Gudang itu berdiri di belakang bekas penggilingan padi, di pinggir jalan tanah yang menikung ke arah Menggala. Surudi datang sebelum magrib, membawa Topan dan dua jerigen kosong yang rencananya diisi malam itu juga. Di halaman, empat truk sudah parkir menghadap ke luar, moncong siap kabur seperti yang mereka sepakati. Ujang menyambutnya dengan cengar-cengir yang belum bisa disembunyikan umurnya.
"Malam ini kita coba pompa yang pertama, Pak," kata Ujang. Tangannya menunjuk deretan drum yang tersusun rapi di dalam, bau solar menyengat bahkan dari pintu. "Tiga ribu liter. Cukup buat lima belas trip. Codet nggak bakal tahu dari mana kita ngisi."
Surudi tidak menjawab dulu. Ia berjalan mengelilingi bangunan, menyentuh dinding papan yang sudah lapuk, mengukur jarak ke jalan dengan mata yang dua puluh lima tahun terbiasa menaksir kelokan. Terlalu terbuka, pikirnya. Terlalu satu pintu. Tapi ia menahan lidahnya. Anak-anak muda ini sudah mempertaruhkan tabungan mereka. Ia tak mau jadi orang tua yang cuma bisa menakut-nakuti.
"Kalian pasang jaga?" tanyanya akhirnya.
"Dua orang di simpang," sahut Ujang. "Kalau ada mobil asing, mereka klakson tiga kali."
Topan berdiri di belakang Surudi, memegangi jerigen seperti anak sekolah memegangi tas. "Baunya kuat sekali, Pak," bisiknya. "Kalau ada percikan api—"
"Diam kau," potong Surudi, tapi pelan, karena anak itu benar. Ia tak sempat melanjutkan.
Klakson dari simpang tak pernah berbunyi. Yang berbunyi lebih dulu adalah suara sepeda motor, banyak, meraung dari arah kebun sawit di belakang gudang — arah yang tak dijaga siapa pun. Surudi menoleh dan melihat lampu-lampu kecil bergoyang di antara batang-batang sawit, mendekat cepat. Ia mengenali suara itu. Ia sudah pernah mendengarnya di warung tepi jalan, di jembatan timbang, di setiap tempat orang Codet muncul tanpa diundang.
"Keluar!" teriaknya. "Semua keluar dari dalam!"
Botol pertama pecah di atap seng. Api menjilat ke bawah dengan bunyi seperti kain robek. Botol kedua masuk lewat jendela, jatuh di antara drum, dan sekejap kemudian dunia di dalam gudang berubah jadi jingga. Panasnya menampar wajah Surudi dari jarak sepuluh meter. Ia mundur, melindungi mata dengan lengan, mencium bau rambutnya sendiri hangus di ujung.
Orang-orang berlarian. Ujang menjerit memanggil nama sopir-sopir lain. Seseorang menyalakan mesin truk dan menggeber keluar, menabrak pagar bambu. Di antara raung api dan teriakan, Surudi menghitung kepala secara naluri, kebiasaan lama seorang sopir yang tak pernah berangkat tanpa tahu berapa penumpang di kabinnya. Satu, dua, tiga, Ujang di sana, Sarki di sana memapah orang. Tapi ada satu yang kurang.
Topan.
"Topan!" Surudi berputar. Jerigen kosong tergeletak di ambang pintu yang sudah dijilat api. Anak itu tadi masuk — masuk untuk menyelamatkan drum, atau menyelamatkan sesuatu, otak mudanya yang bodoh mengira solar lebih berharga dari nyawa. "Topan! Keluar!"
Dari dalam terdengar batuk, lalu suara terjepit. Sarki mencekal lengan Surudi. "Jangan, Rud! Sebentar lagi drum meledak semua!"
Surudi menepis tangan kawan tuanya. Ia tahu Sarki benar. Ia tahu tubuhnya lima puluh tahun, matanya rabun, napasnya pendek. Ia tahu semua hitungan yang mengatakan jangan. Tapi ia juga tahu ia sudah menyeret anak itu ke rute ini, sudah mengajarinya membaca jalan, dan seorang guru tidak meninggalkan muridnya di dalam api.
