Kabar itu datang lewat radio panggil, dua kata yang membuat tangan Surudi berhenti di kenop persneling: "Ujang jatuh."
Ia baru saja mengisi solar di pengecer pinggir jalan luar Kayuagung, jerigen masih menggantung di tangan Topan, ketika suara serak dari radio genggam Sarki memecah pagi. Bukan berita, hanya potongan kalimat yang disambung-sambung sepanjang gelombang: turunan panjang, rem blong, Hino nyungsep ke jurang dangkal di tikungan sebelum jembatan. Surudi tak menjawab. Ia hanya menyalakan mesin dan menyetir ke arah suara itu, tangannya dingin di setir yang biasanya hangat oleh keringatnya sendiri.
Ketika sampai, orang-orang sudah berkerumun di bahu jalan, berdiri agak jauh dari bangkai truk seperti takut kalau mendekat nasib yang sama akan menular. Truk Ujang tersangkut di antara dua batang kelapa sawit, kabin penyok separuh, kaca depan pecah membentuk jaring laba-laba yang berlumur debu merah. Bau solar tumpah bercampur tanah basah. Tak ada api, tak ada ledakan — hanya besi yang diam, dan itu yang membuat Surudi lebih ngeri daripada kalau truk itu terbakar.
Ia turun pelan-pelan, sendi lututnya berbunyi seperti biasa, tapi kali ini ia tak menghiraukan. Seorang polisi lalu lintas berdiri di dekat mobil patroli, menulis sesuatu di papan klip tanpa menoleh ke truk. Surudi mendekat.
"Rem blong, Pak," kata polisi itu, datar, seperti sudah menghafal kalimat itu sebelum ditanya. "Turunan curam, muatan berat. Kecelakaan tunggal."
"Rem Hino itu baru diganti kampasnya dua minggu lalu," kata Surudi. "Saya yang antar ke bengkel Koh Aliong."
Polisi itu menutup papan klipnya. "Yang penting laporan sudah jadi, Pak. Biar cepat, keluarga bisa urus jenazah."
Surudi menahan lidahnya. Ia tahu apa yang tak terucap di kalimat itu — jangan diperpanjang, jangan dicari-cari. Ia melihat ke sekeliling, mencari wajah bercodet atau anak buah Gimbal yang biasa mangkal di pos-pos sepanjang lintas, tapi tak satu pun tampak. Mereka tak perlu hadir. Kehadiran mereka sudah cukup diwakili oleh kecepatan derek datang, oleh cepatnya laporan ditutup, oleh diamnya semua orang yang berdiri menonton.
Topan berdiri di sampingnya, wajahnya pucat, tangan masih menggenggam selang jerigen yang lupa dilepas. "Pak Ujang... yang waktu itu ngajak kumpul di rumah makan?"
Surudi mengangguk saja. Ia tak sanggup menambahkan kalimat.
Ia ingat Ujang di pertemuan itu, berdiri di atas bangku kayu, suaranya lantang menantang sopir-sopir tua yang sudah lebih dulu menyerah pada setoran. Ujang yang menolak membayar upeti meski ditinju di depan umum. Ujang yang, kata Sarki waktu itu, punya nyali seperti Surudi muda dua puluh tahun lalu — sebelum lutut ini berbunyi, sebelum mata ini kabur, sebelum ia belajar menghitung untung-rugi sebelum menghitung harga diri.
Sarki datang dari arah lain, mukanya keruh oleh debu dan sesuatu yang lebih dalam dari debu. "Kita harus bawa dia pulang," katanya pelan. "Bukan di sini tempatnya."
Mereka mengangkat apa yang tersisa dari kabin dengan bantuan tiga sopir lain yang awalnya berdiri menonton, lalu ikut memanggul begitu melihat Surudi turun tangan lebih dulu. Tak ada yang bicara banyak. Setiap orang seperti sedang menghitung sendiri, diam-diam, berapa lama lagi mereka sanggup melawan sebelum jalan ini memakan mereka juga.
Malam itu, di pelataran rumah makan tempat dulu Ujang berdiri di atas bangku berteriak lantang, tempat itu kosong. Sopir-sopir yang biasa berkumpul tak datang. Salah satu dari mereka, yang Surudi kenal wajahnya tapi lupa namanya, melipat spanduk kecil bertuliskan "Tolak Setoran" yang biasa digantung di kaca truk, memasukkannya ke kolong jok, seolah kain itu sesuatu yang memalukan untuk dilihat orang.
"Percuma, Rudi," kata orang itu, tak menatap mata Surudi. "Ujang aja abis. Kita apa."
Satu per satu mereka pergi, mesin dinyalakan, lampu sein berkedip menuju arah yang berbeda-beda, seperti kawanan yang baru saja kehilangan pemimpinnya dan tak lagi percaya pada arah yang sama. Sarki berdiri di samping Surudi, tak mengucap apa-apa, hanya menghela napas panjang yang terdengar seperti sesuatu yang patah di dadanya.
Surudi memandangi jalan yang mengular gelap ke arah Tikungan Seribu, jauh di depan sana, tempat kabut selalu turun lebih dulu sebelum matahari benar-benar terbit. Ia teringat wajah Ujang yang keras kepala, cara bicaranya yang tak kenal takut, caranya menatap Codet seperti menatap orang biasa, bukan raja jalan yang harus disembah. Ia teringat dirinya sendiri, dua puluh lima tahun lalu, sebelum ia belajar menunduk demi selamat.
Topan berdiri di sampingnya, diam, menunggu sesuatu yang tak sanggup ia minta.
"Dulu aku pikir jalan ini cuma soal siapa yang paling hafal tikungan," kata Surudi akhirnya, suaranya rendah, hampir hilang ditelan angin malam. "Sekarang aku tahu, jalan ini juga soal siapa yang berani berdiri waktu yang lain sudah lari."
Ia tak bicara lagi setelah itu. Ia hanya berjalan ke arah Hino tuanya, menepuk kap mesin sekali seperti menenangkan sesuatu yang hidup, lalu naik ke kabin. Di dalam dadanya, sesuatu yang selama ini ia tunda-tunda akhirnya mengeras jadi keputusan yang tak bisa ditarik lagi — bahwa ia tak akan pernah menyetor, tak akan pernah tunduk, apa pun harganya, sampai jalan ini kembali jadi milik orang-orang yang menghidupinya dengan keringat, bukan milik orang yang menguasainya dengan darah.