Malam itu pelataran rumah makan Bu Yuk di luar Menggala jadi lebih ramai dari biasanya, meski tak ada satu pun pembeli yang datang untuk makan. Delapan truk berjejer membentuk huruf U yang janggal, lampu sorot masing-masing dinyalakan dan diarahkan ke tengah, ke sebidang tanah kosong berdebu yang mendadak jadi ruang rapat paling terang di sepanjang lintas malam itu. Surudi turun dari kabin Hino-nya paling akhir, memastikan dulu tak ada yang membuntuti dari tikungan sebelum ia melangkah masuk ke lingkaran cahaya.
Ujang sudah berdiri di tengah, di atas bak terbuka sebuah pick-up butut, seperti orang yang berpidato tanpa mikrofon. Wajahnya masih memar tipis bekas bulan lalu, tapi matanya menyala jenis yang tak bisa dipadamkan pukulan.
"Ini bukan ajakan berkelahi," katanya, suaranya ditahan supaya tak terlalu jauh terdengar ke jalan raya. "Ini ajakan berhenti minta izin buat isi tangki sendiri."
Beberapa sopir tertawa kecil, getir. Surudi berdiri di pinggir, menyandarkan punggung ke ban serep truknya, menghitung siapa saja yang hadir. Delapan truk, sembilan sopir kalau Topan ikut dihitung meski anak itu cuma berdiri di belakangnya, tangan dimasukkan ke saku jaket, mendengarkan dengan wajah yang berusaha terlihat biasa saja.
"Kita semua tahu," Ujang melanjutkan, "solar di rute ini bukan cuma barang. Itu tali kekang. Codet nggak perlu pukul kita satu-satu kalau dia pegang tangki kita." Ia menunjuk ke arah selatan, ke arah pos-pos yang mereka semua kenal tapi tak pernah disebut namanya keras-keras. "Dia kuasai tiga SPBU besar sama dua pengecer jalan tikus. Cuma lima titik. Kalau kita bikin titik sendiri, keenam, yang dia nggak pegang—kita nggak perlu lewat dia lagi."
"Gampang diomong," sahut seorang sopir berbadan gempal yang Surudi kenal sekilas sebagai sopir tangki air, "susah dikerjain. Modal dari mana? Tanah siapa?"
"Tanah punya paman saya," jawab Ujang cepat, seperti sudah menghitung ini jauh sebelum malam itu. "Bekas gudang kopra, di pinggir jalan lama sebelum Kayuagung. Sudah nggak dipakai tiga tahun. Tinggal benerin atap sama pasang tangki timbun."
"Terus solarnya?" Surudi akhirnya bersuara, dan semua kepala menoleh ke arahnya, seolah menunggu ia yang memutuskan sah tidaknya rencana ini. Ia sudah biasa dengan tatapan seperti itu belakangan, sejak kabar lolos-tanpa-setor menyebar. Ia tak menyukainya, tapi tak bisa menolaknya juga.
"Patungan," kata Ujang. "Tiap sopir setor sekian buat modal awal, beli dari agen resmi di luar rute ini, bukan dari pengecer sini. Angkut sekali jalan pakai truk yang belum dikenal Codet. Setelah itu, kita punya cadangan sendiri. Isi ulang tiap ada yang sempat ke kota."
Sarki, yang duduk di atas jok mobilnya sendiri sambil menghisap rokok kretek, mendengus pelan. "Rapi di mulut. Di jalan, ada seribu cara itu bocor."
"Makanya harus rapat," Ujang menoleh padanya, "harus ada yang jaga mulut, harus tahu siapa boleh tahu lokasi persisnya."
Surudi melangkah maju satu-dua tapak, masuk lebih dalam ke lingkaran cahaya lampu truk, dan untuk sesaat bayangannya sendiri membentang panjang ke tanah berdebu di depan kaki para sopir yang duduk. Ia sudah menghitung ini di kepalanya sejak malam ia dan Topan menggambar ulang peta Codet di kertas nasi bungkus, menandai lima titik yang selama ini jadi urat nadi kartel. Ia tahu logikanya benar. Yang tak bisa ia hitung adalah manusia yang akan menjalankannya.
"Aku ikut," katanya akhirnya, pendek, tanpa pidato. "Tapi ada syarat. Nggak semua orang di sini tahu lokasi gudangnya sekaligus. Cukup tiga, empat orang yang paling dipercaya. Sisanya cuma tahu ada, nggak tahu di mana."
"Kenapa begitu?" tanya sopir gempal tadi, agak tersinggung.
"Karena kalau satu mulut bocor," Surudi menjawab tenang, "yang hilang cuma satu titik, bukan semuanya. Aku cuma nggak mau ini jadi target empuk sebelum berdiri."
Ujang mengangguk, wajahnya untuk pertama kali malam itu terlihat sedikit lega, seolah ucapan Surudi memberi rencananya tulang yang lebih keras dari sekadar semangat muda. "Setuju. Pak Surudi, Sarki, saya, sama satu lagi—" ia melirik ke arah kerumunan, memilih, "Ridwan, yang bawa tangki BBM itu, karena truknya paling gampang nyamar kalau mesti angkut solar diam-diam."
Satu per satu tangan terangkat, bukan tanda tepuk atau sorak, tapi gerakan pelan orang-orang yang menyetor kepercayaan yang sudah lama mereka simpan rapat-rapat. Uang dikumpulkan malam itu juga, lembaran lusuh dari saku celana yang berbau keringat dan solar, dihitung di atas kap mesin salah satu truk di bawah cahaya senter Topan.
Surudi menghitung jumlahnya dalam hati—jauh dari cukup untuk membeli tangki timbun yang layak, tapi cukup untuk memulai. Ia menoleh ke Topan, yang sejak tadi diam memperhatikan dari pinggir, dan untuk sekali ini menangkap sesuatu di wajah anak itu yang bukan kecurigaan atau kecanggungan, melainkan sesuatu yang lebih dekat dengan harapan.
"Ini bakal berat," kata Surudi pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk siapa pun.
"Semua yang berarti emang berat, Pak," sahut Ujang, masih berdiri di atas bak pick-up, menatap ke arah selatan tempat cahaya kota Codet berkuasa memantul samar di langit malam. "Tinggal kita yang mesti nekat duluan."
Truk-truk mulai menyalakan mesin satu demi satu, siap kembali ke jalan masing-masing sebelum subuh menyingsing dan pos-pos Codet mulai ramai lagi. Surudi naik ke kabinnya, Topan mengekor di belakang, dan sebelum pintu tertutup ia sempat menoleh sekali lagi ke arah lingkaran cahaya yang perlahan padam satu per satu—delapan truk, satu rencana, dan seribu cara ia tahu benar bagaimana semua itu bisa runtuh sebelum sempat berdiri.