih berharap, dan Topan yang diam menunggu. Ia sadar, tanpa pernah memintanya, ia sudah berdiri di posisi yang tak pernah ia cari: satu-satunya yang masih tegak ketika yang lain sudah mulai membungkuk.
Ia menatap gundukan tanah Ujang sekali lagi. Anak itu mati karena menolak tunduk pada Codet, karena percaya jalan ini bisa direbut kembali dari tangan yang merampasnya diam-diam, selang demi selang, pos demi pos. Kalau Surudi sekarang ikut mundur, ikut setor, ikut jadi bagian dari barisan yang menunduk—maka kematian Ujang cuma jadi angka lain di catatan kecelakaan lintas, tak berarti apa-apa.
"Saya nggak akan setor," katanya, pelan tapi jelas, tak ditujukan pada siapa pun secara khusus, dan justru karena itu terdengar sampai ke semua yang masih berdiri di sana. "Sampai kapan pun. Truk saya ditarik leasing, ya sudah. Saya jalan kaki juga nggak apa-apa. Tapi saya nggak akan kasih sepeser pun ke orang yang bikin Ujang masuk tanah begini."
Tak ada yang menyahut. Marjuki menunduk lebih dalam. Sarki membuang puntung rokoknya dan menginjaknya pelan-pelan, seperti mengunci sesuatu di dalam dirinya sendiri. Hanya Topan yang mengangguk sekali, kecil, tapi pasti.
Surudi mengenakan kembali topinya, dan untuk pertama kali sejak kabar itu datang, ia berjalan tegak menuju truknya—bukan karena yakin ia akan menang, tapi karena ia sudah tak punya jalan lain untuk berdiri selain lurus.