Ia menarik napas dalam-dalam, seolah hendak menyelam, lalu menerobos.
Di dalam, asap lebih tebal dari kabut Tikungan Seribu mana pun. Panas mengunci dadanya. Surudi merunduk serendah mungkin, ke lantai, tempat udara masih bisa dihirup, dan merangkak mengikuti suara batuk. Api berjalan di dinding di kiri kanannya seperti binatang. Ia menemukan Topan terjepit di antara dua drum yang roboh, kaki tertindih, wajahnya belepotan jelaga.
"Pak—" Topan hampir tak bersuara. "Drumnya—"
"Persetan drumnya." Surudi mengunci gigi, menyorongkan bahu ke bawah drum, dan mendorong dengan seluruh punggung yang sudah dua puluh lima tahun membungkuk di balik kemudi. Sesuatu di pinggangnya menyentak, sakit yang tajam, tapi drum bergeser. Ia menarik lengan Topan, memanggulnya setengah, dan menyeret keduanya ke arah yang ia yakini pintu — karena melihat sudah tak mungkin, matanya cuma menangkap merah dan hitam.
Mereka jatuh keluar ke tanah tepat ketika drum pertama meledak. Ledakan itu mendorong punggung Surudi seperti tangan raksasa, melemparnya menelungkup ke atas Topan. Untuk beberapa detik ia tak mendengar apa-apa selain dengung. Lalu tanah kembali, dan langit malam, dan bau daging jerami terbakar bercampur solar.
Sarki dan Ujang menariknya menjauh. Surudi terbatuk-batuk, memuntahkan asap hitam, matanya berair deras. Di sampingnya Topan mengerang, hidup, kakinya lecet parah tapi hidup. Surudi memegang dada anak itu, merasakannya naik turun, dan baru setelah itu ia mengizinkan dirinya rebah di tanah, memandang gudang yang kini cuma kerangka api.
Di seberang halaman, di antara batang-batang sawit, sebuah bayangan berdiri menonton. Surudi mengenali potongan tubuh itu — Gimbal, dengan tangan di saku, tenang seperti orang menonton layar tancap. Ia tak buru-buru pergi. Ia ingin dilihat. Itulah pesannya: kami tahu segalanya, dan kalian tak punya tempat sembunyi.
Ujang berlutut di tanah, menangis tanpa suara, memandangi tabungan tiga puluh sopir yang jadi abu dalam sepuluh menit. "Habis," gumamnya. "Semuanya habis, Pak. Kita nggak punya apa-apa lagi."
Surudi tidak menjawab. Ia menatap api sampai matanya perih, sampai bayangan Gimbal lenyap ditelan kebun. Tiga ribu liter solar. Jalan keluar termudah yang mereka punya, cara bersih untuk lepas dari cengkeraman Codet tanpa perang — habis, sekejap, dengan satu botol bensin.
Ia bangkit perlahan, pinggangnya menjerit, dan berjalan ke arah Topan. Ia melepas kemejanya sendiri, membalutkan ke kaki anak itu yang berdarah. Tangannya bergetar, tapi bukan karena takut. Ia sudah kelewat tua untuk takut.
"Kau dengar aku," katanya kepada Topan, suaranya serak parau. "Solar bisa dibeli lagi. Nyawa nggak. Lain kali kau lari, jangan tengok ke belakang."
Topan mengangguk, air matanya membuat garis bersih di pipinya yang penuh jelaga.
Surudi berdiri menghadap reruntuhan. Ia sudah tahu, sekarang, jalan mudah itu tak ada. Codet tidak akan membiarkan mereka berdiri sendiri. Kalau begitu, pikirnya sambil mengusap wajah dengan tangan yang bau hangus, harus dengan cara yang tak bisa dibakar siapa pun — cara yang cuma ada di kepalanya, di hafalan tikungan yang tak dimiliki Codet. Api di belakangnya masih menyala tinggi, menerangi jalan tanah yang membelok ke arah utara, ke jalur yang selama ini ia hindari.